Modul Sejarah Kelas XI IPS

PERKEMBANGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU – BUDHA DI INDONESIA

Munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh persentuhan kebudayaan antara daerah Nusantara dengan India sebagai tempat kelahiran kedua agama tersebut. Persentuhan kebudayaan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari hubungan yang dilakukan antara orang-orang India dengan orang-orang yang ada di Nusantara, terutama karena daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara India dan Cina. Hubungan perdagangan yang semakin lama semakin intensif menimbulkan pengaruh terhadap masuknya pengaruh¬pengaruh kebudayaan India di Nusantara. Dengan kata lain, terjadi proses akulturasi antara kebudayaan India dengan kebudayaan Nusantara. Demikian juga dengan agama Hindu-Buddha menjadi agama yang dianut oleh penduduk di Nusantara dan menjadi pendorong muncul dan berkembangnya negara¬negara kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.

Gambar 1.1
Peta pengaruh para pelaut Cina
(Sumber: Chalid Latif: Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 7)

A. TEORI TENTANG MASUK DAN BERKEMBANGNYA KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

Untuk memahami bagaimana proses masuk dan berkembangnya agama dan ke¬budayaan Hindu-Buddha di Indonesia, kita perlu mengkaji pendapat yang dikemukakan oleh para ahli. Pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tersebut merupakan sebuah hipotesis (dugaan sementara) yang masih memerlukan pembuktian yang akurat. Akan tetapi hipotesis-hipotesis tersebut sangat berguna dalam memberikan pemahaman pada kita tentang bagaimana proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Tugas kamu untuk menganalisis lebih lanjut hipotesis-hipotesis tersebut, sehingga kamu dapat memilih salah satu hipotesis yang menurut kamu paling mendekati kebenaran. Tentu saja pilihan kamu harus dilandaskan pada argumentasi dan logika yang kuat disertai dengan data, fakta dan bukti-bukti yang akurat.

Berikut ini adalah hipotesis-hipotesis yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Hipotesis-hipotesis tersebut dibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu teori kolonisasi dan teori arus balik.
1. Teori kolonisasi
Teori ini berusaha menjelaskan proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia dengan menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan pengaruhnya di Indonesia. Berdasarkan teori ini, orang Indonesia sendiri sangat pasif, artinya mereka hanya menjadi objek penerima pengaruh kebudayaan India tersebut. Teori kolonisasi ini terbagi dalam beberapa hipotesis, yaitu sebagai berikut.

a. Hipotesis Waisya
Menurut NJ. Krom, proses terjadinya hubungan antara India dan Indonesia karena adanya hubungan perdagangan, sehingga orang-orang India yang datang ke Indonesia sebagian besar adalah para pedagang. Perdagangan yang terjadi pada saat itu menggunakan jalur laut dan teknologi perkapalan yang masih banyak tergantung pada angin musim. Hal ini mengakibatkan dalam proses tersebut, para pedagang India harus menetap dalam kurun waktu tertentu sampai datangnya angin musim yang memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan. Selama mereka menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Mulai dari sini pengaruh kebudayaan India menyebar dan menyerap dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Pendapat Krom tersebut didasarkan penelaahan dia pada proses Islamisasi di Indonesia yang dilakukan oleh para pedagang Gujarat. Bukan hal yang mustahil, proses masuknya budaya Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan dengan cara yang sama. Namun, teori ini memiliki kelemahan, yaitu para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta Brahmana. Namun bila menilik peninggalan prasasti yang dikeluarkan oleh negara-negara kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, sebagian besar menggunakan bahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa. Dengan demikian, timbul pertanyaan: Mungkinkah para pedagang India mampu membawa pengaruh kebudayaan yang sangat tinggi ke Indonesia, sedangkan di daerahnya sendiri kebudayaan tersebut hanya milik kaum Brahmana? Selain itu, terdapat kelemahan lain dalam hipotesis ini yaitu dengan melihat peta persebaran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia yang lebih banyak berada di pedalaman. Namun apabila pengaruh tersebut dibawa oleh para pedagang India, tentunya pusat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha akan lebih banyak berada di daerah pesisir pantai.

b. Hipotesis Ksatria
Ada tiga ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha dilakukan oleh golongan ksatria, yaitu sebagai berikut.

1) C.C Berg
C.C. Berg mengemukakan bahwa golongan yang turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah para petualang yang sebagian besar berasal dari golongan Ksatria. Para Ksatria ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para Ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah seorang putri dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinannya ini memudahkan bagi para Kesatrian untuk menyebarkan tradisi Hindu Buddha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Berkembanglah tradisi Hindu-Buddha dalam masyarakat Indonesia.

2) Mookerji
Dia mengatakan bahwa golongan Ksatria (tentara) dari India yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Para Ksatria ini kemudian membangun koloni-koloni yang akhirnya berkembang menjadi sebuah kerajaan. Para koloni ini kemudian mengadakan hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di India dan mendatangkan para seniman yang berasal dari India untuk membangun candi-candi di Indonesia.

3) J.L Moens
Dia mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5 dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Perlu diketahui bahwa sekitar abad ke-5, banyak kerajaan-kerajaan di India Selatan yang mengalami kehancuran. Ada di antara para keluarga kerajaan tersebut, yaitu para Ksatrianya yang melarikan diri ke Indonesia. Mereka ini selanjutnya mendirikan kerajaan di kepulauan Nusantara.
Kekuatan hipotesis Ksatria terletak pada kenyataan bahwa semangat berpetualang pada saat itu umumnya dimiliki oleh para Ksatria (keluarga kerajaan). Sementara itu, kelemahan hipotesis yang dikemukakan oleh Berg, Moens, dan Mookerji yang menekankan pada peran para Ksatria India dalam proses masuknya kebudayaan India ke Indonesia terletak pada hal-hal sebagai berikut, yaitu:
1) Para Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa; 2) Apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan¬kerajaan India, tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti) yang menggambarkan penaklukkan tersebut. Akan tetapi, baik di India maupun Indonesia tidak ditemukan prasasti semacam itu. Adapun prasasti Tanjore yang menceritakan tentang penaklukkan kerajaan Sriwijaya oleh salah satu kerajaan Cola di India, tidak dapat dipakai sebagai bukti yang memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penaklukkan tersebut terjadi pada abad ke-11 sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harus menunjukkan pada kurun waktu yang lebih awal.

c. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini menyatakan bahwa tradisi India yang menyebar ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana. Pendapat ini dikemukan oleh JC.Van Leur. Berdasarkan pada pengamatannya terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan¬kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia, terutama pada prasasti¬prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, maka sangat jelas itu adalah pengaruh Brahmana. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa kaum Brahmanalah yang menguasai bahasa dan huruf itu, sehingga pantas jika mereka yang memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.
Akan tetapi, bagaimana mungkin para Brahmana bisa sampai ke Indonesia yang terpisahkan dengan India oleh lautan. Dalam tradisi agama Hindu terdapat pantangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan, sehingga hal ini menjadi kelemahan hipotesis ini.
2. Teori Arus Balik
Pendapat yang dikemukakan tersebut di atas mendapat kritikan dari
F.D.K Bosch. Adapun kritikan yang dikemukakannya adalah sebagai berikut.
a. Berdasarkan pada peninggalan-peninggalan yang ada, ternyata teori kolonisasi tidak mempunyai bukti yang kuat. Untuk hipotesa Waisya, tidak terbukti bahwa kerajaan awal di Indonesia yang bercorak Hindu-Buddha ditemukan di pesisir pantai, melainkan terletak di pedalaman. Kritikan untuk hipotesa Ksatria, ternyata tidak ada jaya prasasti yang menyatakan daerah atau kerajaan yang ada di Indonesia pernah ditaklukkan atau dikuasai oleh para Ksatria dari India.
b. Bila ada perkawinan antara golongan Ksatria dengan putri pribumi dari Indonesia, seharusnya ada keturunan dari mereka yang ditemukan di Indonesia. Pada kenyataannya, hal itu tidak ditemukan.
c. Dilihat dari hasil karya seni, terdapat perbedaan pembangunan antara candi-candi yang dibangun di Indonesia dengan candi-candi yang dibangun di India.
d. Kritikan yang lain adalah dilihat dari sudut bahasa. Bahasa Sanskerta hanya dikuasai oleh para Brahmana, tetapi kenapa bahasa yang digunakan oleh masyarakat pada waktu itu adalah bahasa yang digunakan oleh kebanyakan orang India.

Selanjutnya, F.D.K Bosch punya pendapat lain. Teori yang dikemukakan oleh Bosch ini dikenal dengan teori Arus Balik. Menurut teori ini, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah mereka yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Buddha, yaitu para intelektual yang ikut menumpang kapal-kapal dagang. Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya tersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Buddha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia yang lain.
Bukti-bukti dari pendapat di atas adalah adanya prasasti Nalanda yang menyebutkan bahwa Balaputradewa (raja Sriwijaya) telah meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan raja Sriwijaya itu ternyata dikabulkan. Dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu menuntut ilmu di sana, mereka balik ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.

B. BENTUK-BENTUK KEBUDAYAAN HINDU- BUDDHA YANG MASUK KE INDONESIA

Masuknya kebudayaan India ke Indonesia telah membawa pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia. Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki kebudayaan asli, banyak mengadopsi dan mengembangkan budaya India dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat tidak begitu saja menerima budaya-budaya baru tersebut. Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan yang ada di Indonesia yang disebut dengan proses akulturasi kebudayaan.
Dalam bidang agama juga lahir sinkretisme, yaitu perpaduan antara agama Hindu-Buddha dengan kepercayaan yang telah ada dan berkembang di masyarakat Indonesia pada saat itu. Sehingga agama Hindu-Buddha yang dianut oleh bangsa Indonesia pada aman kerajaan-kerajaan sangat berbeda dengan agama Hindu-Buddha yang ada di India. Masuknya agama Hindu dan Buddha tidak serta merta menghilangkan unsur budaya lama yang telah berkembang dalam masyarakat Indonesia. Salah satu contoh yang sangat mencolok dalam kehidupan masyarakat Hindu di Indonesia misalnya dalam sistem kasta. Sistem kasta di Indonesia yang mengadopsi dari agama Hindu tidak sama dengan sistem kasta yang berkembang dari tanah kelahiran agama tersebut yaitu India. Baik dari ciri-ciri maupun keketatannya tidak menggambarkan keadaan seperti sistem kasta di India. Bangsa Indonesia melaksanakan teori tentang kasta, tetapi tidak memindahkan wujudnya seperti yang berkembang di India, melainkan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang sudah berlaku sebelumnya.
Beberapa unsur kebudayaan yang berkembang pada aman kerajaan Hindu-Buddha antara lain, seni bangunan, seni ukir, seni sastra, dan seni patung. Salah satu hasil seni bangunan yang paling penting dalam perkembangan seni bangunan di Indonesia adalah candi. Demikian juga halnya dalam seni pembuatan candi yang merupakan pengaruh dari India, akan tetapi dalam penerapannya menggunakan unsur-unsur budaya yang telah berkembang sebelumnya di tanah Indonesia. Pembuatan candi yang secara teoritis menggunakan dasar-dasar yang tercantum dalam kitab Silpasastra akan tetapi pada tahap pelaksanaan dan hasilnya memperlihatkan corak budaya asli Indonesia. Silpasastra ialah sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.

Pembuatan candi di India selalu menunjukkan fungsinya yang utama yaitu sebagai tempat peribadatan. Sementara candi-candi yang terdapat di Indonesia tidak hanya difungsikan sebagai tempat peribadatan tetapi juga tempat pemakaman raja atau orang-orang yang dimuliakan. Hal ini tampaknya dipahami oleh masyarakat Indonesia bahwa kata candi berasal dari nama Durga sebagai Dewi Maut yaitu Candika. Dari kata Candika menunjukkan bahwa candi merupakan tempat untuk memuliakan orang yang telah meninggal, khususnya untuk para raja dan orang-orang terkemuka.
Terdapat perbedaan fungsi candi antara agama Hindu dan Buddha. Dalam agama Hindu, candi adalah tempat penguburan abu jena ah. Di Bali upacara pembakaran mayat dinamakan Ngaben. Di dalam candi Hindu biasanya terdapat patung-patung dari para penguasa (raja) atau orang-orang terkenal yang dijelmakan sebagai dewa. Dalam agama Buddha, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan. Arca yang ada dalam candi Buddha bukanlah arca perwujudan dari raja.
Candi-candi yang bercorak agama Hindu-Buddha banyak ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
1. Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta
Di Jawa Tengah dan Yogyakarta banyak ditemukan candi, baik yang bercorak Hindu maupun Buddha, di antaranya sebagai berikut.
a. Candi Borobudur terletak di desa Budur, Magelang. Candi ini bercorak Buddha dan didirikan oleh keluarga Syailendra pada aman Mataram Lama. Bentuk candi Borobudur yang berupa punden berundak-undak menggambarkan adanya akulturasi antara budaya India dengan budaya asli Indonesia dari aman megalithikum. Berdasarkan ajaran Buddha Mahayana, candi Borobudur merupakan Dasya-bodhisatwa-bhumi, artinya tempat mencapai kebuddhaan melalui sepuluh tingkat bodhisatwa. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat yang terbagi dalam tiga bagian yaitu kamadhatu (merupakan tingkatan paling rendah atau disebut kaki candi, pada tingkatan manusia masih terpengaruh oleh keduniawian), Rupadhatu (merupakan bagian lorong-lorong dengan dinding-dinding yang penuh dengan hiasan dan relief, pada tingkat ini manusia masih terikat pada bentuk keduniawian, tetapi telah insyaf untuk mencari kebenaran), A-rupadhatu (bagian ini terdiri atas lantai yang bulat, di sini terdapat 72 stupa dan stupa induk dipuncaknya yang sekaligus merupakan mahkota candi Borobudur. Hal ini menggambarkan manusia telah dapat membebaskan diri sama sekali dari nafsu keduniawian dan hanya satu keinginan, yaitu mencapai moksa).

Gambar 1.2
Candi Borobudur dibangun pada masa
pemerintahan Raja Samaratungga
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 9)

b. Candi Mendut dan candi Pawon terletak tidak jauh dari candi Borobudur. Kedua candi ini bercorak Buddha dan merupakan candi tiga serangkai dengan candi Borobudur. Ketiga candi ini terletak pada satu garis lurus, hal ini sengaja dilakukan berdasarkan ajaran Buddha Mahayana. Menurut ajaran agama Buddha Mahayana, untuk mencapai tujuan terakhir (moksa), yaitu mencapai kedudukan sebagai Buddha harus melalui jalan secara bertahap. Tahap-tahap tersebut terdiri atas dua bagian yaitu Dasyabodhisatwabhumi disebut tingkat lokattara (tingkat di atas dunia), sebelum sampai ke tingkat lokattara lebih dahulu harus menjalani tingkat persiapan. Tingkat persiapan tersebut terdiri atas dua tahap pula, yaitu Sambharamarga dan Prayogamarga. Kedua tahap ini merupakan tahap kehidupan di dunia atau laukika. Jadi dari paham tersebut dapat diterangkan bahwa candi Borobudur yang bersifat lokattara dibangun di atas bukit, sedangkan candi Mendut dan candi Pawon yang bersifat laukika dan masing masing menggambarkan Sambharamarga dan Prayogamarga dibangun di atas permukaan bumi (daerah pedataran).

Gambar 1.3 Candi Mendut (Sumber: Suprihadi, dkk, 1999, Atlas Sejarah, halaman cover belakang bagian dalam)
Gambar 1.4 Candi Pawon (Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 16)

c. Candi Prambanan dikenal pula dengan nama Candi Lorojonggrang, bercorak Hindu dan terletak di desa Prambanan. Relief candi Prambanan mengambil kisah Rama dari kitab Ramayana. Relief ini ditatahkan pada dinding lorong di atas candi pertama, yang mengelilingi kaki candi kedua.

Gambar 1.5 Candi Prambanan (Sumber: Suprihadi, dkk. 1999, Atlas Sejarah, halaman 20)

d. Kelompok candi Dieng, yang terdapat di Pegunungan Dieng letaknya sekitar 25 kilometer dari kota Wonosobo. Candi-candi ini bercorak Hindu. Di dataran tinggi Dieng terdapat beberapa buah candi antara lain Candi Bima, Candi gatotkaca, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Subadra.

Gambar 1.6 Kelompok Candi Dieng (Sumber: us4.pixagogo)

e. Candi lainnya adalah Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Latu, Karang Anyar, Candi Sarjiwan terletak di selatan Prambanan, Candi Lumbung di selatan Candi Sewu, dan Candi Sari atau Candi Bendah lokasinya tidak jauh dari Candi Kalasan

2. Candi-candi di Jawa Timur
Begitu pula halnya di Jawa Timur, banyak ditemukan candi, di antaranya sebagai berikut.
a. Candi Badut terletak di Desa Dinoyo, sebelah barat laut Malang, merupakan candi bercorak Hindu yang didirikan sekitar abad ke-8 M. Candi Singhasari terletak di Desa Candinegoro sekitar 10 km dari kota Malang. Candi ini berasal dari abad ke-14 dan dihubungkan dengan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari.

Gambar 1.7a Candi Badut Sumber: Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Jilid 2, halaman 41) Gambar 1.7b Candi Singhasari Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah Kebudayaan Jilid 2, halaman 67)

b. Candi Jago (Candi Jajaghu) terletak 18 kilometer dari kota Malang. Candi ini merupakan candi bercorak Siwa-Buddha dan bentuknya berundak¬undak tiga buah serta di halaman candi terdapat beberapa patung Buddha. Candi ini dibangun pada masa Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari.

(Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah Kebudayaan Jilid 2, halaman 65)

c. Candi Kidal terletak sekitar 7 kilometer sebelah tenggara dari candi jago. Candi ini merupakan bangunan suci untuk memuliakan raja Anusapati Raja Singhasari.

Gambar 1.9 Candi Kidal
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 11)

d. Candi Panataran terletak sekitar 11 kilometer dari kota Blitar. Candi Panataran merupakan kompleks candi yang terbesar di Jawa Timur dan merupakan candi Siwa.

Gambar 1.10
Kompleks Candi Panataran
(Sumber: my-indonesia.info)

e. Candi Jajawa (Candi Jawi) terletak di Gunung Welirang yang merupakan makam Raja Kertanegara.

f. Candi Singhasari yang terletak 10 kilometer dari kota Malang. Candi sebagai tempat pendarmaan Raja Kertanegara yang digambarkan sebagai Bhairawa (Siwa-Buddha)

Gambar 1.11 Candi Singhasari
(Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Jilid 2, halaman 67)

g. Candi Rimbi terletak di Desa Pulosari, Jombang yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.
h. Candi Bajang Ratu yang merupakan gapura di daerah Trowulan bekas peninggalan kerajaan Majapahit.
i. Candi Sumber Awan bercorak Buddha sebagai penghargaan atas kunjungan Raja Hayam Wuruk ke daerah kaki Gunung Arjuna.

Apabila dibandingkan antara kelompok-kelompok candi yang terdapat di Jawa Tengah dengan Jawa Timur terdapat hal-hal yang sangat menarik. Kelompok candi di Jawa Tengah seperti Borobudur, Pawon, Mendut dan Prambanan yang sebagian besar merupakan peninggalan kerajaan Mataram adalah kelompok bangunan candi yang difungsikan sebagai tempat pemujaan keagamaan, baik Hindu ataupun Buddha. Sementara kelompok candi yang terdapat di Jawa Timur seperti candi Kidal, Jago, Panataran, merupakan candi yang difungsikan sebagai makam keluarga raja. Jumlah candinya lebih banyak tetapi wujudnya kecil-kecil bila dibandingkan dengan kelompok candi Borobudur atau Prambanan. Candi-candi yang terdapat di Jawa Timur merupakan peninggalan kerajaan Singhasari sampai Majapahit. Meskipun berwujud candi Siwa atau Buddha, tetapi pada hakikatnya adalah candi makam dan bukan untuk pemujaan Siwa atau Buddha. Hal ini memperlihatkan bahwa pada aman Singhasari sampai Majapahit telah terjadi pembauran antara kepercayaan asli yang berupa pemujaan arwah leluhur dengan kepercayaan Siwa dan Buddha.

3. Candi di Jawa Barat
Di Jawa Barat ditemukan candi yang bercorak Siwa, yaitu candi Cangkuang terletak di daerah Leles, Garut. Candi ini bentuknya sangat sederhana dan diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi. Selain itu, di daerah Jawa Barat ditemukan beberapa arca dan bangunan suci, baik yang berbentuk bangunan teras berundak, altar maupun percandian seperti Batu Kalde di Pantai Pangandaran, Batujaya dan Cibuaya di Karawang, Astana Gede di Kawali dan Bojongmenje di daerah Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Gambar 1.12 Candi Cangkuang (Sumber: Rashad Herman, dkk, 1999, Atlas Sejarah, halaman cover belakang bagian dalam)

4. Candi-candi di luar Jawa
Di luar Jawa terdapat juga candi-candi, seperti berikut ini.
a. Di pulau Sumatra terdapat beberapa candi seperti Candi Muara Jambi di Jambi yang memperlihatkan corak Buddha Mahayana. Ada juga Candi Muara Takus di Riau (terbuat dari batu bata dan terdiri atas beberapa bangunan stupa). Di komplek Candi Muara Takus ada beberapa candi seperti Candi Tua, Candi Bungsu, dan Candi Mahligai. Kompleks percandian (stupa) lainnya adalah Komplek Candi Padang Lawas yang terletak di Sumatra Utara dan bercorak Siwaisme dan Budhisme. Di daerah Tapanuli terdapat komplek Candi Gunung Tua yang bercorak Buddha.

Gambar 1.13 Candi Muara Takus
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 8)

b Di Kalimantan Selatan ditemukan sebuah candi yaitu Candi Agung di daerah Amuntai.
c. Di Bali terdapat Candi Padas atau Candi Gunung Kawi yang terletak di desa Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Candi ini dipahatkan pada dinding batu yang keras dan merupakan tempat pemujaan Raja Anak Wungsu putra terakhir dari Raja Udayana.

Gambar 1.14 Kelompok candi Padas di Gunung Kawi (Tampaksiring) Bali (Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah Kebudayaan Jilid 2, halaman 53)

Akulturasi antara kebudayaan lokal yang berkembang sebelum masuknya pengaruh Hindu dengan budaya agama Hindu jelas terlihat pada beberapa bangunan pura yang ditemukan di Bali. Pengaruh aman megalithikum dengan budaya Hindu tampak terlihat dari bangunan pura yang mirip dengan bangunan punden berundak-undak. Beberapa benda yang berasal dari budaya megalithikum tetap dipelihara dan disandingkan dengan patung-patung agama Siwa dan Buddha, misalnya beberapa peti mayat (sarcophagus) sampai sekarang masih ditemukan di beberapa pura di Bali yang dianggap suci. Bentuk akulturasi ini dapat kita lihat dari penyebutan atau pemberian nama terhadap para dewa yang memperlihatkan unsur-unsur lokalitas wilayah Bali. Misalnya nama Dewa Betara Da Tonta yang bisa kita temukan di daerah Trunyan, Bali, memperlihatkan perpaduan nama unsur asli daerah Bali dengan sedikit bahasa Sanskerta. Selain dari nama, bentuk Dewa ini memiliki kemiripan dengan arca dari aman megalithikum.
Pada bentuk fisik bangunan candi di Indonesia, seperti candi Borobudur, terdapat punden berundak-undak yang merupakan kebudayaan asli bangsa Indonesia pada aman megalithikum. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi antara kebudayaan India dengan kebudayaan Indonesia asli dalam seni bangunan. Ukiran atau relief yang ada pada dinding candi, banyak dipengaruhi oleh kebudayaan India, berupa gambaran sehari-hari kehidupan manusia, ataupun cerita dari kitab Ramayana dan Mahabharata.
Ditemukannya prasasti di Kalimantan Timur, adalah bukti pertama kali adanya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia. Prasasti itu menandakan ada Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Tulisan pada batu yang berbentuk yupa itu menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada perkembangan selanjutnya, ditemukan juga prasasti-prasasti di daerah lain seperti Jawa dan Sumatra, peninggalan Kerajaan Tarumanagara, Mataram Lama, dan Sriwijaya, yang semuanya mendapat pengaruh unsur-unsur budaya India terutama unsur¬unsur Hindu-Buddha.
Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, antara lain sebagai berikut.
1. Bidang agama, yaitu berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuk pengaruh India, kepercayaan yang berkembang di Indonesia masih bersifat animisme dan dinamisme. Masyarakat pada saat itu melakukan pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan benda-benda pusaka tertentu serta kepercayaan pada kekuatan-kekuatan alam. Dengan masuknya pengaruh Hindu-Buddha, kepercayaan asli bangsa Indonesia ini kemudian berakulturasi dengan agama Hindu-Buddha. Hal ini terbukti dari beberapa upacara keagamaan Hindu-Buddha yang berkembang di Indonesia walaupun dalam beberapa hal tidak seketat atau mirip dengan tata cara keagamaan yang berkembang di India. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam tatacara pelaksanaan upacara keagamaan mengalami proses sinkretisme antara kebudayaan agama Hindu-Buddha dengan kebudayaan asli bangsa Indonesia.

2. Bidang politik dan pemerintahan, pengaruhnya terlihat jelas dengan lahirnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia tampaknya belum mengenal corak pemerintahan dengan sistem kerajaan. Sistem pemerintahan yang berlangsung masih berupa pemerintahan kesukuan yang mencakup daerah-daerah yang terbatas. Pimpinan dipegang oleh seorang kepala suku bukanlah seorang raja. Dengan masuknya pengaruh India, membawa pengaruh terhadap terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Kerajaan bercorak Hindu antara lain Kutai, Tarumanagara, Kediri, Majapahit dan Bali, sedangkan kerajaan yang bercorak Buddha adalah Kerajaan Sriwijaya. Hal yang menarik di Indonesia adalah adanya kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha yaitu Kerajaan Mataram lama.

3. Bidang pendidikan membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana dan mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan. Akan tetapi lembaga pendidikan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Bukti¬- bukti yang menunjukkan telah berkembangnya pendidikan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, antara lain adalah:

a. Dalam catatan perjalanan I-Tsing, seorang pendeta yang berasal dari Cina, menyebutkan bahwa sebelum dia sampai ke India, dia terlebih dahulu singgah di Sriwijaya. Di Sriwijaya I-Tsing melihat begitu pesatnya pendidikan agama Buddha, sehingga dia memutuskan untuk menetap selama beberapa bulan di Sriwijaya dan menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha bersama pendeta Buddha yang ternama di Sriwijaya, yaitu Satyakirti. Bahkan I-Tsing menganjurkan kepada siapa saja yang akan pergi ke India untuk mempelajari agama Buddha untuk singgah dan mempelajari terlebih dahulu agama Buddha di Sriwijaya. Berita I-Tsing ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Buddha di Sriwijaya sudah begitu maju dan tampaknya menjadi yang terbesar di daerah Asia Tenggara pada saat itu.
b. Prasasti Nalanda yang dibuat pada sekitar pertengahan abad ke¬9, dan ditemukan di India. Pada prasasti ini disebutkan bahwa raja Balaputradewa dari Suwarnabhumi (Sriwijaya) meminta pada raja Dewapaladewa agar memberikan sebidang tanah untuk pembangunan asrama yang digunakan sebagai tempat bagi para pelajar agama Buddha yang berasal dari Sriwijaya. Berdasarkan prasasti tersebut, kita bisa melihat begitu besarnya perhatian raja Sriwijaya terhadap pendidikan dan pengajaran agama Buddha di kerajaannya. Hal ini terlihat dengan dikirimkannya beberapa pelajar dari Sriwijaya untuk belajar agama Buddha langsung ke daerah kelahirannya yaitu India. Tidak mustahil bahwa sekembalinya para pelajar ini ke Sriwijaya maka mereka akan menyebarluaskan hasil pendidikannya tersebut kepada masyarakat Sriwijaya dengan jalan membentuk asrama-asrama sebagai pusat pengajaran dan pendidikan agama Buddha.
c. Catatan perjalanan I-Tsing menyebutkan bahwa pendeta Hui-Ning dari Cina pernah berangkat ke Ho-Ling (salah satu kerajaan Buddha di Jawa). Tujuannya adalah untuk bekerja sama dengan pendeta Ho-Ling yaitu Jnanabhadra untuk menerjemahkan bagian terakhir kitab Nirwanasutra. Dari berita ini menunjukkan bahwa di Jawa pun telah dikenal pendidikan agama Buddha yang kemudian menjadi rujukan bagi pendeta yang berasal dari daerah lain untuk bersama¬sama mempelajari agama dengan pendeta yang berasal dari Indonesia.
d. Pada prasasti Turun Hyang, yaitu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga menyebutkan tentang pembuatan Sriwijaya Asrama oleh Raja Airlangga. Sriwijaya Asrama merupakan suatu tempat yang dibangun sebagai pusat pendidikan dan pengajaran keagamaan. Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Raja Airlangga terhadap pendidikan keagamaan bagi rakyatnya dengan memberikan fasilitas berupa pembuatan bangunan yang akan digunakan sebagai sarana pendidikan dan pengajaran.

e. Istilah surau yang digunakan oleh orang Islam untuk menunjuk lembaga pendidikan Islam tradisional di Minangkabau sebenarnya berasal dari pengaruh Hindu-Buddha. Surau merupakan tempat yang dibangun sebagai tempat beribadah orang Hindu-Buddha pada masa Raja Adityawarman. Pada masa itu, surau digunakan sebagai tempat berkumpul para pemuda untuk belajar ilmu agama. Pada masa Islam kebiasaan ini terus dilajutkan dengan mengganti fokus kajian dari Hindu-Buddha pada ajaran Islam.
4. Bidang sastra dan bahasa. Dari segi bahasa, orang-orang Indonesia mengenal bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, seni sastra sangat berkembang terutama pada aman kejayaan kerajaan Kediri. Karya sastra itu antara lain,
a. Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa yang disusun pada masa pemerintahan Airlangga.
b. Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh disusun pada Zaman kerajaan Kediri.
c. Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan Kediri.
d. Arjuna Wijaya dan Sutasoma, karya Mpu Tantular yang disusun pada Zaman kerajaan Majapahit.
e. Negarakertagama, karya Mpu Prapanca disusun pada aman kerajaan Majapahit.
f. Wretta Sancaya dan Lubdhaka, karya Mpu Tanakung yang disusun pada Zaman kerajaan Majapahit.

5. Bidang seni tari. Berdasarkan relief-relief yang terdapat pada candi¬candi, terutama candi Borobudur dan Prambanan memperlihatkan adanya bentuk tari-tarian yang berkembang sampai sekarang. Bentuk-bentuk tarian yang digambarkan dalam relief memperlihatkan jenis tarian seperti tarian perang, tuwung, bungkuk, ganding, matapukan (tari topeng). Tari-tarian tersebut tampaknya diiringi dengan gamelan yang terlihat dari relief yang memperlihatkan jenis alat gamelan yang terbatas seperti gendang, kecer, gambang, saron, kenong, beberapa macam bentuk kecapi, seruling dan gong.
6. Seni relief pada candi yang kemudian menghasilkan seni pahat. Hiasan pada candi atau sering disebut relief yang terdapat pada candi-candi di Indonesia didasarkan pada cerita-cerita epik yang berkembang dalam kesusastraan yang bercorak Hindu ataupun Buddha. Pemilihan epik sebagai hiasan relief candi dikenal pertama kali pada candi Prambanan yang dibangun pada permulaan abad ke-10. Epik yang tertera dalam relief candi Prambanan mengambil penggalan kisah yang terdapat dalam cerita Ramayana. Hiasan relief candi Penataran pada masa Kediri mengambil epik kisah Mahabharata. Sementara itu, kisah Mahabharata juga menjadi epik yang dipilih sebagai relief pada dua candi peninggalan kerajaan Majapahit, yaitu candi Tigawangi dan candi Sukuh.
7. Seni Arca dan Patung, sebagai akibat akulturasi budaya pemujaan arwah leluhur dengan agama Hindu-Buddha maka beberapa keluarga raja diperdewa dalam bentuk arca yang ditempatkan di candi makam. Arca¬arca dewa tersebut dipercaya merupakan lambang keluarga raja yang dicandikan dan tidak mustahil termasuk di dalamnya kepribadian dan watak dari keluarga raja tersebut. Oleh karena itu, arca dewa tersebut sering diidentikkan dengan arca keluarga raja. Seni arca yang berkembang di Indonesia memperlihatkan unsur kepribadian dan budaya lokal, sehingga bukan merupakan bentuk peniruan dari India. Beberapa contoh raja yang diarcakan adalah Raja Rajasa yang diperdewa sebagai Siwa di candi makam Kagenengan, Raja Anusapati sebagai Siwa di candi makam Kidal, Raja Wisnuwardhana sebagai Buddha di candi makam Tumpang, Raja Kertanegara sebagai Wairocana Locana di candi makam Segala dan Raja Kertarajasa Jayawardhana sebagai Harihara di candi makam Simping.

Gambar 1.15 Tarian perang (relief candi Borobudur) (Sumber: Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, halaman 520)

Patung-patung dewa dalam agama Hindu yang merupakan peninggalan sejarah di Indonesia, antara lain:
a. Arca batu Brahma.
b. Arca perunggu Siwa Mahadewa.
c. Arca batu Wisnu.
d. Arca-arca di Prambanan, di antaranya arca Lorojongrang.
e. Arca perwujudan Tribhuwanatunggadewi di Jawa Timur.
f. Arca Ganesa, yaitu dewa yang berkepala gajah sebagai dewa ilmu pengetahuan.

8. Seni pertunjukan, terutama seni wayang sampai sekarang merupakan salah satu bentuk seni yang masih populer di kalangan masyarakat Indonesia. Seni wayang beragam bentuknya seperti wayang kulit, wayang golek, dan wayang orang. Seni pertunjukan wayang tampaknya telah dikenal oleh bangsa Indonesia sejak aman prasejarah.

Gambar 1.16 Wayang (Sumber: Machmoed Effendhie, Sejarah Budaya 2004, halaman 109)

Pertunjukan wayang pada masa ini selalu dikaitkan dengan fungsi magis¬religius yaitu sebagai bentuk upacara pemujaan pada arwah nenek moyang yang disebut Hyang . Kedatangan arwah nenek moyang diwujudkan dalam bentuk bayangan dari sebuah wayang yang terbuat dari kulit. Lakon wayang pada masa ini lebih banyak menceritakan tentang kepahlawanan dan petualangan nenek moyang, seperti lakon-lakon “Dewi Sri” atau “Murwakala”. Pertunjukan wayang diadakan pada malam hari di tempat¬tempat yang dianggap keramat. Pada masa Hindu-Buddha, kebudayaan pertunjukan wayang ini terus dilanjutkan dan lebih berkembang lagi dengan cerita-cerita yang lebih kaya.
Cerita-cerita yang dikembangkan dalam seni wayang kemudian sebagian besar mengambil epik yang berkembang dari agama Hindu-Buddha terutama cerita Ramayana dan Mahabharata. Meskipun demikian, tampaknya cerita yang dikembangkan dalam seni pertunjukan wayang tidak seluruhnya merupakan budaya atau cerita yang sepenuhnya berasal dari India. Unsur¬unsur budaya asli memberikan ciri tersendiri dan utama dalam seni wayang. Hal ini terlihat dengan dimasukkannya tokoh-tokoh baru yang kita kenal dengan sebutan Punakawan. Tokoh-tokoh punakawan seperti Bagong, Petruk dan Gareng (dalam seni wayang golek disebut Astrajingga atau Cepot, Dewala dan Gareng) tidak akan kita temukan dalam cerita-cerita epik populer India seperti Ramayana dan Mahabharata, sebab penciptaan tokoh-tokoh tersebut asli dari Indonesia.
Munculnya tokoh Punakawan ini untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh Mpu Panuluh yang hidup pada aman kerajaan Kediri. Dalam karya sastranya yang berjudul Ghatotkacasraya, Mpu Panuluh menampilkan unsur punakawan yang berjumlah tiga, yaitu Punta, Prasanta dan Juru Deh sebagai hamba atau abdi tokoh Abhimanyu, putra Arjuna. Dalam karyanya tersebut, Mpu Panuluh masih menggambarkan tokoh punakawan sebagai tokoh figuran yang kaku dan porsi cerita terbesar masih dipegang oleh tokoh-tokoh utama.
Pada perkembangan selanjutnya tokoh punakawan ini menjadi tokoh penting dalam seni pertunjukan wayang, sebab memberikan unsur humor dan lelucon yang dapat membangun cerita wayang lebih menarik lagi. Dimasukkannya tokoh-tokoh punakawan juga seakan-akan untuk menggambarkan hubungan antara bangsa India dengan penduduk asli. Pembauran budaya asli dengan budaya Hindu-Buddha terlihat juga pada pencampuradukan antara mitos-mitos lama dengan cerita-cerita baru dari India. Misalnya dalam kitab Pustaka Raja Purwa menggambarkan dewa-dewa agama Hindu yang turun ke bumi dan menjadi penguasa di tanah Jawa. Sang Hyang Syiwa menjadi raja di Medang Kamulan, Sang Hyang Wisnu menggantikan kedudukan Prabu Watu Gunung dengan gelar Brahma Raja Wisnupati.
9. Bidang seni bangunan merupakan salah satu peninggalan budaya Hindu-Buddha di Indonesia yang sangat menonjol antara lain berupa candi dan stupa. Selain itu, terdapat pula beberapa bangunan lain yang berkaitan erat dengan kehidupan keagamaan, seperti: ulan dan satra merupakan semacam pesanggrahan atau tempat bermalam para pe iarah; sima adalah daerah perdikan yang berkewajiban memelihara bangunan suci di suatu daerah; patapan adalah tempat melakukan tapa; sambasambaran yang berarti tempat persembahan; meru merupakan bangunan berbentuk tumpang yang melambangkan gunung Mahameru sebagai tempat tinggal dewa¬dewa agama Hindu.

Letak geografis wilayah Indonesia yang sangat strategis merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan terjadinya interaksi bangsa Indonesia dengan bangsa asing. Salah satu interaksi yang terjadi yaitu datangnya bangsa India ke Indonesia. Dampak interaksi dengan bangsa India adalah masuknya pengaruh kebudayaan dan agama Hindu-Buddha di Indonesia.
Terdapat berbagai pendapat tentang masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia. Masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia menyebabkan banyak rakyat Indonesia yang menganut agama Hindu-Buddha. Disamping masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia, masuk pula bentuk-bentuk kebudayaannya. Bentuk-bentuk kebudayaan tersebut misalnya dalam bentuk seni bangunan seperti candi, patung atau arca, seni sastra dan bahasa, seni relief, politik dan pemerintahan, serta bidang pendidikan.

Hipotesis Brahmana : suatu pandangan yang menyatakan bahwa yang menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia ialah golongan pendeta atau Brahmana
Hipotesis Ksatria : suatu pandangan yang menyatakan bahwa yang menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia ialah golongan bangsawan atau para raja.
Hipotesis Waisya : suatu pandangan yang menyatakan bahwa yang menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia ialah golongan pedagang.
Teori arus balik : suatu teori yang menjelaskan bahwa bangsa Indonesia ketika menerima pengaruh Hindu-Buddha tidak bersikap pasif, tetapi bersikap aktif yaitu banyak bangsa Indonesia yang pergi ke India untuk belajar agama Hindu-Buddha, kemudian mereka kembali ke Indonesia dan menyebarkan ilmu yang mereka peroleh dari India.
Teori kolonisasi : suatu teori yang menjelaskan tentang masuknya pengaruh India di Indonesia yang menyatakan bahwa bangsa India sangat aktif dalam menyebarkan agama Hindu-Buddha, sedangkan bangsa Indonesia bersikap pasif hanya sebagai penerima saja.

I. Pilihan Ganda

Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap paling benar!
1. Teori yang menempatkan bangsa India sebagai pemegang peranan aktif dalam proses masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia, yaitu teori ….
a. Brahmana d. Kolonisasi
b. Waisya e. Arus balik
c. Ksatria

2. Proses masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia dibawa oleh para pedagang India yang singgah ke wilayah Indonesia. Pernyataan tersebut merupakan inti dari teori ….
a. Brahmana d. Kolonisasi
b. Waisya e. Arus balik
c. Ksatria

3. Hipotesis Ksatria diperkuat dengan cerita panji yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang memperlihatkan adanya proses penaklukan daerah-daerah Indonesia oleh para Ksatria India. Pernyataan tersebut merupakan inti dari hipotesis yang dikembangkan oleh ….
a. C.C Berg d. N.J Korm
b. J.L Moens e. Van Leur
c. Majumdar

4. Kekuatan hipotesis Brahmana dalam proses masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia terlihat dari ….
a. berkembangnya sistem kerajaan di Indonesia
b. banyaknya bangunan candi yang memiliki seni arsitektur tinggi
c. berkembangnya bahasa Sanskerta
d. berkembangnya upacara-upacara keagamaan
e. banyaknya prasasti yang menggunakan huruf Pallawa

5. Teori arus balik yang dikemukakan oleh F.D.K Bosch mengemukakan bahwa proses masuknya pengaruh budaya India ke Indonesia terjadi karena peran aktif yang dilakukan oleh ….
a. Golongan Ksatria
b. Golongan Brahmana
c. Golongan Waisya
d. Golongan Sudra
e. Bangsa Indonesia

6. Salah satu bukti yang menunjukkan peran aktif bangsa Indonesia dalam proses masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia, ialah ….
a. Cerita Panji
b. Prasasti Nalanda
c. Candi Borobudur
d. Jaya Prasasti
e. Bahasa Sanskerta

7. Kitab yang digunakan sebagai pedoman atau dasar-dasar dalam pem¬bangunan suatu candi yaitu kitab ….
a. Atharva Veda
b. Yajur Veda
c. Silpasastra
d. Ramayana
e. Tripitaka

8. Berikut ini ialah kelompok candi yang terdapat di Jawa Timur, yaitu candi ….
a. Jago, Kidal, dan Badut
b. Kidal, Kalasan, dan Prambanan
c. Penataran, Prambanan, dan Borobudur
d. Penataran, Kalasan, dan Prambanan
e. Jago, Penataran, dan Prambanan

9. Salah satu bentuk akulturasi antara budaya Indonesia dengan budaya India pada bentuk bangunan candi terlihat dari ….
a. relief yang dilukiskan pada candi
b. arca atau patung yang terdapat di candi
c. bentuk stupa
d. bentuk candi yang berupa punden berundak
e. hiasan yang terdapat pada candi

10. Di bawah ini merupakan bukti-bukti yang menunjukkan perkembangan pendidikan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia, kecuali ….
a. catatan perjalanan Fa-Hien
b. catatan perjalanan I-Tsing
c. Prasasti Nalanda
d. pembangunan Sriwijaya Asrama oleh Raja Airlangga
e. kerja sama antara Hui-Ning dan Jnanabadra dalam penerjemahan kitab agama Buddha

11. Kepercayaan asli bangsa Indonesia dalam hal pemujaan arwah nenek moyang berakulturasi dengan budaya Hindu-Buddha dalam bentuk ….
a. seni pahat atau relief
b. seni sastra
c. seni arca atau patung
d. seni tari
e. seni musik

12. Penulisan karya sastra yang bercorak Hindu-Buddha mengalami per¬kembangan yang sangat pesat pada masa kekuasaan kerajaan ….
a. Kediri d. Singhasari
b. Mataram e. Sriwijaya
c. Majapahit

13. Kitab Negarakertagama menceritakan tentang perkembangan kerajaan Majapahit pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk. Kitab Negara¬kertagama merupakan karya sastra yang ditulis oleh ….
a. Mpu Panuluh d. Mpu Tanakung
b. Mpu Prapanca e. Mpu Tantular
c. Mpu Kanwa

14. Epik yang tertera dalam relief candi Prambanan mengambil penggalan kisah yang terdapat dalam cerita ….
a. Arjunawiwaha d. Negarakertagama
b. Bharatayudha e. Ramayana
c. Mahabharata

15. Salah satu ciri asli budaya lokal Indonesia dalam seni pertunjukan wayang, yaitu dengan lahirnya tokoh ….
a. Arjuna d. Gatotkaca
b. Bhatara Guru e. Punakawan
c. Dewi Sri

II. Soal Uraian

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!
1. Jelaskan perbedaan antara teori kolonisasi dengan teori arus balik dilihat dari siapa yang berperan dalam proses masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia!
2. Buatlah identifikasi yang menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari teori kolonisasi dan teori arus balik?
3. Buatlah tiga contoh bentuk akulturasi budaya di Indonesia antara budaya asli dengan budaya Hindu-Buddha!
4. Buatlah perbandingan antara candi-candi yang terdapat di Jawa Tengah dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur dilihat dari aspek fungsi, bentuk, dan ukuran candi!
5. Jelaskan pengaruh masuknya agama Hindu-Buddha terhadap perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia!

BAB 2 KEHIDUPAN KERAJAAN – KERAJAAN HINDU – BUDHA DI INDONESIA

A. KEHIDUPAN NEGARA-NEGARA KERAJAAN HINDU-BUDDHA DI INDONESIA
Lahirnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha merupakan salah satu perubahan yang penting dengan masuknya pengaruh tradisi Hindu-Buddha di Indonesia. Kerajaan-kerajaan itu antara lain Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram Lama (Berpusat di Jawa Tengah), Kerajaan Mataram Lama (Berpusat di Jawa Timur), Kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sunda, dan Kerajaan di Bali. Bagaimana proses munculnya kerajaan¬kerajaan tersebut? Kapan kerajaan-kerajaan itu berdiri? Tradisi-tradisi apa saja yang telah tumbuh berkembang pada kerajaan¬kerajaan itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat kamu jawab dalam pembahasan mengenai kehidupan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang ada di Indonesia berikut ini.
1. Kerajaan Kutai

a. Kehidupan politik

Kerajaan Kutai terletak di dekat Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Keberadaan kerajaan ini dapat diketahui dari tujuh buah prasasti (Yupa) yang ditemukan di Muarakaman, tepi Sungai Mahakam. Prasasti yang berbentuk yupa itu menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Menurut para ahli, diperkirakan kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kerajaan Hindu di India Selatan. Perkiraan itu didasarkan dengan membandingkan huruf di Yupa dengan prasasti-prasasti di India. Dari bentuk hurufnya, prasasti itu diper¬kirakan berasal dari abad ke-5 M. Apabila dibandingkan dengan prasasti di Taruma¬negara, maka bentuk huruf di kerajaan Kutai jauh lebih tua.

Gambar 2.1 Peta wilayah Kerajaan Kutai

Berdasarkan salah satu isi prasasti Yupa, kita dapat mengetahui nama-nama raja yang pernah memerintah di Kutai, yaitu Kundungga, Aswawarman dan Mulawarman. Prasasti tersebut adalah:
“Srinatah sri-narendrasya, kundungasya mahatmanah, putro svavarmmo vikhyatah, vansakartta yathansuman, Tasya putra mahatmanah, tryas traya ivagnayah, tesn traynam prvrah, tapo-bala-damanvitah, sri mulavarmma rajendro,yastva bahusuvarunakam, tasya yjnasya yupo ‘yam, dvijendarais samprakalpitah.
(Sang maharaja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang masyhur, sang Aswawarman yang seperti ansuman, sang Aswawarman mempunyai tiga putra yang seperti api yang suci. Yang paling terkemuka ialah sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Dia melaksanakan selamatan dengan emas yang banyak. Untuk itulah Tugu batu ini didirikan)

Gambar 2.2 Prasasti Muara Kaman yang berbentuk YUPA (sumber R. Soekmono : Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia jilid 2, halaman 35)

b. Kehidupan ekonomi
Kehidupan ekonomi di kerajaan Kutai tergambar dalam salah satu prasasti, yang isinya, seperti berikut ini.
(Tugu ini ditulis untuk (peringatan) dua (perkara) yang telah disedekahkan oleh sang Mulawarman yakni segunung minyak, dengan lampu dan malai bunga)
Dari Isi Yupa di atas, kita dapat menemukan beberapa benda yang disedekahkan yaitu minyak, lampu, dan malai bunga. Sedekah dari raja kepada Brahmana pasti dalam jumlah yang besar. Untuk itu, diperlukan jumlah minyak, lampu dan malai bunga yang banyak. Benda-benda itu didapatkan dalam jumlah yang banyak jika ada upaya untuk memperbanyaknya. Adanya minyak dan bunga malai, kita dapat menyimpulkan bahwa sudah ada usaha dalam bidang pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kutai. Sementara itu, lampu¬lampu tersebut dihasilkan dari usaha dibidang kerajinan dan pertukangan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua bidang usaha tersebut sudah berkembang di lingkungan masyarakat Kutai.
Begitu pula pada prasasti yang lain, berisikan sebagai berikut.
Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang seperti api. Bertempat didalam tanah yang sangat suci Waprakeswara, buat peringatan akan kebaikan didirikan Tugu ini)
Kehidupan ekonomi yang dapat disimpulkan dari prasasti tersebut adalah keberadaan sapi yang dipersembahkan oleh Raja Mulawarman kepada Brahmana. Keberadaan sapi menunjukkan adanya usaha peternakan yang dilakukan oleh rakyat Kutai. Arca-arca yang ditemukan oleh para arkeolog menunjukkan bahwa arca tersebut bukan berasal dari Kalimantan, tetapi berasal dari India. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sudah ada hubungan antara Kutai dan India, terutama hubungan dagang.

c. Kehidupan sosial-budaya
Pada Yupa diketemukan sebuah nama yaitu Kundungga yang tidak dikenal dalam bahasa India. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa nama tersebut merupakan nama asli daerah tersebut. Namun masih dalam yupa yang sama dijelaskan bahwa Kundungga mempunyai anak yang bernama Aswawarman yang mempunyai putra pula bernama Mulawarman. Dua nama terakhir merupakan nama yang mengandung unsur India, berbeda dengan nama Kundungga. Baik Kundungga, Aswawarman maupun Mulawarman merupakan raja-raja di Kutai, namun dari nama mereka dapat menunjukkan bahwa pengaruh Hindu pada keluarga kerajaan itu sudah mulai masuk pada masa Kundungga, meskipun baru menguat pada masa Aswawarman.
Bukti kebudayaan Hindu sudah mulai masuk pada masa Kundungga dapat dibuktikan dengan diberikannya nama Hindu kepada anaknya. Namun pendapat itu bisa saja tidak tepat, jika Aswawarman yang mengganti namanya sendiri, dan bukan oleh ayahnya melalui upacara vrtyastoma. Vrtyastoma adalah upacara penyucian diri dalam agama Hindu. Upacara vrtyastoma digunakan oleh orang-orang Indonesia yang terkena pengaruh Hindu untuk masuk ke dalam kasta tertentu sesuai dengan kedudukan asalnya, dan setelah upacara ini diadakan, biasanya disusul dengan pergantian nama.

d. Kepercayaan
Berdasarkan isi prasasti itu pula dapat diketahui bahwa masyarakat di Kerajaan Kutai memeluk agama Hindu. Hal itu dapat dilihat dari prasasti yang menyebutkan tempat suci yaitu Waprakeswara, yaitu tempat suci yang dihubungkan dengan Dewa Wisnu. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa agama Hindu merupakan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kutai. Agama yang dianut di Kutai yaitu agama Hindu aliran pemuja Siwa yang diduga berasal dari India Selatan, dengan bukti adanya huruf Pallawa yang digunakan di India Selatan, serta penggunaan nama Warman yang merupakan kebiasaan dari India Selatan.
2. Kerajaan Tarumanegara
Pulau Jawa memasuki catatan sejarah sejak abad ke-2 Masehi. Dalam catatan India yang ditulis pada awal abad ke-2, berjudul Mahaniddesa, sudah tercantum nama Yawadwipa (Pulau Jawa). Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani, menyebutkan bahwa Pulau Labadiou ketika menguraikan daerah Asia Tenggara dalam bukunya Geographike Hyphegesis, yang ditulisnya pada sekitar tahun 150 M. Sejak pertengahan abad ke-3, catatan Cina sudah menyebut She-po (Jawa).

Gambar 2.3 Wilayah Kerajaan Tarumanegara (Sumber: Chalif Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 8)

a. Kehidupan politik
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua di Pulau Jawa yang dipengaruhi agama dan kebudayaan Hindu. Letaknya di Jawa Barat dan diperkirakan berdiri kurang lebih abad ke 5 M. Raja yang memerintah pada saat itu adalah Purnawarman. Ia memeluk agama Hindu dan menyembah Dewa Wisnu.
Sumber sejarah mengenai Kerajaan Tarumanegara dapat diketahui dari prasasti-prasasti yang ditinggalkannya dan berita-berita Cina. Prasasti yang telah ditemukan sampai saat ini ada 7 buah. Berdasarkan prasasti inilah dapat diketahui bahwa kerajaan ini mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu. Prasasti itu menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dengan demikian, Kerajaan Tarumanegara seperti halnya Kerajaan Kutai mendapat pengaruh dari Kerajaan Hindu yang ada di India Selatan.
Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara berdasarkan tempat
penemuannya, antara lain sebagai berikut.
1) Prasasti Ciaruteun (Ciampea), ditemukan di tepi Sungai Ciaruteun (Bogor) dekat muaranya dengan Cisadane.
2) Prasasti Pasir Jambu (Koleangkak), ditemukan di daerah perkebunan Jambu sekitar 30 km sebelah barat Bogor.
3) Prasasti Kebon Kopi, ini terletak di Kampung Muara Hilir, Cibungbulang (Bogor). Ditulis dalam bentuk puisi Anustubh.
4) Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten. Kedua prasasti ini menggunakan aksara yang berbentuk ikal yang belum dapat di baca, ditemukan di Bogor.
5) Prasati Tugu, ditemukan di daerah Tugu (Jakarta). Prasasti ini merupakan prasasti terpanjang dari semua prasasti peninggalan Raja Purnawarman. Prasasti ini berbentuk puisi Anustubh. Tulisannya dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang secara melingkar.
6) Prasasti Cidanghiang atau Prasasti Lebak, ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Lebak (Banten).

Gambar 2.4 Prasasti Ciaruteun merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanegara (Sumber: Chalif Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 8)

Sumber lain yang menerangkan tentang Kerajaan Tarumanegara dapat dilihat dari berita Cina berupa catatan perjalanan seorang penjelajah Cina bernama Fa-Hien pada awal abad ke-5 M. Dalam bukunya Fa-Kuo-Chi, ia membuat catatan bahwa di Ye-Po-Ti banyak dijumpai orang-orang Brahmana dan mereka yang beragama kotor atau buruk dan sedikit sekali dijumpai orang yang beragama Buddha. Menurut para ahli yang dimaksud Ye-Po-Ti adalah Jawadwipa atau Pulau Jawa atau Tarumanegara. Berita Cina lainnya berasal dari catatan Dinasti Sui, yang menerangkan bahwa telah datang utusan dari To-lo-mo (Taruma) untuk menghadap Kaisar di negeri Cina pada tahun 528, 535, 630, dan 669. Sesudah itu, nama To-lo-mo tidak terdengar lagi.

b. Kehidupan ekonomi
Berdasarkan sumber-sumber sejarah tersebut, baik prasasti maupun berita¬berita dari Cina, dapatlah diperoleh gambaran bahwa kehidupan kerajaan Tarumanegara pada masa itu. Berdasarkan prasasti Tugu dapat diketahui mata pencaharian penduduknya, yaitu pertanian dan perdagangan. Begitu pula berdasarkan berita dari Fa-Hien awal abad ke 5, diketahui bahwa mata pencaharian penduduk Tarumanegara adalah pertanian, peternakan, perburuan binatang, dan perdagangan cula badak, kulit penyu dan perak. Prasasti Tugu, ditemukan di daerah Tugu (Jakarta) merupakan prasasti terpanjang dari semua prasasti peninggalan Raja Purnawarman.
Dulu kali candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan kuat buat mengalirkannya ke laut, setelah sampai di istana yang termasyhur, didalam tahun keduapuluh duanya dari takhta raja Purnawarman yang berkilau-kilau karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja. Sekarang beliau menitahkan menggali sungai yang permai dan jernih, gomati namanya, setelah melewati kediaman sang pendeta nenkda, pekerjaan ini dimulai pada tanggal 9 paro petang bulan, pulaguna dan disudahi tanggal 13 paro terang bulan citra, jadi hanya 21 saja, sedangkan galian panjangnya 6.122 tumbak. Selamatan baginya oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”.
Dari prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa Raja sangat memperhatikan kondisi perekonomian masyarakatnya. Penggalian sungai Chandrabhaga sepanjang 12 km yang berlangsung selama 21 hari itu dimaksudkan untuk kepentingan pengairan pertanian, pencegah banjir, dan sebagai sarana transportasi dari pesisir pantai ke pedalaman.

c. Kehidupan sosial-budaya
Berdasarkan sumber yang ada, diperkirakan masyarakat Tarumanegara terdiri atas golongan istana dan masyarakat biasa. Termasuk ke dalam golongan istana, yaitu para Brahmana, raja dan keluarganya, para ksatria (prajurit), dan para pegawai kerajaan. Adapun yang termasuk ke dalam golongan rakyat biasa, yaitu para pedagang, petani, dan peternak. Hubungan antara raja dan rakyat sangat harmonis. Hal ini tampak pada perhatian raja terhadap ekonomi masyarakatnya.

d. Kepercayaan
Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, bahwa kepercayaan Hindu-Buddha sangat berakar kuat di kerajaan ini. Perkembangan agama Hindu sangat baik, hal ini ditandai dengan hubungan yang erat antara raja dan Brahmana. Dengan demikian, agama Hindu memberikan nilai-nilai terhadap kehidupan kerajaan. Sementara itu, berita dari Fa Hsien dijelaskan bahwa penganut agama Buddha sangat sedikit dibanding dengan agama Hindu

3. Kerajaan Sriwijaya

Gambar 2.5 Peta wilayah Kerajaan Sriwijaya (Sumber: Chalif Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 7)

a. Kehidupan politik
Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar yang terletak di Sumatra Selatan. Menurut para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang dan diperkirakan telah berdiri pada abad ke-7 M. Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya berupa prasasti dan berita Cina. Sumber yang berupa prasasti terdiri atas dua, yaitu prasasti yang berasal dari dalam negeri dan prasasti yang berasal dari luar negeri.
Prasasti yang berasal dari dalam negeri antara lain: prasasti Kedukan Bukit (683 m), Talang Tuwo (684 m), Telaga Batu (683), Kota Kapur (686), Karang Berahi (686), Palas Pasemah dan Amoghapasa (1286). Sementara itu, prasasti yang berasal dari luar negeri antara lain; Ligor (775), Nalanda, Piagam Laiden, Tanjore (1030 M), Canton (1075 M), Grahi (1183 M) dan Chaiya (1230). Begitu pula sumber naskah dan buku yang berasal dari dalam negeri adalah kitab Pararaton, sedangkan dari luar negeri antara lain kitab memoir dan record karya I-Tsing, Kronik dinasti Tang, Sung, dan Ming, kitab Ling-wai-tai-ta karya Chou-ku-fei dan kitab Chu-fon-chi karya Chaou- fu hua.
Para sejarawan masih berbeda pendapat tentang Sriwijaya yaitu awal berkembang dan berakhirnya serta lokasi ibu kotanya. Menurut Coedes, Sriwijaya berkembang pada abad ke-7 di Palembang dan runtuh pada abad ke-14. Pendapatnya didasarkan pada ditemukannya toponim Shih Li Fo Shih dan San Fo Tsi. Menurutnya Shih Li Fo Shih merupakan perkataan Cina untuk menyebut Sriwijaya. Sementara itu, San Fo Tsi yang ada pada sumber Cina dari abad ke-9 sampai dengan abad ke-14 merupakan kependekan dari Shih Li Fo Shih. Slamet Mulyana berpendapat lain, dia setuju dengan pendapat Coedes yang menganggap bahwa Shih Li Fo Shih adalah Sriwijaya, namun San Fo Tsi tidak sama dengan Shih Li Fo Shih. Menurutnya Sriwijaya berkembang sampai abad ke-9, dan sejak itu Sriwijaya berhasil ditaklukkan oleh San Fo Tsi (Swarnabhumi).
Mengenai ibu kota Sriwijaya, para ahli mendasarkan pendapatnya pada daerah yang disebutkan dalam prasasti Kedukan Bukit yaitu Minanga. Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 604 saka (682 M) ditemukan di daerah Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang.

Gambar 2.6 Prasasti Kedukan Bukit (Sumber: E. Juhana Wijaya, 2000, halaman 56)

Adapun isi prasasti Kedukan Bukit, adalah sebagai berikut:
Pada tahun saka 605 hari kesebelas bulan terang bulan waiseka dapunta hyang naik di perahu mengadakan perajalanan pada hari ketujuh bulan terang. Bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari minanga. Tambahan beliau membawa tentara dua laksa (20.000), dua ratus koli di perahu, yang berajalan darat seribu, tiga ratus dua belas banyaknya datang di mukha upang, dengan senang hati, pada ghari kelima bulan terang bulan asada, dengan lega gembira datang membuat wanua … . perajalanan jaya sriwijy memberikan kepuasan.
Poerbacaraka berpendapat bahwa Minanga adalah pertemuan antara sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, sehingga beliau berpendapat bahwa ibu kota Sriwijaya adalah di Minangkabau. Muhammad Yamin mengartikan Minanga Tanwan adalah air tawar dan Sriwijaya ibu kotanya terletak di Palembang. Bukhori berpendapat sama dengan Muhammad Yamin bahwa ibu kota Sriwijaya terletak di sekitar daerah Palembang
Prasasti Kedukan Bukit isinya menceritakan bahwa pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682), Raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu memimpin operasi militer. Lalu pada tanggal 7 paro terang bulan Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang berangkat dari Minanga Tamwan untuk kembali ke ibu kota. Mereka bersukacita karena pulang dengan kemenangan. Pada tangga 5 Asada (16 Juni) mereka tiba di Muka Upang (sebelah timur Palembang). Sesampai di ibu kota, Dapunta Hyang memerintahkan pembuatan bangunan suci sebagai tanda rasa syukur.
Prasasti Ligor A (775) ditemukan di Muangthai selatan
“Pujian terhadap raja Sriwijaya yang di ibaratkan bagai Mnu yang memberi berkah bagi dunia menyerupai Indra dan semua raja tetangga taat kepadanya ditulis pula pendirian sebuah bangunan batu trisamayacahtya untuk padma, pani, sakyamuni, dan wajrpani”.
Prasasti Ligor B,
Pujian bagi raja yang berhasil menaklukkan musuh-musuhnya dan merupakan wujud kembar dewa kasta yang dengan kekuatannya disebut (sebagai dewa) Wisnu, kedua mematahkan keangkuhan semua musuhnya (Sarwarimadawimthana). Ia adalah keturunan dari (keluarga Syailendra) yang tersohor disebut Srimaharaja.”
Prasasti Ligor yang ditemukan di semenanjung tanah Melayu menceritakan tentang Raja Sriwijaya dan pembangunan trisamayacaithya untuk menyembah dewa-dewa agama Buddha, serta menyebutkan seorang raja bernama Wisnu dengan gelar Sarwarimadawimathana atau pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa. Begitu pula prasasti Nalanda yang dikeluarkan oleh Raja Dewa Paladewa. Isinya menyebutkan tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh Raja Balaputradewa, Raja Sriwijaya yang menganut agama Buddha.
Daerah kekuasaan Sriwijaya meliputi seluruh Sumatra, sebagian Jawa, Semenanjung Malaya, dan Muangthai Selatan. Dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa, Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional. Untuk itu penghasilan negara Sriwijaya terutama diperoleh dari perdagangan (komoditas ekspor dan bea cukai kapal¬kapal yang singgah di wilayah Sriwijaya). Jadi, kerajaan ini lebih menitik¬beratkan pada bidang maritim dan perdagangan.
Sejak pertengahan abad ke-9, Sriwijaya diperintah oleh Dinasti Syailendra. Hal ini dinyatakan dalam prasasti Nalanda di India, yang menguraikan permintaan Raja Balaputradewa dari Sriwijaya kepada Raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mendirikan wihara di Nalanda pada tahun 860. Disebutkan juga dalam prasasti itu, bahwa Balaputradewa adalah putra Samaragrawira, yaitu raja Jawa dari Dinasti Syailendra.
Prasasti kota kapur (686 M) isinya tentang cerita peperangan dan sumpah atau kutukan bagi orang-orang yang melanggar peraturan dan kehendak penguasa. Adapun yang lebih menarik tentang isi prasasti ini, ialah bagian terakhir yang berbunyi:
“Tahun saka 608 hari pertama bulan terang bulan waisaka, itulah waktunya sumpah ini dipahat, pada waktu itu tentara Sriwijaya berangkat tanah Jawa karena tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.”
Dari prasasti tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Sriwijaya pernah ada upaya untuk menaklukkan Jawa. Para ahli menerangkan bahwa kerajaan di Jawa yang ditaklukkan adalah Tarumanegara.
Hubungan dengan India tidak bertahan lama, sebab pada awal abad ke-11 Raja Rajendracola dari Kerajaan Colamandala melakukan penyerbuan besar-besaran ke wilayah Sriwijaya, antara lain Kedah, Aceh, Nikobar, Binanga, Melayu, dan Palembang. Berita penyerangan tersebut ada dalam prasasti Tanjore di India Selatan. Tetapi, penyerbuan Colamandala dapat dipukul mundur atas bantuan Raja Airlangga dari Jawa Timur. Atas jasanya ini, Airlangga dinikahkan dengan Sanggramawijayatunggadewi, putri Raja Sriwijaya.
Kekuatan Sriwijaya mulai menurun setelah berhasil memukul mundur pasukan Colamandala. Menurunnya kekuatan itu dapat terlihat dari ketidakmampuannya mengawasi dan memberi perlindungan bagi pelayaran dan perdagangan yang ada di perairan Indonesia. Keadaan itu dimanfaatkan juga oleh kerajaan-kerajaan vasal (bawahan) untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya, seperti yang dilakukan oleh kerajaan Malayu (Jambi).
Prasasti Tanjore (1030) yang dikeluarkan oleh Rjendra berisi Tentara Colal melakukan serangan dua kali ke beberapa negeri diantaranya ke Sriwijaya, pertama tahun 1015 dan kedua 1025. Pada serangan kedua berhasil menawan rajanya yang bernama Sri Sangramwijaya Tunggawarman, setelah meminta maaf, dia ditakhtakan kembali.
Sementara itu, prasasti Wirarajendra, yang dikeluarkan oleh Raja Cola (1068), berisikan bahwa pasukan Cola menyerang kembali Sriwijaya tahun 1067. Selanjutnya pada abad ke-13 dan ke-14, kebesaran Sriwijaya tidak pernah disebut-sebut lagi dalam sumber-sumber sejarah. Jadi, kapan Kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan? Menurut catatan Cina, utusan Sriwijaya terakhir datang ke Cina pada tahun 1178. Selain itu, pada catatan Chu-fan-chi yang ditulis oleh Chau Ju Kua tahun 1225 disebutkan bahwa Palembang (ibu kota Sriwijaya) telah menjadi negeri taklukan Malayu.

b. Kehidupan ekonomi
Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia pada masa silam. Kerajaan Sriwijaya mampu mengembangkan diri sebagai negara maritim yang pernah menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional selama berabad-abad dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa. Setiap pelayaran dan perdagangan dari Asia Barat ke Asia Timur atau sebaliknya harus melewati wilayah Kerajaan Sriwijaya yang meliputi seluruh Sumatra, sebagian Jawa, Semenanjung Malaysia, dan Muangthai Selatan. Keadaan ini juga yang membawa penghasilan Kerajaan Sriwijaya terutama diperoleh dari komoditas ekspor dan bea cukai bagi kapal¬kapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya. Komoditas ekspor Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana, gading gajah, buah-buahan, kapas, cula badak, dan wangi-wangian.

c. Kehidupan sosial-budaya
Prasasti Amoghpasha (1286) berbunyi “Pada tahun saka 1208 …..tatkala itulah arca paduka amoghappasa lokeswara dengan empat belas pengikutnya serta tujuh ratna permata dibawa dari bhumi Jawa ke suwarnabhumi supaya ditegakan. Sumber sejarah lain mengenai Kerajaan Sriwijaya dapat dilihat dari berita Cina. Berita itu datang dari seorang pendeta yang bernama I-Tsing yang pada tahun 671 berdiam di Sriwijaya untuk belajar tata bahasa Sanskerta sebagai persiapan kunjungannya ke India. I-Tsing menyebutkan bahwa di negeri Sriwijaya dikelilingi oleh benteng. Di negeri ini ada seribu orang pendeta yang belajar agama Buddha.
Seperi halnya di India, para pendeta Cina yang mau belajar agama ke India dianjurkan untuk belajar terlebih dahulu di Sriwijaya selama satu sampai dua tahun. Disebutkan juga bahwa para pendeta yang belajar agama Buddha di Sriwijaya dibimbing oleh seorang guru yang sangat terkenal bernama Sakyakirti. Berdasarkan berita I-Tsing dapat disimpulkan bahwa kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-7 M merupakan pusat kegiatan ilmiah agama Buddha di Asia Tenggara.
Prasasti Nalanda berisi tentang pembebasan tanah untuk pendirian sebuah biara atas permintaan raja Swarnadiva, Balaputradewa, cucu raja Jawa berjuluk Wirawairimathana, yang berputra Samaargrawira yang menikahi putri Raja Dharmasetu. Dari prasasti-prasasti tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa raja sangat memperhatikan dunia pendidikan dalam memajukan dan mengembangkan kerajaannya. Pendidikan yang berbasis pengajaran agama Buddha disatu sisi telah membawa corak kehidupan yang khas pada masyarakat Sriwijaya

d. Kepercayaan
Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat agama Buddha di Asia Tenggara. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya biksu yang terdapat di Sriwijaya beserta pusat pendidikannya. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan, bahwa penduduk yang beragama Hindu terdapat pula di Sriwijaya.
Prasasti Talang Tuo isinya menyebutkan tentang pembuatan kebun Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai suatu pranidhana (na ar). Di samping itu, terdapat doa dan harapan yang menunjukkan sifat agama Buddha. Sebaliknya, prasasti Karang Berahi, prasasti Telaga Batu, dan prasasti Palas Pasemah umumnya berisi doa, kutukan, dan ancaman terhadap orang yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada peraturan Raja Sriwijaya.
4. Kerajaan Mataram Kuno (berpusat di Jawa Tengah)

Gambar 2.7 Wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Hindu pada tahun 732-929 M
(Sumber: Chalif Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 9)

Sejarah Indonesia mengenal dua Kerajaan Mataram, yaitu Mataram Kuno yang bercorak Hindu-Buddha dan Mataram Islam yang merupakan cikal bakal Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Kedua kerajaan itu berbeda dalam hal agama dan dinasti, namun kedua-duanya berkembang pada daerah yang sama yaitu di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

a. Kehidupan politik
Kerajaan Mataram Kuno dikenal sebagai kerajaan yang toleran dalam hal beragama. Sebab, di Kerajaan Mataram Lama berkembang agama Buddha dan Hindu secara berdampingan. Kerajaan ini diperintah oleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. Berdasarkan interpretasi terhadap prasasti-prasasti bahwa kedua dinasti itu saling bersaing berebut pengaruh dan kadang-kadang memerintah bersama-sama. Asal usul Dinasti Sanjaya tercantum dalam prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah keponakan Sanna (anak dari Sannaha). Dinasti Syailendra sendiri tercantum dalam prasasti Sojomerto (tidak berangka tahun), isinya menceritakan tentang Dapuntahyang Syailendra.

Gambar 2.8 Prasasti Canggal
(Sumber: Lukisan Sejarah, halaman 17)

Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M), terletak di atas Gunung Wukir, Kecamatan Salam Magelang, diketahui bahwa raja pertama dari Dinasti Sanjaya adalah Sanjaya yang memerintah di ibu kota bernama Medang. Prasasti itu juga menceritakan tentang pendirian sebuah lingga (lambang dewa Syiwa) di atas bukit di wilayah Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya pada tanggal 6 Oktober 732. Disebutkan juga tentang Pulau Jawa yang subur dan banyak menghasilkan gandum atau padi dan kaya akan tambang emas, yang mula¬mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah Raja Sanna meninggal, ia digantikan oleh Raja Sanjaya, anak saudara perempuan Raja Sanna. Raja Sanjaya adalah seorang raja yang gagah berani yang telah menaklukkan raja di sekelilingnya dan menjadikan kemakmuran bagi rakyatnya . Menurut Carita Parahyangan (buku sejarah Pasundan), disebutkan Sanna berasal dari Galuh (Ciamis).
Selain prasasti Canggal, ada juga prasasti Kalasan (778 M) yang terdapat di sebelah timur Yogyakarta. Dalam prasasti itu disebutkan Raja Panangkaran dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Hal itu menunjukkan bahwa raja-raja keturunan Sanjaya termasuk keluarga Syailendra.
Prasasti Kedu ( Prasasti Mantyasih ) berangka tahun 907 M mencantumkan silsilah raja-raja yang memerintah di Kerajaan Mataram. Prasasti Kedu dibuat pada masa Raja Rakai Dyah Balitung. Adapun silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Mataram yaitu sebagai berikut.
1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran
3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan
4. Sri Maharaja Rakai Warak
5. Sri Maharaja Rakai Garung
6. Sri Maharaja Rakai Pikatan
7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
9. Sri Maharaja Rakai Dyah Balitung.

Menurut prasasti Kedu dapat diketahui bahwa Raja Sanjaya digantikan oleh Rakai Panangkaran. Selanjutnya salah seorang keturunan raja Dinasti Syailendra yang bernama Sri Sanggrama Dhananjaya berhasil menggeser kekuasaan Dinasti Sanjaya yang dipimpin Rakai Panangkaran pada tahun 778. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram dikuasai sepenuhnya oleh Dinasti Syailendra.Tahun 778 sampai dengan tahun 856 sering disebut sebagai pemerintahan selingan. Sebab, antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya silih berganti berkuasa. Dinasti Syailendra yang beragama Buddha mengembangkan Kerajaan Mataram Lama yang berpusat di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu mengembangkan kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah bagian Utara.
Puncak kejayaan Dinasti Sanjaya terjadi pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mendirikan candi Prambanan dan Loro Jonggrang menurut model candi-candi Syailendra. Masa pemerintahan raja-raja Mataram setelah Dyah Balitung tidak terlalu banyak sumber yang menceritakannya. Yang dapat diketahui adalah nama¬nama raja yang memerintah, yakni, Daksa (913-919), Wawa (919-924), Tulodhong (924-929), sampai Mpu Sindok pada tahun 929 M memindahkan ibu kota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur) dan mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isanawangsa.

b. Kehidupan ekonomi
Letak kerajaan Mataram yang terisolasi menyebabkan perekonomian kerajaan itu sulit untuk berkembang dengan baik. Selain itu, transportasi dari pesisir ke pedalaman sulit untuk dilakukan karena keadaan sungainya. Dengan demikian, perekonomian rakyat banyak yang mengandalkan sektor agraris daripada perdagangan, apalagi perdagangan internasional. Dengan keadaan tersebut, wajar bila Raja Kayuwangi berusaha untuk memajukan sektor pertanian, sebab dengan sektor inilah, perekonomian rakyat dapat dikembangkan.
Berdasarkan prasasti Purworejo (900 M) disebutkan bahwa Raja Belitung memerintahkan pendirian pusat-pusat perdagangan. Pendirian pusat-pusat perdagangan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan perekonomian masyarakat, baik di sektor pertanian dan perdagangan. Selain itu, dimaksudkan agar menarik para pedagang dari daerah lain untuk mau berdagang di Mataram. Prasasti Wonogiri (903 M) menceritakan tentang dibebaskannya desa-desa di daerah pinggiran sungai Bengawan Solo apabila penduduk setempat mampu menjamin kelancaran lalu lintas di sungai tersebut. Terjaminnya sarana pengangkutan atau transportasi merupakan kunci untuk mengembangkan perekonomian dan membuka hubungan dagang dengan dunia luar. Dengan demikian, usaha-usaha mengembangkan sektor perekonomian terus diusahakan oleh raja Mataram demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya.

c. Kehidupan sosial-budaya
Struktur sosial masyarakat Mataram Kuno tidak begitu ketat, sebab seorang Brahmana dapat menjadi seorang pejabat seperti seorang ksatria, ataupun sebaliknya seorang Ksatria bisa saja menjadi seorang pertapa. Dalam masyarakat Jawa, terkenal dengan kepercayaan bahwa dunia manusia sangat dipengaruhi oleh alam semesta (sistem kosmologi). Dengan demikian, segala yang terjadi di alam semesta ini akan berpengaruh pada kehidupan manusia, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, untuk keserasian alam semesta dan kehidupan manusia maka harus dijalin hubungan yang harmonis antara alam semesta dan manusia, begitu pula antara sesama manusia. Sistem kosmologi juga menjadikan raja sebagai penguasa tertinggi dan penjelmaan kekuatan dewa di dunia. Seluruh kekayaan yang ada di tanah kerajaan adalah milik raja, dan rakyat wajib membayar upeti dan pajak pada raja. Sebaliknya raja harus memerintah secara arif dan bijaksana.
Dalam bidang kebudayaan, Mataram Kuno banyak menghasilkan karya yang berupa candi. Pada masa pemerintahan Raja Sanjaya, telah dibangun beberapa candi antara lain: Candi Arjuna, Candi Bima dan Candi Nakula. Pada masa Rakai Pikatan, dibangun Candi Prambanan. Candi-candi lain yang dibangun pada masa Mataram Kuno antara lain Candi Borobudur, Candi Gedongsongo, Candi Sambisari, dan Candi Ratu Baka.

Gambar 2.9 Candi Borobudur
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 9)

d. Kepercayaan
Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, banyak didirikan candi-candi yang bercorak Hindu dan Buddha. Pernikahannya dengan Pramodhawardhani tidak menyurutkan Rakai Pikatan untuk berpindah agama. Ia tetap memeluk agama Hindu dan permaisurinya beragama Buddha. Pembangunan candi¬candi dilakukan dengan bekerja sama. Pramodhawardhani yang bergelar Sri Kahulunan banyak mendirikan candi yang bersifat Buddha, sedangkan suaminya (Rakai Pikatan) banyak mendirikan candi yang bersifat Hindu.
5. Kerajaan Mataram Kuno (berpusat di Jawa Timur)
Runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar tersebut menimbun candi-candi yang didirikan oleh kerajaan, sehingga candi-candi tersebut menjadi rusak. Kedua, runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M. Ketiga, runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak terdapatnya pelabuhan strategis. Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan daerah sumber penghasil komoditi perdagangan.
Mpu Sindok mempunyai jabatan sebagai Rake I Hino ketika Wawa menjadi raja di Mataram, lalu pindah ke Jawa timur dan mendirikan dinasti Isyana di sana dan menjadikan Walunggaluh sebagai pusat kerajaan . Mpu Sindok yang membentuk dinasti baru, yaitu Isanawangsa berhasil membentuk Kerajaan Mataram sebagai kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yang berpusat di Jawa Tengah. Mpu Sindok memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M.
Sumber sejarah yang berkenaan dengan Kerajaan Mataram di Jawa Timur antara lain prasasti Pucangan, prasasti Anjukladang dan Pradah, prasasti Limus, prasasti Sirahketing, prasasti Wurara, prasasti Semangaka, prasasti Silet, prasasti Turun Hyang, dan prasasti Gandhakuti yang berisi penyerahan kedudukan putra mahkota oleh Airlangga kepada sepupunya yaitu Samarawijaya putra Teguh Dharmawangsa.

a. Kehidupan politik
Mpu Sindok kemudian digantikan oleh Sri Isana Tunggawijaya yang memerintah sebagai Ratu. Ia menikah dengan Raja Sri Lokapala dan dikaruniai seorang putra yang bernama Sri Makutawang Swardhana.
Berdasarkan Prasasti Pucangan yang berangka tahun 1019, silsilah raja di Mataram Jawa Timur adalah:

Pada akhir abad ke-10 M, Mataram diperintah oleh Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang memerintah sampai tahun 1016 M. Ia adalah salah seorang keturunan Mpu Sindok. Berdasarkan berita dari Cina, disebutkan bahwa Dharmawangsa pada tahun 990 M melakukan serangan ke Sriwijaya sebagai upaya mematahkan monopoli perdagangan Sriwijaya. Serangan tersebut gagal, malahan Sriwijaya berhasil menghasut Raja Wurawari (sekitar Banyumas) untuk menyerang istana Dharmawangsa pada tahun 1016. Akhirnya Sri Dharmawangsa yang mempunyai ambisi untuk meluaskan kekuasaannya, pada tahun 1016 M mengalami kehancuran (Pralaya) di tangan seorang raja bawahannya sendiri yaitu Raja Wurawari. Peristiwa ini terjadi pada saat Sri Dharmawangsa sedang melangsungkan acara pernikahan putrinya dengan Airlangga. Seluruh keluarga raja tewas termasuk Dharmawangsa, Airlangga yang berhasil menyelamatkan diri dan bersembunyi di Wonogiri (hutan gunung). Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa.
Pada tahun 1019, Airlangga yang merupakan menantu Dharmawangsa yang berasal dari Bali dinobatkan oleh para pendeta Buddha menjadi raja menggantikan Dhamawangsa. Ia segera mengadakan pemulihan hubungan baik dengan Sriwijaya, bahkan membantu Sriwijaya ketika diserang Raja Colamandala dari India Selatan. Pada tahun 1037 M Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Dharmawangsa, meliputi seluruh Jawa Timur Kemudian pada tahun 1037, Airlangga memindahkan ibu kota kerajaannya dari Daha ke Kahuripan.
Pada tahun 1042, Airlangga mengundurkan diri dari takhta kerajaan, lalu hidup sebagai petapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra). Menjelang akhir pemerintahannya Airlangga menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya Sangrama Wijaya Tunggadewi. Namun, putrinya itu menolak dan memilih untuk menjadi seorang petapa dengan nama Ratu Giriputri. Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi dua kerajaan. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya perang saudara di antara kedua putranya yang lahir dari selirnya. Kerajaan itu adalah: Kerajaan Janggala di sebelah timur diberikan kepada putra sulungnya yang bernama Garasakan (Jayengrana), dengan ibu kota di Kahuripan (Jiwana) meliputi daerah sekitar Surabaya sampai Pasuruan, dan Kerajaan Panjalu (Kediri) di sebelah barat diberikan kepada putra bungsunya yang bernama Samarawijaya (Jayawarsa), dengan ibu kota di Kediri (Daha), meliputi daerah sekitar Kediri dan Madiun.

Gambar 2.10 Airlangga sedang menunggang garuda
(Sumber: Chalif Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 10)

Raja-raja yang memerintah di Kediri antara lain: Jayawarsa, Jayabaya, Sarwewara, Gandara, Kameswara, dan Kertajaya. Pada masa Jayabaya Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaannya. Pada prasasti Ngantang dijelaskan bahwa Raja Jayabaya memberikan hadiah kepada rakyat desa Ngantang berupa tanah perdikan. Hadiah diberikan kepada rakyat tersebut karena telah membantu raja ketika terjadi peperangan dengan Jenggala. Kerajaan Janggala hanya berusia sekitar satu abad karena ditaklukkan oleh Kerajaan Panjalu pada tahun 1135. Waktu itu raja Panjalu bernama Jayabaya (1130¬1158). Selain dikenal sebagai raja yang mempersatukan kembali wilayah Airlangga, nama Jayabaya sering dikaitkan dengan ramalan-ramalan tentang nasib Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Jayabaya, pujangga Mpu Sedah dan Mpu Panuluh menulis Kakawin Bharatayudha yang menceritakan kemenangan Pandawa melawan Kurawa, sebagai bandingan terhadap kemenangan Panjalu atas Janggala.
Raja Panjalu yang terakhir adalah Kertajaya atau Dandang Gendis (1190-1222). Pada masa pemerintahannya, keadaan menjadi tidak stabil, terutama konflik antara raja dan kaum Brahmana. Konflik tersebut disebabkan oleh banyaknya kebijakan-kebijakan raja yang hendak mengurangi hak-hak kaum Brahmana. Konflik itu mencapai puncaknya dengan terjadinya peperangan antara Pasukan Kediri yang menyerang Tumapel yang terdiri dari rakyat Tumapel, kaum Brahmana yang dipimpin oleh Ken Angrok (dibaca: Ken Arok). Kerajaan ini pada tahun 1222 dikalahkan oleh Ken Angrok dari Singhasasri dalam pertempuran di Ganter. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Kerajaan Panjalu (Kediri).

b. Kehidupan ekonomi
Mpu Sindok memerintah dengan bijaksana. Hal ini bisa dilihat dari usaha¬usaha yang ia lakukan, seperti Mpu Sindok banyak membangun bendungan dan memberikan hadiah-hadiah tanah untuk pemeliharaan bangunan suci untuk meningkatkan kehidupan rakyatnya. Begitu pula pada masa pemerintahan Airlangga, ia berusaha memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Berantas dengan memberi tanggul-tanggul untuk mencegah banjir. Sementara itu dibidang sastra, pada masa pemerintahannya telah tercipta satu hasil karya sastra yang terkenal, yaitu karya Mpu Kanwa yang berhasil menyusun kitab Arjuna Wiwaha. Pada masa Kerajaan Kediri banyak informasi dari sumber kronik Cina yang menyatakan tentang Kediri yang menyebutkan Kediri banyak menghasilkan beras, perdagangan yang ramai di Kediri dengan barang yang diperdagangkan seperti emas, perak, gading, kayu cendana, dan pinang. Dari keterangan tersebut, kita dapat menilai bahwa masyarakat pada umumnya hidup dari pertanian dan perdagangan.

c. Kehidupan sosial-budaya
Dalam bidang toleransi dan sastra, Mpu Sindok mengi inkan penyusunan kitab Sanghyang Kamahayamikan (Kitab Suci Agama Buddha), padahal Mpu Sindok sendiri beragama Hindu. Pada masa pemerintahan Airlangga tercipta karya sastra Arjunawiwaha yang dikarang oleh Mpu Kanwa. Begitu pula seni wayang berkembang dengan baik, ceritanya diambil dari karya sastra Ramayana dan Mahabharata yang ditulis ulang dan dipadukan dengan budaya Jawa. Raja Airlangga merupakan raja yang peduli pada keadaan masyarakatnya. Hal itu terbukti dengan dibuatnya tanggul-tanggul dan waduk di beberapa bagian di Sungai Berantas untuk mengatasi masalah banjir. Pada masa Airlangga banyak dihasilkan karya-karya sastra, hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kebijakan raja yang melindungi para seniman, sastrawan dan para pujangga, sehingga mereka dengan bebas dapat mengembangkan kreativitas yang mereka miliki.
Pada kronik-kronik Cina tercatat beberapa hal penting tentang Kediri yaitu:
1) Rakyat Kediri pada umumnya telah memiliki tempat tinggal yang baik, layak huni dan tertata dengan rapi, serta rakyat telah mampu untuk berpakaian dengan baik.
2) Hukuman di Kediri terdapat dua macam yaitu denda dan hukuman mati bagi perampok.
3) Kalau sakit rakyat tidak mencari obat, tetapi cukup dengan memuja para dewa.

6. Kerajaan Singhasari
Sumber-sumber yang menyebutkan tentang kerajaan Singhasari antara lain prasasti Mulamalurung. Prasasti ini dikeluarkan oleh Wisnu Wardhana raja Singhasari yang isinya menyebutkan pemberian hadiah desa Dandea Malurung oleh Wisnu Wardhana kepada Pranaraja. Juga disebutkan susunan raja di kerajaan Singhasari. Silsilah itu antara lain:

Tohjaya dalam Prasasti Mulamalurung adalah Raja Daha, tetapi menurut kitab Pararaton merupakan raja dari Singhasari. Jika dilihat dari kekuatan sumber, maka Prasasti Mulamalurung merupakan sumber primer dibanding kitab Pararaton yang ditulis beberapa abad setelah Singhasari berakhir. Dari prasasti Mulamalurung kita dapat pahami bahwa di Jawa terdapat dua kerajaan yaitu Singhasari dan Kediri.

a. Kehidupan politik
Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Ken Angrok atas perintah Berihiang menyerang Kediri pada tahun 1222, dan berhasil mengalahkan Kertajaya. Ken Angrok selanjutnya mendirikan kerajaan Singhasari pada tahun 1222 M (abad ke-13 M) dengan pusat pemerintahannya di sekitar Kota Malang (Jawa Timur).
Sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada aman itu, dalam kitab Pararaton dikisahkan bahwa Ken Angrok adalah anak Dewa Brahma. Atas bantuan pendeta Lohgawe, Ken Angrok bekerja pada akuwu (bupati) Tumapel (Malang) yang bernama Tunggul Ametung. Tidak menutup kemungkinan, Ken Angrok itu ada hubungannya dengan Tunggul Ametung, Sebagaimana diketahui, ayah dari Ken Angrok masih dipertanyakan, yang ada hanya legenda tentang siapa ayah Ken Angrok. Ketika bekerja di sana, Ken Angrok menjalin hubungan asmara dengan istri muda Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes. Kemudian Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, lalu menikahi Ken Dedes yang sedang hamil, dan sekaligus menjadi Akuwu Tumapel yang baru. Silsilah Ken Angrok dan keluarganya dapat digambarkan sebagai berikut.

Pada masa itu Tumapel merupakan daerah kekuasaan Kediri (Daha). Raja Kertajaya berselisih dengan para pendeta (Brahmana), kemudian para Brahmana ini meminta perlindungan kepada Ken Angrok yang menjabat sebagai Akuwu di Tumapel. Kesempatan ini digunakan Ken Angrok untuk menggulingkan kekuasaan Kediri. Pada pertempuran di Ganter (1222), Kertajaya dapat dikalahkan. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri dikuasai. Di atas kekuasaannya ini, Ken Angrok menyatakan diri sebagai raja baru dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Nama Tumapel diganti menjadi Singhasari. Ken Angrok hanya memerintah lima tahun (1222-1227). Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Angrok mempunyai empat orang anak yaitu: Mahisa Wongateleng, Panji Saprang, Agni Bhaya, dan Dewi Rimba. Kemudian dari perkawinannya dengan istri yang lain, yaitu Ken Umang, Ken Angrok mempunyai anak bernama Panji Tohjaya.
Pada tahun 1227 M, Ken Angrok dibunuh oleh seseorang atas perintah Anusapati. Anusapati ternyata anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung atau anak tiri Ken Angrok. Setelah membunuh Ken Angrok, Anusapati menjadi raja Singhasari (1227-1248). Sepak terjang Anusapati ini didukung oleh Mahisa Wongateleng, anak Ken Dedes dari Ken Angrok. Dengan meninggalnya Ken Angrok, Tohjaya sebagai anak Ken Angrok dari Ken Umang ingin membalas kematian ayahnya. Untuk itu, pada tahun 1248, Anusapati dibunuh oleh Tohjaya. Dengan terbunuhnya Anusapati, Panji Tohjaya naik takhta menjadi Raja Singhasari. Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Ranggawuni serta Mahisa Campaka (anak Mahisa Wongateleng). Panji Tohjaya berhasil melarikan diri, tetapi ia meninggal di Katang Lumbang. Ranggawuni memberontak karena yang berhak atas kerajaan sepeninggal Anusapati adalah Waninghyun, yaitu istrinya. Dengan jatuhnya Tohjaya, maka Kerajaan Kediri yang dulunya merupakan bawahan Singhasari berhasil disatukan oleh Ranggawuni.
Ranggawuni memerintah Singhasari dari tahun1248-1268. Ia bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia didampingi oleh Mahisa Campaka (yang membantu Ranggawuni memberontak pada Panji Tohjaya) yang berkedudukan sebagai perdana menteri dengan gelar Narasingamurti. Pada tahun 1268 M, Raja Wisnuwardhana meninggal. Sepeninggal Wisnuwardhana, tampuk pemerintahan kerajaan dipegang oleh putranya yang bernama Kertanegara. Selanjutnya Kertanegara menjadi raja Singhasari (1268-1292). Dalam bidang politik, Kertanegara terkenal sebagai seorang raja yang mempunyai gagasan untuk meluaskan kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Nusantara. Hal itu tampak, ketika pada tahun 1275 M mengirimkan tentaranya ke Melayu. Ekspedisi itu dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu. Adapun tujuan ekspedisi ini adalah untuk memperluas kekuasaannya di luar Jawa yaitu termasuk Melayu dan Sriwijaya. Ekspedisi ini merupakan penjabaran dari pelaksanaan politik luar negeri Kerajaan Singhasari dalam rangka menahan serbuan tentara Mongol dibawah pimpinan Kaisar Kubhilai Khan yang sedang melakukan perluasan wilayah di Asia Tenggara.
Pada tahun 1280 dan 1281, datang utusan Kubhilai Khan ke Singhasari untuk meminta Singhasari tunduk dan takluk pada Kubhilai Khan. Akan tetapi perintah Kaisar Kubhilai Khan itu ditolak oleh Kertanegara dengan melakukan penghinaan diplomatik (merusak muka Meng Chi, utusan dari Kubhilai Khan). Kubhilai Khan sangat marah melihat tindakan Kertanegara kepada utusannya. Ia lalu mengirimkan pasukannya ke Jawa untuk menyerang Singhasari, sekaligus meng¬hukum Kertanegara. Keinginan Kubhilai Khan untuk menyerang Kerajaan Singhasari tidak terlaksana, karena pasukan Kubhilai Khan baru tiba di Singhasari pada tahun 1293 M, sementara Raja Kertanegara yang dicari-cari telah meninggal pada tahun 1292 M akibat serangan dari Jayakatwang (keturunan raja Kediri). Menurut kitab Pararaton, serangan Jayakatwang dilakukan halaman 12) pada bulan Mei dan Juni tahun 1292. Pasukan Singhasari yang pada saat itu dipimpin oleh menantu Kertanegara dan cucu Mahisa Cempaka, Raden Wijaya, berhasil dipancing pasukan Jayakatwang keluar dari keraton. Pasukan Jayakatwang berhasil masuk ke keraton dan membunuh Raja Kertanegara serta para pembesar keraton. Dengan meninggalnya Raja Kertanegara, berakhirlah Kerajaan Singhasari.

Gambar 2.11 Patung Kertanegara (Sumber : Lukisan Sejarah, Hal. 12)
Menurut Prasasti Kudadu, setelah terbunuhnya Kertanegara, Raden Wijaya dan keempat istrinya serta beberapa pengikutnya menyelamatkan diri dengan menyeberang ke Madura. Di Madura, mereka diterima oleh Bupati Sumenep, Arya Wiraraja.
Raden Wijaya menyerang balik Jayakatwang, dengan memanfaatkan pasukan Kubhilai Khan yang mendarat di Tuban yang bertujuan membalas penghinaan Kertanegara terhadap utusan Kubhilai Khan. Ia berhasil meyakinkan pasukan Cina bahwa Raden Wijaya mau mengakui kedaulatan Kubhilai Khan, pasukan Cina bersedia bergabung dengan pasukan Raden Wijaya untuk menghancurkan pasukan Jayakatwang. Bersama-sama dengan pasukan Kubhilai Khan, Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang. Jayakatwang sendiri ditawan oleh pasukan Mongol dan dibawa ke markas mereka di Ujung Galuh. Di tempat itu, Jayakatwang akhirnya dibunuh.
Setelah sukses menghancurkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang dan memukul mundur tentara Mongol di Daha dan Canggu. Akibat serangan ini, lebih dari 3000 tentara Mongol tewas dan sisanya melarikan diri dari Jawa untuk kembali ke negerinya.
b. Kehidupan ekonomi
Letak kerajaan Singhasari di tepi sungai Bengawan Solo. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa masyarakatnya aktif dalam kegiatan perekonomian pelayaran. Selain itu, dengan suburnya bumi Jawa, maka sektor pertanian pun menjadi bagian dari aspek perekonomian yang maju di Singhasari beserta hasil buminya. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh Kertanegara merupakan salah satu bukti bahwa negara berusaha meningkatkan kehidupan ekonominya dengan menguasai jalur perdagangan yang strategis.
c. Kehidupan sosial-budaya
Beberapa Raja Singhasari sangat memperhatikan kehidupan sosial rakyatnya, termasuk Ken Angrok. Jadi, wajar jika para Brahamana banyak meminta perlindungan ketika bersengketa dengan Raja Kediri. Namun, pada masa Anusapati, raja itu sibuk dengan kehidupan pribadinya, sehingga kehidupan sosial masyarakatnya banyak yang terabaikan. Pada masa pemerintahan Wishnuwardana, kehidupan sosial masyarakat kembali diperhatikan.
6. Kerajaan Majapahit

Gambar 2.12 Peta wilayah Kerajaan Majapahit
(Sumber: Chalid Latif, Atlas Sejarah Indonedia dan Dunia, halaman 14)

Berbicara tentang Kerajaan Majapahit berarti berbicara tetang sebuah puncak kejayaan dari peradaban Hindu-Buddha yang pernah hidup di Indonesia. Kerajaan Majapahit disebut sebagai kerajaan nasional Indonesia yang ke dua. Hal tersebut disebabkan oleh upaya yang besar dari kerajaan ini untuk mewujudkan suatu cita-cita yaitu penyatuan Nusantara. Dalam perjalanan Sejarah, upaya integrasi wilayah kepulauan Nusantara memang tidak sepenuhnya berlangsung dengan mulus dan dilakukakan dengan cara Ksatria. Peristiwa bubat yang disusul dengan perpecahan internal didalam tubuh majapahit sendiri menyebabkan cita-cita penyatuan tidak sepenuhnya dapat dilakukan. Meskipun demikian, pada amannya, Majapahit merupakan kerajaan yang mempunyai wibawa dan kekuatan yang besar, sehingga kerajaan lain harus berpikir ratusan kali untuk membelot atau memberontak terhadap kekuasaan yang ada.

a. Kehidupan politik
Berdirinya Kerajaan Majapahit sangat berhubungan dengan runtuhnya Kerajaan Singhasari. Sebagaimana yang kita pelajari sebelumnya, kerajaan Singhasari runtuh setelah salah satu raja vasalnya yaitu Jayakatwang mengadakan pemberontakan. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Singhasari terakhir, Kertanegara. Raden Wijaya beserta istri dan pengikutnya dapat meloloskan diri ketika Singhasari diserang Jayakatwang. Raden Wijaya meloloskan diri dan pergi ke Madura untuk menemui dan meminta perlindungan Bupati Sumenep dari Madura yaitu Aryawiraraja. Berkat Aryawiraraja juga, Raden Wijaya mendapat pengampunan dari Jayakatwang, bahkan Raden Wijaya sendiri diberi tanah di hutan Tarik dekat Mojokerto yang kemudian daerah itu dijadikan sebagai tempat berdirinya kerajaan
Majapahit.
Raden Wijaya kemudian menyusun kekuatan di Majapahit dan mencari saat yang tepat untuk menyerang balik Jayakatwang. Untuk itu, dia mencoba mencari dukungan kekuatan dari raja¬raja yang masih setia pada Singhasari atau raja yang kurang senang pada Jayakatwang. Kesempatan untuk menghancurkan Jayakatwang akhirnya muncul setelah tentara Mongol mendarat di Jawa untuk menyerang Kertanegara. Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya dengan cara memperalat mereka untuk menyerang Jayakatwang. Raden Wijaya bersama-sama dengan pasukan Kubhilai Khan berhasil mengalahkan pasukan Jayakatwang. Begitu pula Jayakatwang Indonesia dan Dunia, berhasil ditangkap dan lalu dibunuh oleh pasukan Kubhilai Khan.

Gambar 2.13 Raden Wijaya
(Sumber: Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 13)

Setelah Jayakatwang terbunuh, lalu Raden Wijaya melakukan serangan balik terhadap pasukan Kubhilai Khan. Raden Wijaya berhasil memukul mundur pasukan Kubhilai Khan, sehingga mereka terpaksa menyelamatkan diri keluar Jawa. Setelah berhasil mengusir pasukan Kubhilai Khan, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit pada tahun 1293 M dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.
Sebagai seorang raja yang besar, Raden Wijaya memperistri empat putri Kertanegara sebagai permaisurinya. Dari Tribuana, ia mempunyai seorang putra yang bernama Jayanegara, sedangkan dari Gayatri, Raden Wijaya mempunyai dua orang putri, yaitu Tribuanatunggadewi dan Rajadewi Maharajasa.
Para pengikut Raden Wijaya yang setia dan berjasa dalam mendirikan kerajaan Majapahit, diberi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan. Tetapi ada saja yang tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya. Hal ini menimbulkan pemberontakan di sana-sini. Pada tahun 1309 M, Raden Wijaya meninggal dunia dan didarmakan di Antahpura, dekat Blitar. Setelah Raden Wijaya meninggal dunia, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Jayanegara dengan gelar Sri Jayanegara.
Pada masa pemerintahannya, Jayanegara dirongrong oleh serentetan pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan ini datang dari Ranggalawe (1309), Lembu Sora (1311), Juru Demung dan Gajah Biru (1314), Nambi (1316), dan Kuti (1320).
DINASTI RAJASA (DINASTI GIRINDRA)

Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling berbahaya karena Kuti berhasil menduduki ibu kota Majapahit, sehingga raja Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah Badandea. Jayanegara diselamatkan oleh pasukan Bhayangkari di bawah pimpinan Gajah Mada. Berkat ketangkasan dan siasat jitu dari Gajah Mada, pemberontakan Kuti berhasil ditumpas. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan pada tahun 1321 M dan Patih di Daha (Kediri).
Pada tahun 1328, Jayanegara tewas dibunuh oleh Tabib Israna Ratanca, ia didharmakan di dalam pura di Sila Petak dan Bubat. Jayanegara tidak mempunyai putra, maka takhta kerajaan digantikan oleh adik perempuannya yang bernama Tribhuanatunggadewi. Ia dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar Tribhuanatunggadewi Jaya Wisnu Wardhani. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Sebagai penghargaan atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih di Majapahit oleh Tribhuanatunggadewi.
Di hadapan raja dan para pembesar Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa. Isi sumpahnya, ia tidak akan Amukti Palapa sebelum ia dapat menundukkan Nusantara, yaitu Gurun, Seran, Panjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik.
Dalam rangka mewujudkan cita-citanya, Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1334, kemudian Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Sumatra, dan beberapa daerah di Semenanjung Malaka. Seperti yang tercantum dalam kitab Negarakertagama, wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit sangat luas, yakni meliputi daerah hampir seluas wilayah Republik Indonesia sekarang.
Tribhuanatunggadewi memerintah selama dua puluh dua tahun. Pada tahun 1350, ia mengundurkan diri dari pemerintahan dan digantikan oleh putranya yang bernama Hayam Wuruk. Pada tahun 1350 M, putra mahkota Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara dan ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.
Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Wilayah kekuasaan Majapahit meliputi seluruh Nusantara. Pada saat itulah cita-cita Gajah Mada dengan Sumpah Palapa berhasil diwujudkan.
Usaha Gajah Mada dalam melaksanakan politiknya, berakhir pada tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa di Bubat, yaitu perang antara Pajajaran dengan Majapahit. Pada waktu itu, Hayam Wuruk bermaksud untuk menikahi putri Dyah Pitaloka. Sebelum putri Dyah Pitaloka dan ayahnya beserta para pembesar Kerajaan Pajajaran sampai di Majapahit, mereka beristirahat di lapangan Bubat. Di sana terjadi perselisihan antara Gajah Mada yang menghendaki agar putri itu dipersembahkan oleh raja Pajajaran kepada raja Majapahit. Para pembesar Kerajaan Pajajaran tidak setuju, akhirnya terjadilah peperangan di Bubat yang menyebabkan semua rombongan Kerajaan Pajajaran gugur.
Pada tahun 1364 M, Gajah Mada meninggal dunia. Hal itu merupakan kehilangan yang sangat besar bagi Majapahit. Kemudian pada tahun 1389 Raja Hayam Wuruk meninggal dunia. Hal ini menjadi salah satu penyebab surutnya kebesaran Kerajaan Majapahit di samping terjadinya pertentangan yang berkembang menjadi perang saudara.
Setelah Hayam Wuruk meninggal, takhta Kerajaan Majapahit diduduki oleh Wikramawardhana. Ia adalah menantu Hayam Wuruk yang menikah dengan putrinya yang bernama Kusumawardhani. Ia memerintah Kerajaan Majapahit selama dua belas tahun.
Pada tahun 1401 mulai timbul persengketaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi. Bhre Wirabhumi adalah anak Hayam Wuruk dari istri selirnya. Kemudian meletuslah perang saudara, yang dikenal dengan nama Perang Paregreg, yang berhasil dimenangkan oleh Wikramawardhana. Tetapi, pertentangan antarkeluarga ini belum reda dan menimbulkan perasaan balas dendam.
Pada tahun 1429 M, Wikramawardhana meninggal dunia. Selanjutnya raja-raja yang memerintah Majapahit setelah Wikramawardhana adalah:
a. Suhita (1429 M 1447 M), putri Wikramawardhana;
b. Kertawijaya (1448 M 1451 M), adik Suhita;
c. Sri Rajasawardhana (1451 M 1453 M);
d. Girindrawardhana (1456 M 1466 M), anak dari Kertawijaya;
e. Sri Singhawikramawardhana (1466 M 1474 M);
f. Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

Runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka (1478 M) dijelas¬kan dalam Chandra Sengkala yang berbunyi, “Sirna ilang Kertaning-Bhumi” dengan adanya peristiwa perang saudara antara Dyah Ranawijaya dengan Bhre Kahuripan. Selain itu, keruntuhan Majapahit disebabkan karena serangan dari Kerajaan Islam Demak.
Antara tahun 1518 dan 1521, kekuasaan Kerajaan Majapahit telah beralih dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus penguasa dari Demak. Demikianlah riwayat dari Kerajaan Majapahit yang merupakan suatu kerajaan besar di Nusantara.

b. Kehidupan ekonomi
Di bidang ekonomi, Hayam Wuruk menaruh perhatian pada pertanian dan perdagangan dengan menjadikan Tuban sebagai salah satu pusat perdagangan Majapahit. Berdasarkan berita Cina bernama Wng Ta-Yuan yang menggambarkan pulau Jawa yang padat penduduknya, tanahnya subur dan banyak menghasilkan padi, lada, garam, kain, dan burung kakatua yang semuanya merupakan barang ekspor. Hayam Wuruk berusaha untuk menyejahterakan rakyatnya dengan membuat saluran pengairan, pembuatan bendungan, dan pembukaan tanah baru untuk perladangan.

c. Kehidupan sosial-budaya
Di bidang sosial-budaya, Hayam Wuruk berhasil membangun candi, antara lain Candi Panataran, Candi Tegalwangi, Candi Sumber Jati, dan bangunan lainnya di daerah Trowulan (Mojokerto) yang menjadi pusat pemerintahan Majapahit. Selain membangun candi, dihasilkan juga pada masa kekuasaannya beberapa hasil karya kesusastraan seperti naskah Negarakertagama, Sutasoma, Arjuna Wijaya, dan sebagainya. Dalam naskah Sutasoma terdapat istilah “Bhinneka Tunggal Ika” yang sekarang menjadi motto negara Indonesia untuk menyatukan persatuan dan kesatuan bangsa.
8. Kerajaan Sunda

Gambar 2.14 Peta wilayah Kerajaan Sunda
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 12)

Berita tentang kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Barat setelah kerajaan Tarumanegara terdapat dalam naskah Carita Parahyangan, sebuah sumber berbahasa Sunda Kuno yang ditulis sekitar abad ke-19. Kerajaan Sunda yang berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat merupakan kerajaan yang bercorak Hindu cukup kuat dan sedikit menerima pengaruh Buddha. Dalam Carita Parahyangan diceritakan bahwa Sanjaya adalah anak dari Sena yang berkuasa di Galuh. Sanjaya disebut sebagai menantu raja Sunda yang bernama Tarusbawa, dan bergelar Tohaan di Sunda.
Pada suatu saat terjadi perebutan kekuasaan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu dari raja Sena. Kemudian Sena dibuang ke Gunung Merapi oleh keluarganya. Setelah dewasa, Sanjaya mencari perlindungan kepada saudara tua ayahnya. Sanjaya kemudian dapat mengalahkan Rahyang Purbasora dan kemudian diangkat menjadi raja Galuh.
Dalam Carita Parahyangan juga disebutkan bahwa Raja Sanjaya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil bernama Manunggul, Kahuripan, Kadul, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina. Kerajaan-kerajaan tersebut diperkirakan terletak di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah bagian barat menjadi bagian dari kerajaan Galuh.
Hal yang menarik dari isi Carita Parahyangan ini adalah nama Sena dan Sanjaya. Dua nama ini tercantum juga dalam prasati Canggal (732 M), yang menceritakan asal usul raja pertama dari dinasti Sanjaya di Kerajaan Mataram Lama. Dalam prasasti Canggal selain tercantum nama Sanjaya disebutkan juga adanya dua tokoh yaitu, Sanna dan Sanaha. Sanjaya adalah anak Sanaha. Membandingkan isi Carita Parahyangan dengan prasasti Canggal, kemungkinan Sanjaya adalah orang yang sama, sedangkan Sanaha dalam prasasti Canggal, kemungkinan Sena dalam Carita Parahyangan. Dengan demikian, di Jawa Barat pada masa itu ada kerajaan yang berpusat di Galuh dengan rajanya Sanjaya.
Prasasti Sahyang Tapak (1030), merupakan sumber lain yang menyebutkan adanya kerajaan di Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan di tepian Sungai Citatih, Cibadak, Sukabumi dan berbahasa Jawa Kuno, berhuruf kawi. Dalam prasasti ini disebutkan tentang adanya raja yang bernama Sri Jayabhupati Jayamanahen, Wisnumurti amararijaya, Sakalabhuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramatunggadewa. Raja ini dianggap sebagai rangkaian dari raja-raja Sunda sebelumnya. Sri Jayabhupati adalah raja Sunda yang memiliki kekuasaannya di Pakuan Pajajaran. Dia beragama Hindu aliran Waisnawa. Hal ini dapat terlihat dari gelarnya Wisnumurti. Diperkirakan, pusat kerajaan Sunda dipindahkan dari Galuh ke Pakuan Pajajaran di Jawa Barat bagian tengah. Setelah raja Jayabhupati wafat, ibu kota kerajaan dipindahkan lagi ke Kawali (Ciamis).
Pusat kerajaan pindah ke Kawali, pada masa Raja Rahyang Niskala Wastu Kencana yang menggantikan Sri Jayabhupati. Ia mendirikan keraton Surawisesa, membuat saluran air di sekeliling keraton, dan membangun desa¬desa untuk kepentingan rakyatnya. Rahyang Niskala Wastu Kencana dimakamkan di Nusalarang, sedangkan penggantinya Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kancana) dimakamkan di Gunung Tiga.
Menurut Kitab Pararaton dan Carita Parahyangan, Rahyang Dewa Niskala digantikan oleh Sri Baduga Maharaja. Raja ini meninggal setelah tujuh tahun memerintah karena tewas dalam peristiwa Bubat pada tahun 1357, setelah Sri Baduga menolak mengakui kedaulatan Majapahit. Setelah Sri Baduga, kerajaan Sunda selanjutnya diperintah oleh, Hyang Bunisora (1357-1371), Prabu Niskala Wastu Kencana (1371-1374), digantikan oleh anaknya Tohaan di Galuh (1475-1482), Ratu Jayadewata (1482-1521).
Pada masa pemerintahan Ratu Jayadewata yang menurut prasasti Batutulis memerintah di ibu kota lama Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda mulai terancam oleh orang-orang yang tidak setia pada kerajaan. Mereka adalah penduduk pajajaran yang mulai menganut Islam, terutama yang tinggal di pesisir utara. Banten dan Cirebon telah berubah menjadi pelabuhan yang dikuasai oleh orang Islam. Merasa khawatir dengan perkembangan baru di pesisir utara, Ratu Jayadewata mengutus Ratu Samiam ke Malaka untuk meminta bantuan pasukan Portugis memerangi orang-orang Islam. Hal ini ditegaskan dalam berita Portugis bahwa pada tahun 1512 dan 1521 datang utusan dari kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Ratu Samiam. Ratu Samiam dalam berita Portugis ini sama dengan Prabu Surawisesa dalam Carita Parahyangan. Prabu Surawisesa menjadi raja dan memerintah tahun 1521-1535.

a. Kehidupan politik
Sumber sejarah yang penting dalam sejarah tatar sunda adalah Carita Parahyangan yang merupakan sumber yang berbahasa Sunda Kuno yang ditulis sekitar abad ke-19. Di dalam carita parahyangan ini diceritakan bahwa Sanjaya adalah anak dari Sena yang berkuasa di Galuh. Sanjaya disebutkan pula sebagai menantu raja Sunda yang bernama Tarusbawa, dan bergelar Tohaan di Sunda (yang dipertuan di Sunda). Diceritakan pula bahwa pada suatu saat terjadi perebutan kekuasaan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu dari Raja Sena. Kemudian Sena dibuang ke Gunung Merapi oleh keluarganya. Namun setelah dewasa, Sanjaya mencari perlindungan kepada saudara tua ayahnya. Sanjaya kemudian dapat mengalahkan Rahyang Purbasora dan kemudian diangkat menjadi raja Galuh. Kerajaan ini terletak di sebelah barat sungai Citarum.
Pada sumber prasasti yang ditemukan di Sukabumi, tercantum nama Sri Jayabuphati yang merupakan salah satu raja Sunda. Jayabhupati adalah Raja Sunda yang beragama Hindu dan pusat kekuasaannya terletak di Pakuan Pajajaran. Penggantinya yaitu Rahyang Niskala Wastu Kencana memindahkan kerajaannya ke Kawali (Ciamis sekarang) dia tinggal di keraton yang bernama Surawisesa. Rahyang Ningrat mengantikan ayahnya yaitu Rahyang Niskala Wastu Kencana yang dilanjutkan kemudian oleh Sri Baduga. Pada masa Sri Baduga terjadi peristiwa besar yaitu perang Bubat yang membuat beliau, putrinya, serta utusan yang ikut serta ke Majapahit tewas. Dengan meninggalnya Sri Baduga, maka pemerintahan dipegang oleh Hyang Bunisora (1357-1371). Bunisora digantikan oleh Prabu Niskala Wastu Kencana yang memerintah hampir 100 tahun lamanya yaitu dari (1371-1474).
Pada masa kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Surawisesa, agama Islam mulai berkembang di Cirebon dan Banten. Hal tersebut membuat Prabu berusaha mencari sekutu untuk memperkuat kedudukannya melawan Islam.
Kemudian dia bersekutu dengan Portugis yang sudah berhasil menguasai Malaka. Tindakan tersebut membuat kerajaan Demak di bawah Sultan Trenggono harus mengambil tindakan untuk menghentikan pengaruh Portugis di Jawa. Oleh karena itu, beliau memerintahkan menantunya yaitu Fatahillah atau dipanggil juga Wong Agung untuk menyerang Portugis di Sunda Kalapa dan menguasai pelabuhan tersebut. Hal itu akan berdampak politik, karena akan semakin membuat Kerajaan Sunda menjadi terisolir dan menghambat atau mungkin menghancurkan kekuatan Portugis yang hendak menguasai Jawa. Sebelum menguasai Sunda Kalapa, pasukan Demak dan Banten mulai menaklukkan daerah-daerah sekitar Banten dan Sunda Kalapa. Pada pertempuran di Sunda Kalapa antara Demak dan Portugis, Pasukan Fatahillah berhasil menghancurkan Portugis. Lalu, Fatahillah mengubah kota Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Pada masa Raja Nuisya Mulya, Kerajaan Sunda jatuh ke tangan tentara Islam, sehingga berakhirlah Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang besar, sampai Majapahit pun sulit dan tidak bisa untuk menaklukannya.

b. Kehidupan ekonomi dan sosial budaya
Berdasarkan berita yang diperoleh dari bangsa Portugis, kehidupan ekonomi masyarakat di Kerajaan Sunda dapat digambarkan. Menurut berita tersebut, ibu kota Kerajaan Sunda terletak di pedalaman, sejauh dua perjalanan dari pesisir pantai utara. Para pedagang dari kerajaan Sunda sudah mampu melakukan transaksi perdagangan dengan pedagang asing dari kerajaan-kerajaan lain, seperti Malaka, Sumatra, Jawa Tengah dan Timur, Makassar. Kegiatan perdagangan antarpulau itu didukung oleh pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda yaitu Kelapa, Banten, Pontang, Cigede. Dengan demikian, kegiatan perekonomian pada sektor perdagangan di Kerajaan Sunda cukup maju. Komoditas yang diperdagangkan antara lain: lada, beras, hewan ternak, sayuran, buah-buahan. Untuk mendukung dan kelancaran perdagangan dari pesisir ke pedalaman, maka dibangunlah jalan yang baik.
Selain sektor perdagangan, Kerajaan Sunda pun mengembangkan sektor pertanian yaitu berladang. Watak masyarakat Sunda yang senang berpindah¬pindah terlihat dari kegiatan berladang mereka. Tidak heran jika ibu kota Kerajaan Sunda sering berpindah-pindah, hal itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakatnya yang senang berpindah-pindah.
Berdasarkan naskah Sahyang Siksakanda ng Karesian, susunan masyarakat terbagi ke dalam berbagai kelompok ekonomi yaitu: pandai besi, pahuma, penggembala, pemungut pajak, mantri, bhayangkara dan prajurit, kelompok rohani dan cendkiawan, maling, begal, dan copet.

9. Kerajaan Bali

Gambar 2.15 Peta wilayah Kerajaan Bali (Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 12)
a. Kehidupan politik
Nama Bali sudah lama dikenal dalam beberapa sumber kuno. Dalam berita Cina abad ke-7 disebut adanya nama daerah yang bernama Dwa-pa-tan, yang terletak di sebelah timur Kerajaan Holing (Jawa). Menurut para ahli nama Dwa-pa-tan ini sama dengan Bali. Adat istiadat penduduk Dwa-pa-tan ini sama dengan di Holing, yaitu setiap bulan padi sudah dipetik, penduduknya menulis dengan daun lontar, orang yang meninggal dihiasi dengan emas, dan ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas serta diberi harum¬haruman, kemudian mayat itu dibakar.
Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, pengaruh Buddha datang terlebih dahulu dibandingkan dengan pengaruh Hindu. Prasasti yang berangka tahun 882 M, menggunakan bahasa Bali menerangkan tentang pemberian i in kepada para biksu untuk mendirikan pertapaan di Bukit Cintamani. Pengaruh Hindu di Bali berasal dari Jawa Timur, ketika Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, ada sebagian penduduk yang melarikan diri ke Bali, sehingga banyak penduduk Bali sekarang yang menganggap dirinya keturunan dari Majapahit.
Prasasti yang menceritakan raja yang berkuasa di Bali ditemukan di desa Blanjong, dekat Sanur. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa raja yang bernama Khesari Warmadewa, istananya terletak di Sanghadwala. Prasasti ini ditulis dengan huruf Nagari (India) dan sebagian lagi berhuruf Bali Kuno, tetapi berbahasa Sanskerta. Prasasti ini berangka tahun 914 M (836 saka), dalam Candrasengkala berbunyi Khecara-wahni-murti.
Raja selanjutnya yang berkuasa adalah adalah Ugrasena pada tahun 915 M. Ugrasena digantikan oleh Tabanendra Warmadewa (955-967 M). Tabanendra kemudian digantikan oleh Jayasingha Warmadewa, ia membangun dua buah pemandian di desa Manukraya. Pemandian ini merupakan sumber air yang dianggap suci. Jayasingha kemudian digantikan oleh Jayasadhu Warmadewa yang memerintah dari tahun 975-983 M. Tidak banyak berita yang menceritakan masa kekuasaannya.
Jayasadhu digantikan oleh adiknya Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi, seorang raja perempuan. Ia kemudian digantikan oleh Dharmodayana yang terkenal dengan nama Udayana yang naik takhta pada tahun 989 M. Dharmodayana memerintah bersama permaisurinya bernama Gunapriyadharmapadmi, anak dari raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Gunapriyadharmapadmi meninggal pada tahun 1001 M dan dicandikan di Burwan. Udayana memerintah sampai tahun 1011 M. Pada tahun itu, ia meninggal dan dicandikan di Banu Weka. Pernikahannya dengan Gunapriya menghasilkan tiga orang putra yaitu, Airlangga yang menikah dengan putri Dharmawangsa (raja Jawa Timur), Marakata, dan Anak Wungsu.
Airlangga tidak memerintah di Bali, ia menjadi raja di Jawa Timur. Anak Udayana yang memerintah di Bali, yaitu Marakata memerintah dari tahun 1011-1022, ia bergelar Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana Uttuganggadewa. Masa pemerintahan Marakata bersamaan dengan masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur. Marakata adalah raja yang sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya, sehingga ia dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Untuk kepentingan peribadatan, ia membangun prasada atau bangunan suci di Gunung Kawi daerah Tampak Siring, Bali.
Marakata digantikan oleh adiknya Anak Wungsu, yang memerintah dari tahun 1049-1077. Pada masa pemerintahannya, keadaan negeri sangat aman dan tenteram. Rakyat hidup dengan bercocok tanam, seperti padi gaga, kelapa, enau, pinang, bambu, dan kemiri. Selain itu, rakyat juga memelihara binatang seperti kerbau, kambing, lembu, babi, bebek, kuda, ayam, dan anjing. Anak Wungsu tidak memiliki anak dari permaisurinya. Ia meninggal pada tahun 1077 M dan didharmakan di gunung Kawi dekat Tampak Siring.

Gambar 2.16 Kelompok candi Padas di Gunung Kawi (Tampaksiring) Bali
(Sumber: Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, halaman 508)

Beberapa raja yang memerintah Kerajaan Bali setelah Anak Wungsu, diantaranya Sri Maharaja Sri Walaprahu, Sri Maharaja Sri Sakalendukirana, Sri Suradhipa, Sri Jayasakti, Ragajaya, dan yang lain sampai pada Paduka Bhatara Sri Asta Asura Ratna sebagai raja terakhir Bali. Sebab pada tahun 1430 M, Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit.
Sejak Bali ditaklukkan oleh Majapahit, kerajaan di Bali diperintah oleh raja-raja yang berasal dari keturunan Jawa (Jawa Timur). Oleh karena itu, raja-raja yang memerintah selanjutnya menganggap dirinya sebagai Wong Majapahit artinya keturunan Majapahit.
2. Kehidupan ekonomi
Kehidupan ekonomi yang berkembang di Bali adalah sektor pertanian. Hal itu dapat dibuktikan dengan kata-kata yang terdapat dalam berbagai prasasti yang menunjukkan usaha dalam sektor pertanian, seperti suwah, parlak (sawah kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), dan kaswakas (pengairan sawah).
3. Kehidupan sosial budaya
Struktur masyarakat Bali dibagi ke dalam empat kasta, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Tetapi pembagian kasta ini tidak seketat seperti di India. Begitu pula dalam pemberian nama awal pada anak-anak di lingkungan masyarakat Bali memiliki cara yang khas, yaitu:
a. Wayan untuk anak pertama;
b. Made untuk anak kedua;
c. Nyoman untuk anak ketiga;
d. Ketut untuk anak keempat.
Tetapi ada juga nama Putu untuk panggilan anak pertama dari kasta
Brahmana dan Ksatria.

4. Kepercayaan
Masyarakat Bali banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan India, terutama Hindu. Sampai sekarang, masyarakat Bali masih banyak yang menganut agama Hindu. Namun demikian, agama Hindu yang mereka anut telah bercampur dengan budaya masyarakat asli Bali sebelum Hindu.
Masyarakat Bali sebelum Hindu merupakan kelompok masyarakat yang terikat oleh hubungan keluarga dan memuja roh-roh nenek moyang yang mereka anggap dapat menolong dan melindungi kehidupan keluarga yang masih hidup. Melalui proses sinkretisme ini, lahirlah agama Hindu Bali yang bernama Hindu Dharma.

B. SISTEM DAN STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT PADA MASA KERAJAAN-KERAJAAN HINDU-BUDDHA
Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, sistem dan struktur sosial masyarakat Indonesia mulai dikenal. Sesuai dengan stratifikasi sosial Hindu, masyarakat terbagi ke dalam kelas¬kelas sosial yaitu kelas Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Tetapi klasifikasi itu tidak ketat seperti di India. Kelas Brahmana merupakan kasta tertinggi. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam keagamaan. Kasta kedua adalah kelas Ksatria, yaitu kaum bangsawan, para raja beserta keluarganya. Kasta ketiga adalah kelas Waisya, yang terdiri atas kaum pedagang. Sedangkan kelas yang paling rendah adalah Sudra, yang termasuk dalam kelas ini adalah para petani dan kaum buruh.

Masyarakat pada kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, selain mendapat penggolongan berdasarkan agama, dibagi juga berdasarkan golongan elite dan golongan rakyat biasa. Adapun yang termasuk golongan elite adalah raja dan keluarganya beserta aparat pemerintahannya. Golongan ini tinggal di ibu kota kerajaan. Sedangkan yang termasuk rakyat biasa adalah mereka yang berada di luar golongan elite dan biasanya mereka tersebar di daerah¬daerah yang menjadi daerah kekuasaan kerajaan.
Mereka yang bukan penganut agama Hindu maupun Buddha, dan masih memeluk kepercayaan leluhur nenek moyang mereka. Pada kerajaan-kerajaan tertentu tidak dimasukkan ke dalam kelompok kasta. Kelompok seperti ini ada, terutama pada kerajaan-kerajaan Hindu tertua seperti Kerajaan Kutai dan Tarumanegara. Pada kerajaan tua ini diperkirakan agama Hindu-Buddha masih banyak dianut oleh kalangan atas, sedangkan kalangan bawah belum tersentuh banyak oleh pengaruh India (Hindu-Buddha). Sumber Fa-hsien menyebutkan bahwa di kerajaan Tarumanegara terdapat kelompok masyarakat yang beragama kotor. Ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan agama kotor yaitu agama penduduk asli masyarakat setempat yang belum dipengaruhi oleh budaya India.
Letak kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia sebagian besar berada di pedalaman. Letak kerajaan yang demikian mengakibatkan kehidupan masyarakat lebih banyak berpijak pada kehidupan agraris. Oleh sebab itu, sebagian terbesar kehidupan sosial masyarakatnya merupakan masyarakat petani. Pertanian yang dilakukan, baik pertanian dalam bentuk pembuatan sawah maupun perkebunan, terutama menanam buah dan sayur-sayuran. Dalam beberapa prasasti atau sumber lainnya tentang kerajaan Hindu-Buddha, terdapat informasi tentang pertanian. Prasasti Tugu dari kerajaan Tarumanagara menyebutkan tentang pembuatan saluran oleh raja Tarumanegara, yang berfungsi untuk mengairi pesawahan penduduk. Pertanian menjadi salah satu sumber pendapatan negara, sehingga menjadi pusat perhatian kerajaan. Di Mataram ada pejabat khusus yang menangani masalah pertanian yaitu huluair, petugas yang mengurus masalah pengairan di desa. Selain itu, ada pula petugas di desa yang mengurusi masalah persediaan beras atau padi yaitu hulu wras.
Di Bali pada masa kekuasaan setelah Udayana, penduduknya disebut karaman dan thani. Sebutan ini berkaitan dengan sebagian besar kehidupan penduduk Bali pada masa itu dari pertanian. Begitu pula cara pertanian yang dilakukan masyarakat Sunda yaitu dengan cara ngahuma yaitu menanam padi tidak di sawah tetapi di kebun, atau lahan yang tidak digenangi air seperti halnya sawah. Di dalam naskah Siksakanda ng Karesian terdapat kata¬kata yang berhubungan dengan alat-alat pertanian seperti kujang, patik, baliung, kored dan sadap.
Selain pertanian sawah, masyarakat Indonesia pada masa kerajaan Hindu-Buddha sudah pula bertani tanam-tanaman dan buah-buahan. Beberapa tanam¬tanaman yang sudah dikenal yaitu nyu atau tirisan (kelapa), pring (bambu), hano (enau), kamiri (kemiri), kapulaga (kapulaga), kusumbha (kesumba), tals (talas), bawang bang (bawang merah), pipakan (jahe), Mulaphala (umbi-umbi lainnya, wortel), hartak (kacang hijau), pucang (pinang), jeruk (jeruk), lunak atau camalagi (asam), pisang atau byu (pisang), sarwaphala (buah-bauhan), sarwawija (padi-padian), kapas (kapas), kapir (kapuk randu), damar (damar) dan lain-lain.
Selain bertani, terdapat pula kelompok masyarakat yang bekerja dalam berbagai bidang, seperti peternak, pemburu, pedagang, pelaut, penangkap ikan, pengrajin, pekerja seni dan pekerja-pekerja lainnya. Peternakan sapi diperkirakan sudah ada pada masa kerajaan Kutai dan Tarumanegara karena dalam beberapa prasasti disebutkan mengenai persembahan sapi yang jumlahnya ribuan oleh raja untuk golongan Brahmana. Salah satu prasasti Yupa menyebutkan bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan telah menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana. Sedangkan dalam prasasti Tugu di Kerajaan Tarumanegara menyebutkan bahwa Raja Purnawarman menghadiahkan seribu ekor sapi untuk kaum Brahmana dalam upacara selamatan pembuatan sungai Gomati. Di kerajaan-kerajaan Bali, terdapat petugas khusus yang berurusan dengan peternakan. Pejabat tersebut bernama Tuhan-jawa (ketua ternak bersayap). Jenis-jenis ternak yang dipelihara oleh rakyat yaitu itik, wdus (kambing), lembu (sapi), kbo atau karambo (kerbau), asu (anjing), jaran atau asba (kuda), hayam (ayam), manuk (ayam jantan).
Kehidupan maritim ada pada kerajaan-kerajaan yang berbentuk kerajaan maritim seperti Sriwijaya. Kerajaan ini merupakan kerajaan besar yang kehidupan perekonomiannya tergantung pada lalu lintas di lautan. Selain Sriwijaya, Kerajaan Sunda memiliki juga pelabuhan yang penting, seperti pelabuhan Sunda Kelapa. Melalui pelabuhan ini, ibu kota kerajaan yang ada di pedalaman dapat berhubungan dengan pihak luar.

C. STRUKTUR BIROKRASI ANTARA KERAJAAN-KERAJAAN HINDU-BUDDHA DI BERBAGAI DAERAH
Struktur birokrasi kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia biasanya diatur berdasarkan kerajaan pusat-daerah dan pusat¬vasal (bawahan). Hubungan antara va al dengan kerajaan pusat terbentuk karena adanya upaya penaklukan. Kerajaan va al wajib memberikan upeti kepada kerajaan pusat.

Kedudukan raja sangat sentral dalam pemerintahan karena adanya kepercayaan bahwa raja adalah wakil dewa di muka bumi. Pandangan ini membuat posisi raja menjadi sangat sakral. Apabila raja meninggal yang berhak menggantikannya adalah anak laki-laki pertama dari permaisurinya. Untuk menjalankan roda pemerintahannya raja dibantu oleh pejabat-pejabat yang membentuk birokrasi pemerintahan.
Kedudukan raja di kerajaan Mataram berkaitan dengan unsur kosmologi. Manusia adalah mikrokosmos dan jagad raya adalah makrokosmos. Dalam konsepsi Hindu-Buddha, hubungan antara manusia dengan jagad raya adalah hubungan kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos. Menurut kepercayaan ini, manusia senantiasa berada di bawah pengaruh tenaga-tenaga yang bersumber pada penjuru mata angin, bintang-bintang, dan planet-planet. Tenaga-tenaga ini mungkin menghasilkan kesejahteraan atau kehancuran, sehingga manusia harus dapat menyesuaikan kehidupan dan kegiatan mereka dengan jagad raya. Kerajaan adalah gambaran sebuah jagad raya dalam bentuk kecil. Penguasa makrokosmos adalah dewa, sedangkan penguasa mikrokosmos adalah raja, sehingga lahirlah konsep dewa-raja. Raja adalah wakil dewa di muka bumi, kedudukannya dianggap sebagai titisan dari dewa. Hubungan antara raja dan rakyat membentuk struktur yang patrimonial. Dalam hubungan ini tercipta hubungan kawula-gusti. Rakyat lebih banyak melakukan kewajibannya.
Terdapat perbedaan penting mengenai struktur pemerintahan pada kerajaan agraris dan kerajaan maritim. Pada kerajaan maritim seperti Sriwijaya, raja mengawasi langsung pada daerah-daerah yang menjadi pusat-pusat perdagangan. agar tidak ada gangguan terhadap aktivitas perdagangan. Selain itu, raja mengangkat para syahbandar yang mengurusi kegiatan-kegiatan di pelabuhan, sedangkan pada kerajaan agraris, raja tidak melakukan pengawasan langsung kepada kekuasaan-kekuasaan di daerah. Raja mengangkat para pejabat yang berkuasa di daerah-daerah. Di kerajaan Mataram, yang menjadi pejabat pusat kerajaan adalah para putra raja dan pejabat-pejabat tertentu yang diangkat oleh raja.
Putra-putra raja Mataram yang menjabat, mendapat gelar rakarayan mapatih i hino, rakarayan i halu, rakarayan i sirikin, dan wka. Pejabat pusat yang setingkat dengan putra raja yaitu pamgat tiruan. Pejabat pusat yang kedudukannya di bawah kelima pejabat tersebut di atas, bergelar rake halaran, rake pangilhyan, rake wlahan, pamgat manhuri, rake lanka, rake tanjung, pankur, tawan/hahanan, tirip, pamgat wadihati dan pamgat makudur. Belum ditemukan secara pasti tugas masing-masing pejabat, dalam prasasti-prasasti yang ada. Hanya diperkirakan pamgat wadihati dan pamgat makudur bertugas sebagai pemimpin upacara pada saat penetapan sima. Sima adalah suatu wilayah yang akan dijadikan daerah sumber pandapatan pajak kerajaan. Pankur, tawan dan tirip bertugas mengurusi pajak yang masuk ke kas kerajaan.
Di kerajaan Bali, terdapat suatu Badan Penasihat Pusat yang disebut pakira-kira I jero makabehan. Badan yang berkedudukan di pusat ini beranggotakan beberapa orang Senapati serta pendeta Siwa dan Buddha. Selain pejabat Senapati, terdapat pula pejabat lainnya seperti Samgat ser Krangan, Samgat ser Kahyangan, Samgat Nayakan Buru, Samgat Caksu Wsi, Samgat Taji, Nayakan jawa, dan sebagainya. Kata ser artinya kepala atau pimpinan, kragan berarti orang yang tidak mempunyai turunan, caksu berarti mata atau pengawas, taji berhubungan dengan sambung ayam, sedangkan ser khayangan berarti pemimpin atau pengawas bangunan suci. Para pendeta di Bali masuk dalam struktur birokrasi kerajaan. Pejabat agama ini memiliki tugas berkaitan dengan pelaksanaan upacara keagamaan dan terdiri atas dua bagian yaitu untuk agama Siwa bergelar Dharmmadhyaksa ring Kasaiwan, sedangkan untuk golongan Buddha bernama Dharmmadhyaksa ring Kasogatan.
Kerajaan Sunda memiliki struktur birokrasi pemerintahan yang terpusat pada raja, raja adalah penguasa tertinggi di pusat. Raja dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari dibantu oleh mangkubumi yang membawahi beberapa orang nu nanganan. Di samping itu terdapat putra mahkota yang akan menggantikan kedudukan raja, jika raja mengundurkan diri atau meninggal dunia. Raja dibantu oleh beberapa orang raja yang berada di daerah, untuk mengurus daerah-daerah yang luas. Raja-raja daerah ini adalah raja yang merdeka dalam melakukan tugasnya sehari-hari, namun mereka tetap mengakui Raja Sunda yang bertakhta di Pakuan Pajajaran atau Dayo sebagai jungjungan mereka. Raja-raja daerah ini, dapat menggantikan raja pusat apabila raja tidak memiliki pewaris. Di pelabuhan diangkat syahbandar, untuk menangani masalah perniagaan.
Kerajaan Majapahit memiliki Bhattara Saptaprabhu atau Dewan Pertimbangan Kerajaan. Dewan ini terdiri atas para sanak saudara raja dan bertugas memberikan pertimbangan kepada raja. Di bawah raja Majapahit terdapat sejumlah raja-raja daerah (paduka bhattara), yang masing-masing memerintah daerahnya sendiri. Biasanya orang yang menjabat sebagai raja daerah adalah sanak saudara raja. Kerajaan daerah bertugas mengumpulkan penghasilan kerajaan dan menyerahkan upeti kepada perbendaharaan kerajaan, dan menjaga pertahanan wilayahnya. Para Bhattara ini melaksanakan segala perintah raja, perintah ini diturunkan kepada pejabat yang disebut Rakryan Mahamantri Kartini, jabatan ini biasanya dijabat oleh putra raja yang terdiri atas tiga orang yaitu Rakryan Mahamantri I Hino, Rakryan Mahamantri I Halu, dan Rakryan Mahamantri I Sirikan..Dari pejabat ini kemudian diturunkan lagi kepada pejabat di bawahnya yaitu para Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, para Dharmmadhyaksa, dan para Dharmma-uppatti.
Rakryan Mantri ri Pakira-kiran adalah sekolmpok pejabat tinggi yang merupakan Dewan Menteri, dan berfungsi sebagai Badan Pelaksana Pemerintahan. Biasanya badan ini terdiri atas lima orang pejabat yaitu Rakryan Mahapatih atau Patih Hamamangkubhumi (Perdana Menteri atau menteri utama), Rakryan Tumenggung, Rakryan Demung, Rakryan Rangga dan Rakyan Kanuruhan. Dharmmadhyaksa adalah pejabat tinggi kerajaan yang bertugas menjalankan juridiksi keagamaan. Ada dua Dharmmadhyaksa yaitu Dharmmadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa, Dharmmadhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha.
Perhatikan struktur Kerajaan Majapahit berikut ini.
Struktur Kerajaan Majapahit
1. Raja
2. Raja Muda
3. Dewan Pertimbangan Kerajaan (Bhatara Saptaprabhu)
4. Rakyan Maha Mantri Katrini:
Rakyan i Hino
Rakyan i Halu
Rakyan i Sirikan
5. Sang Panca Wilwatika:
Patih Hamangkubhumi
Rakyan Demung
Rakyan Kanuruhan
Rakyan Rangga
Rakyan Tumenggung
6. Rakyan Mantri ri Pakira-kiran
Sang Wrddhamantri
Yuwamantri
Sang Aryyadhikara
Sang Arryyatmaraja
Mantri Wagmimaya
Mantri Kesadhari
Rakyan Juru
7. Dharmmadhyaksa:
Dharmmadhyaksa ring Kasaiwan
Dharmmadhyaksa Kasogatan
8. Sang Pamegat:
Sang Pamegat i Tirwan
Sang Pamegat i Manghuri
Sang Pamegat i Kandamuhi
Sang Pamegat i Pamwatan
Sang Pamegat i Jambi

Salah satu dampak penting adanya interaksi antara bangsa Indonesia dengan India ialah berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Hampir seluruh wilayah di Indonesia berdiri kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Kerajaan-kerajaan tersebut pada umumnya dipimpin oleh raja-raja yang merupakan orang asli Indonesia. Ketika raja-raja tersebut berkuasa menggunakan gelar-gelar sebagaimana layaknya gelar raja-raja Hindu-Buddha. Kerajaan¬kerajaan Hindu Buddha di Indonesia banyak meninggalkan peninggalan¬peninggalannya, baik berupa prasasti, bangunan candi, maupun karya-karya sastra. Melalui peninggalan-peninggalan tersebut, kita dapat mengenal bagaimana kehidupan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha.

Akuwu : sebuah jabatan yang setara dengan bupati.
Dwa-pa-tan : sebutan untuk Bali menurut catatan Cina.
Ekspedisi Pamalayu : suatu ekspedisi yang dilakukan oleh Raja Kertanegara pada tahun 1275 M dengan mengirimkan tentaranya ke Melayu yang bertujuan untuk mengalahkan Sriwijaya dan Melayu.
Isanawangsa : nama dinasti yang didirikan oleh Mpu Sindok pada Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur.
Jawadwipa : sebutan untuk Pulau Jawa sebagaimana tercantum dalam catatan India.
Kakawin Bharatayudha : sebuah kitab karya pujangga Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan kemenangan Pandawa melawan Kurawa, sebagai bandingan terhadap kemenangan Panjalu atas Janggala.
Kelompok elite : kelompok atas, seperti raja dan keluarganya beserta aparat pemerintahannya.
Kerajaan Pusat : satu kerajaan yang mengusai kerajaan bawahan atau va al.
Kerajaan Vazal : kerajaan bawahan yang memiliki kewajiban menyetorkan upeti pada waktu-waktu tertentu kepada kerajaan pusat sebagai bentuk ketundukan.
Ketut : panggilan untuk anak keempat yang berlaku pada adat masyarakat di Bali.
Made : panggilan untuk anak kedua yang berlaku pada adat masyarakat di Bali.
Makrokosmos : alam besar yaitu jagat raya.
Mikrokosmos : alam kecil yang biasanya manusia.
Ngahuma : cara menanam padi yang dilakukan oleh masyarakat Sunda dengan menanam padi tidak di sawah tetapi di kebun, atau lahan yang tidak digenangi air seperti halnya sawah.
Nyoman : panggilan untuk anak ketiga yang berlaku pada adat masyarakat di Bali.
Putu : panggilan khusus untuk anak pertama dari kasta Ksatria dan Brahmana.
She-Po : sebutan untuk pulau Jawa sebagaimana tercantum dalam catatan Cina.
Shih li fo shih San fo tsi : sebutan untuk Kerajaan Sriwijaya sebagaimana tercantum dalam catatan Cina.
Sinkritisme : percampuran kepercayaan atau agama.
To-lo-mo : sebutan untuk Kerajaan Tarumanegara sebagaimana tercantum dalam catatan berita Cina.
Upeti Vrtyastoma : setoran wajib yang diberikan oleh kerajaan va al kepada kerajaan pusat sebagai bentuk ketundukan yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. upacara penyucian diri dalam agama Hindu.
Waprakeswara : tempat suci yang dihubungkan dengan Dewa Wisnu.
Wayan : panggilan untuk anak pertama yang berlaku pada adat masyarakat di Bali.
Ye-Po-Ti : sebutan untuk Jawadwipa atau Pulau Jawa atau Tarumanegara sebagaimana tercantum dalam catatan berita Cina.
Yupa atau prasasti : sejenis tugu batu yang biasanya terdapat tulisan yang berisi tentang peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan oleh raja (Hundu-Buddha) pada masa ia memerintah.

I. Pilihan Ganda

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Tujuh buah Yupa yang ditemukan di Kerajaan Kutai merupakan peninggalan yang ditulis pada masa kekuasaan raja ….
a. Kundungga d. Mulawarman
b. Asywawarman e. Purnawarman
c. Sang Ansuman

2. Sebagian besar prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara memuat tapak kaki Raja Purnawarman. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai ….
a. luasnya daerah pengaruh kekuasaan Purnawarman
b. legitimasi kekuasaan Raja Purnawarman sebagai titisan dewa
c. tanda kebesaran kekuasaan Raja Purnawarman
d. bentuk kepercayaan yang dianut oleh Kerajaan Tarumanegara
e. hubungan erat yang terjalin antara raja dengan para pendeta

3. Kehidupan perekonomian yang berkembang di kerajaan Tarumanegara dapat kita analisis dari isi prasasti ….
a. Cidanghiang d. Kebon Kopi
b. Ciaruteun e. Tugu
c. Pasir Jambu

4. Upacara Vratyastoma sering dilakukan oleh orang Indonesia sebagai suatu bentuk upacara yang dimaksudkan untuk ….
a. meminta rejeki dan kesuburan hasil pertanian
b. memohon petunjuk dewa
c. bentuk penyucian diri untuk masuk dalam agama Hindu
d. mengantarkan arwah orang meninggal menuju nirwana
e. sedekah yang dilakukan oleh raja

5. Di bawah ini merupakan bukti-bukti prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di dalam negeri, kecuali ….
a. Prasasti Kedukan Bukit
b. Prasasti Palas Pasemah
c. Prasasti Talang Tuo
d. Prasasti Nalanda
e. Prasasti Kota Kapur

6. Sejarawan yang berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya berkembang dari abad ke-7 sampai 9 M ialah ….
a. Boechari d. Poerbatjaraka
b. Coedes e. Slamet Mulyono
c. Casparis

7. Prasasti yang menunjukkan pernah terjadinya peperangan antara Kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan Cola dari India yaitu prasasti ….
a. Tanjore d. Grahi
b. Rajendracola e. Nalanda
c. Ligor

8. Di bawah ini ialah dinasti yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram Jawa Tengah, yaitu ….
a. Dinasti Sanjaya dan Syailendra
b. Dinasti Sanjaya dan Isana
c. Dinasti Syailendra dan Isana
d. Dinasti Girindra dan Rajasa
e. Dinasti Rajasa dan Syailendra

9. Nama-nama raja yang pernah berkuasa di Mataram dapat kita ketahui dari isi prasasti ….
a. Canggal d. Ratu Boko
b. Karang Tengah e. Wantil
c. Kedu

10. Kepindahan pusat ibu kota kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur kemungkinan besar dilakukan oleh ….
a. Mpu Sindok d. Dyah Tulodhong
b. Dyah Wawa e. Airlangga
c. Pu Daksa

11. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh Kerajaan Singhasari terjadi pada masa kekuasaan raja ….
a. Anusapati d. Tohjaya
b. Kertanegara e. Wisnuwardhana
c. Sri Ranggah Rajasa

12. Puncak kejayaan kerajaan Majapahit berlangsung pada masa pemerintahan raja ….
a. Hayam Wuruk d. Tribhuanatunggadewi
b. Jayanegara e. Wikramawardhana
c. Raden Wijaya

13. Perang saudara di kerajaan Majapahit yang terjadi setelah berakhirnya kekuasaan raja Hayam Wuruk dikenal dengan nama perang ….
a. Bubat d. Ranggalawe
b. Paregreg e. Sora
c. Lasem

14. Raja kerajaan Sunda yang diperkirakan tewas dalam peristiwa perang Bubat antara Sunda dengan Majapahit ialah raja ….
a. Sanjaya
b. Sri Baduga Maharaja
c. Hyang Bunisora
d. Niskala Wastu Kencana
e. Prabu Surawisesa

15. Salah seorang keturunan raja Bali yang memerintah sebagai raja di kerajaan Mataram Jawa Timur adalah ….
a. Airlangga d. Marakata
b. Anak Wungsu e. Udayana
c. Dharmawangsa

II. Soal Uraian

Jawablah pertanyaan di bawah ini secara singkat dan jelas!
1. Berikan tiga bukti yang menunjukkan bahwa kerajaan Sriwijaya pernah menjadi pusat pengkajian agama Buddha terbesar di Asia Tenggara?
2. Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perpindahan pusat kekuasaan kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur!
3. Mengapa Raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua dan bagaimana perkembangan kedua kerajaan tersebut?
4. Buatlah analisis tentang faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan kerajaan Majapahit!
5. Buatlah deskripsi struktur birokrasi yang dikembangkan dalam pemerintahan Kerajaan Majapahit!

BAB 3 PERKEMBANGAN ISLAM TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA

Munculnya agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh persentuhan kebudayaan antara daerah Nusantara dengan negara yang membawa pengaruh Islam. Persentuhan kebudayaan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari hubungan yang dilakukan antara orang-orang Islam dengan orang-orang yang ada di Nusantara. Sebab, daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara dua negara, yaitu Laut Tengah dan Cina. Hubungan perdagangan yang semakin lama semakin intensif menimbulkan pengaruh terhadap masuknya pengaruh-pengaruh kebudayaan Arab, Parsi, India, dan Cina di Nusantara. Dengan kata lain, terjadilah proses akulturasi antara kebudayaan negara-negara itu dengan kebudayaan Nusantara.
A. NUSANTARA SEBELUM KEDATANGAN ISLAM
Proses islamisasi yang terjadi di Indonesia sangat ditentukan oleh kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang ada sebelumnya. Secara geografis wilayah Nusantara memiliki arti yang sangat penting bagi masuknya unsur¬ unsur dari luar, karena menjadi jalur lalu lintas perdagangan internasional. Dengan terbukanya wilayah Nusantara memungkinkan masyarakatnya untuk berinteraksi dengan bangsa lain.

1. Kondisi sosial budaya
Sebelum ditemukannya mesin yang menggerakkan kapal laut, pelayaran kapal-kapal lebih ditentukan oleh arus angin. Sistem angin di kepulauan Nusantara yang dikenal sebagai angin musim (angin muson), memberikan kemungkinan pengembangan jalan pelayaran Barat-Timur pulang balik secara teratur dan berpola tetap. Musim barat dan musim timur sangat menentukan munculnya kota-kota pelabuhan serta pusat-pusat kerajaan sejak zaman Sriwijaya sampai akhir Majapahit.
Kehidupan di kota pelabuhan menampakkan suatu kehidupan yang dinamik. Interaksi manusia melalui perdagangan di kota pelabuhan dapat menciptakan unit-unit kehidupan manusia. Interaksi antara unit-unit akan membangun struktur sosial yang dinamik, sehingga akan menampakkan adanya suatu perubahan.
Masyarakat di kota pelabuhan merupakan masyarakat yang urban dan kosmopolit. Terciptalah suatu tatanan masyarakat kota. Interaksi tidak hanya terbatas pada pertukaran barang-barang ekonomi, akan tetapi terjadi pula interaksi budaya antarkelompok masyarakat. Dengan demikian, kehidupan masyarakat di kota pelabuhan akan menciptakan suatu masyarakat yang terbuka. Dalam masyarakat yang seperti ini, akan memudahkan masuknya unsur budaya dari luar. Apabila unsur budaya itu mampu membangun suatu tatanan kehidupan yang mapan, maka akan menjelma menjadi suatu peradaban.
Sebelum kedatangan Islam di wilayah Nusantara, peradaban yang pernah muncul dan mampu membangun suatu struktur masyarakat yang mapan yaitu Hindu-Buddha. Peradaban Hindu-Buddha sangat berpengaruh pada pembentukan struktur masyarakat di Nusantara. Masyarakat yang dibentuk dalam peradaban ini adalah masyarakat yang memiliki struktur hierarkis. Dalam masyarakat seperti ini, terdapat lapisan-lapisan sosial yang sangat ketat. Masyarakat terbagi atas kasta yaitu kasta Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Hubungan antarkasta ini bersifat vertikal yang sempit, artinya interaksi antarindividu hanya terjadi pada kelompok kastanya sendiri. Sebagai contoh seorang kasta Ksatria tidak bisa menikah dengan seseorang yang berasal dari Kasta Waisya.
Dalam konsepsi Hindu-Buddha, hubungan antara manusia dan jagad raya bagaikan hubungan kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia adalah mikrokosmos dan jagad raya adalah makrokosmos. Menurut kepercayaan ini, manusia senantiasa berada di bawah pengaruh tenaga-tenaga yang bersumber pada penjuru mata angin, bintang-bintang dan planet-planet. Tenaga-tenaga ini mungkin menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan atau berakibat kehancuran. Terjadinya kesejahteraan atau kehancuran tergantung pada dapat tidaknya individu-individu dan kelompok-kelompok masyarakat terutama sekali negara, berhasil menyelaraskan kehidupan dan kegiatan mereka dengan jagad raya. Keselarasan antara kerajaan dan jagad raya dapat dicapai dengan menyusun kerajaan itu sebagai gambaran sebuah jagad raya dalam bentuk kecil.
Penguasa makrokosmos adalah Dewa, sedangkan penguasa mikrokosmos adalah raja, sehingga lahirlah konsep dewa-raja. Raja adalah wakil dewa di muka bumi. Kedudukan raja dianggap sebagai titisan (inkarnasi) dari dewa atau sebagai keturunan, atau sebagai kedua-duanya, baik sebagai penitisan maupun keturunan dewa.
Raja memiliki kedudukan yang sangat sentral. Hubungan antara raja dengan rakyat membentuk struktur yang patrimonial. Dalam hubungan ini tercipta hubungan kawula dan gusti. Rakyat lebih banyak melakukan kewajibannya. Pemikiran konsep ini tidak memungkinkan adanya suatu bentuk perjanjian sosial (social contract) atau konsep mengenai kewajiban-kewajiban timbal balik antara atasan dan bawahan.
b. Kondisi politik dan ekonomi
Pada abad ke-7 sampai dengan abad ke-12, Sriwijaya mengalami masa kejayaan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi. Kejayaan yang dialami Sriwijaya sangat ditentukan oleh letak dari kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim. Sriwijaya merupakan bagian dari jalur perdagangan internasional.
Sebagai pelabuhan, pusat perdagangan, dan pusat kekuasaan, Sriwijaya menguasai pelayaran dan perdagangan di bagian barat Indonesia. Sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatra Utara, Selat Sunda yang kesemuanya masuk lingkungan kekuasaan Sriwijaya. Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dikunjungi oleh pedagang dari Parsi, Arab dan Cina yang memperdagangkan barang-barang dari negerinya atau negeri yang dilaluinya, sedangkan pedagang Jawa membelinya dan menjual rempah-rempah.
Memasuki abad ke-13, Sriwijaya menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Kekayaan alamnya sudah tidak lagi menghasilkan, kalah dengan hasil kekayaan di Jawa. Untuk menanggulangi ini, Sriwijaya menerapkan bea cukai yang mahal bagi kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhannya, bahkan memaksa agar kapal-kapal asing berlabuh di pelabuhannya. Tindakan Sriwijaya ini ternyata tidak memberikan keuntungan bagi kerajaannya, justru sebaliknya. Kapal-kapal asing mencoba menghindar untuk berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya.
Kemunduran Sriwijaya diperburuk lagi oleh serangan Kerajaan Singhasari dari Jawa melalui ekspedisi Pamalayu. Dengan Pamalayu, supremasi Kerajaan Singhasari dapat diletakkan di bekas daerah pengaruh Sriwijaya di Sumatra. Setelah Singhasari berkuasa, kemudian muncul Majapahit sebagai kekuatan kerajaan yang memiliki pengaruh yang sangat besar. Kemunculan Majapahit ini semakin memperlemah kedudukan Sriwijaya.
Majapahit pernah tampil sebagai supremasi kekuasaan di wilayah Nusantara, setelah Sriwijaya runtuh. Kejayaan Kerajaan Majapahit dialami pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk dengan patihnya yang terkenal yaitu Gajah Mada. Dengan Sumpah Palapanya, Gajah Mada melakukan perluasan wilayah. Majapahit kemudian mengalami kemunduran yang lebih banyak disebabkan oleh adanya konflik internal. Pada tahun 1478, Majapahit mengalami keruntuhannya.
Peradaban Hindu-Buddha sangat berpengaruh pada pembentukan struktur masyarakat di Nusantara. Masyarakat yang Hinduistis merupakan masyarakat dengan struktur yang hierarkis, artinya masyarakat yang mengenal kasta, yaitu kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Hubungan antarkasta ini bersifat vertikal yang sempit, artinya interaksi antar individu hanya terjadi pada kelompok kastanya sendiri.

B. PENDAPAT-PENDAPAT TENTANG PROSES AWAL PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA

Proses Islamisasi yang terjadi di Indonesia beriringan dengan proses perdagangan yang terjadi antara bangsa Indonesia dengan bangsa asing. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa secara geografis, Indonesia merupakan sebuah wilayah kepulauan yang terbuka bagi terjadinya interaksi perdagangan. Salah satu dampak dari interaksi tersebut adalah masuknya Islam ke Indonesia. Hal-hal yang menjadi pertanyaan mengenai proses islamisasi tersebut ialah dari manakah asalnya bangsa Indonesia menerima Islam, dan kapan Islam itu datang? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, lahirlah beberapa pendapat atau teori tentang islamisasi di Indonesia.

Berita-berita dari bangsa asing menunjukkan bahwa para pedagang Islam diperkirakan pertama kali datang ke Indonesia pada abad ke-7 M, yaitu ketika berkuasanya Kerajaan Sriwijaya. Pada saat itu, di pusat Kerajaan Sriwijaya telah dijumpai perkampungan-perkampungan pedagang Arab. Menurut berita Ibn Hordadzbeth (844-848 M), pedagang Sulaiman (902 M), Ibn Rosteh (903 M), Abu Yazid (916 M), dan ahli geografi Mas’udi (955 M), Kerajaan Sriwijaya (Sribu a) berada di bawah kekuasaan Raja Zabag yang kaya dan menguasai jalur perdagangan dengan Kerajaan Oman. Dari Sribu a, para pedagang Arab memperoleh kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, kayu hitam, kayu sapan, dan rempah-rempah (cengkeh, lada, pala dan merica). Pedagang-pedagang Gujarat dari India yang datang ke Indonesia bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga untuk menyebarkan agama yang mereka anut. Di samping itu, para saudagar yang datang dari Persia juga ikut menyebarkan agama Islam di Indonesia.
Teknologi pelayaran pada masa itu tidak secanggih sekarang, pelayaran pada masa lalu sangat tergantung pada angin musim yang membantu kapal mereka bergerak sesuai tujuan. Selama beberapa bulan, para pedagang dari berbagai bangsa tinggal di Malaka dan mereka harus menunggu angin musim yang baik untuk kembali ke tanah air mereka. Selama masa tunggu itu, mereka bergaul dengan penduduk setempat. Kesempatan itu digunakan oleh para pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia untuk menyebarkan agama Islam.
Penyebaran agama Islam di Indonesia terjadi secara berangsur-angsur selama beberapa abad lamanya. Waktu masuknya agama Islam ke Indonesia di tiap-tiap daerah tidak sama. Namun demikian, masuknya agama Islam pertama kali adalah di Pulau Sumatra, ketika Kerajaan Sriwijaya berkuasa.

Jalur utama penyebaran Islam di Indonesia adalah melalui perdagangan. Jalur lainnya adalah melalui perkawinan, pendidikan, jalur dakwah, dan jalur kesenian. Jalur perkawinan dilakukan oleh para pedagang Islam yang biasanya tinggal di kota-kota pantai dan membentuk perkampungan-perkampungan untuk menunggu angin musim. Pada saat inilah, para pedagang tersebut menikahi para wanita pribumi. Para wanita tersebut kemudian memeluk agama Islam.
Ada beberapa pendapat atau teori tentang proses Islamisasi di Indonesia. Menurut Ricklefs, ada kemungkinan berlangsungnya melalui dua proses. Pertama, penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing (Arab, India, Persia, dan lain-lain) yang telah memeluk agama Islam bertempat tinggal secara tetap di suatu wilayah Indonesia, melakukan perkawinan campuran, dan mengikuti gaya hidup lokal, sehingga mereka sudah menjadi orang Jawa atau Melayu atau anggota suku lainnya. Kedua proses ini mungkin telah sering terjadi bersamaan.
Pendapat-pendapat mengenai proses Islamisasi di Indonesia dapat dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu sebagai berikut.

1. Awal kedatangan Islam di Indonesia
Para sejarawan Indonesia berpendapat bahwa proses Islamisasi di Indonesia sudah dimulai pada abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 Masehi. Seorang ilmuwan Belanda yang bernama Mouquette menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13-14 Masehi. Penentuan waktu itu berdasarkan tulisan pada batu nisan yang ditemukan di Pasai. Batu nisan itu berangka tahun 17 Djulhijah 831 atau 21 September 1428 M dan identik dengan batu nisan yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim (822 H atau 1419 M) di Gresik, Jawa Timur. Morisson mendukung pendapat Moguetta yang berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan batu nisan Malik al-Saleh, seorang raja Samudera Pasai yang berangka tahun 698 H atau 1297 M. Petunjuk pertama mengenai orang-orang Indonesia yang beragama Islam datang dari tulisan Marcopolo yang singgah di Sumatra dalam perjalanan pulangnya dari Cina pada tahun 1292, dia berpendapat bahwa Perlak merupakan sebuah kota Islam.

2. Tempat asal para pembawa Islam di Indonesia
Ada beberapa pendapat mengenai tempat asal para pembawa Islam ke Indonesia. Snouck Hurgronje berpendapat bahwa para penyebar Islam di Gujarat pada abad ke-13 telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia daripada dengan orang Arab. Pendapat ini diperkuat oleh Mouquette yang melihat kesamaan batu nisan Malik al-Saleh dengan batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat. Selain itu, di kedua tempat ini sama-sama menganut ma hab Syafi i. Berdasarkan ma hab yang banyak dianut oleh orang Islam di Indonesia, Pijnappel berpendapat bahwa para pembawa Islam di Indonesia berasal dari Gujarat dan Malabar, dengan alasan bahwa orang Arab yang berma hab Syafi i bermigrasi dan menetap ke suatu daerah yaitu Gujarat. Kemudian dari daerah inilah Islam masuk ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pendapat Mouquette dibantah oleh Fattini yang berpendapat bahwa gaya batu nisan Malik al-Saleh memiliki corak yang berbeda dengan batu nisan di Gujarat. Batu nisan Malik al-Saleh lebih mirip dengan batu nisan yang ada di Bengala. Dengan demikian, Fattini menyimpulkan bahwa tempat asal para penyebar Islam di Indonesia adalah dari Bengala yang kini lebih dikenal dengan sebutan Bangladesh. Sementara itu Morrison dan Arnold mengatakan bahwa Islam di Indonesia dibawa oleh orang-orang Coromandel dan Malabar.
Pendapat lain mengatakan bahwa Islam berasal langsung dari Mekkah, Arab, sebagaimana dikemukakan oleh Crawford. Pendapat Crawford didukung oleh sejarawan Indonesia, seperti Hamka yang berpendapat bahwa Islam yang masuk ke Indonesia itu langsung dari Arab. Tetapi Husein Djajadiningrat lebih berpendapat bahwa Islam di Indonesia berasal dari Parsi atau Persia. Ia lebih menitikberatkan pada kesamaan kebudayaan dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia, seperti tradisi perayaan 10 Muharam dan pengaruh bahasa yang banyak dipakai di Indonesia. Kata bang, abdas, dan mesigit adalah istilah yang ada dalam bahasa Persia. Juga dalam mengeja huruf vocal Al-Quran digunakan istilah-istilah Persia, yaitu jabar (a), jeer (i), dan pe es (u), padahal bahasa Arabnya fathah (a), kasrah (i), dan Dhammah (u).

3. Para penyebar Islam di Indonesia
Faktor yang paling penting dalam melaksanakan Islamisasi di Indonesia adalah melalui perdagangan, seperti dikemukakan oleh Wolters bahwa Indonesia merupakan tempat yang sangat strategis sebagai tempat persinggahan dari bangsa-bangsa sebelah barat seperti Persia, Arab, dan India yang hendak menuju ke timur, yaitu ke Indonesia, Cina, dan Jepang. Selain golongan pedagang, peranan para wali juga sangat penting dalam proses penyebaran tersebut. Snouck bahkan berpendapat bahwa peranan para ustad dan sultan sangat besar untuk memperkenalkan Islam di Indonesia. Mereka berasal dari Arab dan mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. dengan memakai gelar Sayyid Syarif yang menjalankan dakwah dengan motif keagamaan.
Di Pulau Jawa, proses Islamisasi memiliki satu kekhasan. Islamisasi di Jawa dilakukan oleh sekelompok mubalig Islam yang dikenal dengan sebutan walisongo. Wali arti harfiahnya adalah orang yang dekat dengan Allah, sedangkan songo menunjukkan jumlah yaitu sembilan. Jadi walisongo artinya sembilan orang wali. Ada pula yang mengartikan songo itu bukan angka sembilan dalam pengertian jumlah, tetapi menunjukkan bahwa sembilan itu (songo) menunjukkan angka yang sakral atau suci. Jadi walisongo bisa diartikan pula dengan orang¬orang (wali) yang disucikan, karena jumlah wali itu lebih dari sembilan. Walisongo sangat dihormati serta dimuliakan oleh orang-orang, terutama di pulau Jawa, bahkan para walisongo itu diberi gelar Sunan atau Susuhunan artinya yang dijunjung tinggi atau gelar yang tinggi dan mulia.
Cara yang dilakukan oleh walisongo dalam menyebarkan agama Islam sangat menarik. Mereka menggunakan metode-metode yang memudahkan ajaran Islam diterima oleh masyarakat luas dari berbagai golongan. Mereka menggunakan pendekatan kebudayaan untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat. Para wali itu, antara lain sebagai berikut.

a. Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim atau Makdum Ibrahim, sering pula disebut Maulana Maghribi, dan ada juga orang menyebutnya dengan sebutan Kakek Bantal. Maulana Malik Ibrahim adalah orang pertama menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Dari beberapa sumber, ada yang menyebutkan ia berasal dari Persia, ada juga yang menyebutkan dari Turki, Arab, dan riwayat lain menyebutkan ia berasal dari Gujarat. Tetapi pendapat yang lebih kuat ia berasal dari tanah Arab, tepatnya Maroko.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa (Kamboja). Ia menikahi putri Campa dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwahnya di negeri itu, pada tahun 1329 M, ia hijrah ke Pulau Jawa. Daerah pertama yang dituju adalah Desa Sembalo (sekarang daerah Leran Kecamatan Manyar, 9 kilometer dari utara kota Gresik), daerah yang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Meskipun ia bukan orang Jawa, namanya terkenal di kalangan masyarakat Jawa, sebab ia yang menjadi pelopor penyebaran Islam di Jawa dengan pusat kegiatannya di Gresik, dekat Surabaya. Dalam proses dakwahnya kepada masyarakat, ia melakukannya dengan penuh hati-hati, bijaksana, dan mengadakan pendekatan personal pada masyarakat Jawa.
Kepercayaan sebelumnya yang dipegang oleh masyarakat tidak ditentang begitu saja. Ia memperkenalkan budi pekerti yang diajarkan Islam dengan tutur kata yang sopan, lemah lembut sehingga banyak penduduk Jawa yang tertarik memeluk agama Islam. Maulana Malik Ibrahim wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal 822 Hijriah atau 9 April 1419 M dan dimakamkan di Gresik.

b. Sunan Ampel
Sunan Ampel nama aslinya Raden Rahmat, seorang kemenakan dari Raja Majapahit Kertawijaya. Menurut cerita rakyat, ia berasal dari Campa. Mengenai Campa ini ada dua pendapat, pertama Champa di Indochina, kedua Jeumpa di Aceh. Disebutkan ia adalah anak dari Raja Cempa Ibrahim Asmarakandi (Maulana Malik Ibrahim) yang diutus ke Majapahit dan oleh Raja Majapahit diperkenankan tinggal dan menetap di Ampeldenta (Surabaya).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama adiknya, Sayid Ali Murtadha. Tetapi sebelum sampai ke Jawa, ia singgah dahulu di Palembang, kemudian berlabuh di daerah Gresik, dilanjutkan ke Majapahit untuk menemui bibinya yang bernama Dwarawati, seorang putri Campa yang dipersunting Raja Majapahit yang bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Pada tahun 1450, Raden Rahmat menikah dengan Nyi Ageng Manila, putri Bupati Tuban yang sudah memeluk agama Islam. Selanjutnya Raden Rahmat menetap di daerah Ampeldenta pemberian dari Raja Majapahit. Di sana Raden Rahmat mendirikan masjid dan membuka pondok pesantren, sehingga ia dikenal dengan Sunan Ampel. Sesuai dengan tugasnya, ia adalah guru yang mengajarkan budi pekerti kepada para adipati, pembesar keraton, dan bagi masyarakat yang ingin belajar tentang keislaman. Pada pertengahan abad ke-15, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara.
Ajaran Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo Limo, Mo artinya ora gelem (tidak mau) dan Limo artinya perkara lima. Jadi maksud Mo Limo ialah tidak mau melakukan perkara lima yang terlarang, yaitu : 1) Emoh main (tidak mau judi) 2) Emoh ngumbih (tidak mau minum-minuman yang memabukkan) 3) Emoh madat (tidak mau minum atau menghisap candu atau ganja) 4) Emoh maling (tidak mau mencuri) 5) Emoh madon (tidak mau ber ina)
Keberhasilah Sunan Ampel lainnya ialah melahirkan tokoh wali lainnya seperti Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan putranya sendiri yang bernama Sunan Derajat dan Sunan Bonang. Keber¬hasilan yang lain, Sunan Ampel menjadi perencana Kerajaan Demak. Dialah yang melantik Raden Patah sebagai Sultan Demak yang pertama tahun 1403
Gambar 3.3

Saka (1481 M). Pada tahun 900 Pintu gerbang Masjid Sendang DuwurHijriyah (1494 M), Sunan Ampel di dekat Tuban, dengan corak wafat. Jena ahnya dimakamkan tradisional yang berasal dari zaman di Ampeldenta, Surabaya. Hindu-Buddha Majapahit
(Sumber: R. Soekmono, Jilid 3 halaman 92)

c. Sunan Bonang
Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim lahir pada tahun 1450 M. Ia adalah putra Sunan Ampel dari istrinya yang bernama Nyi Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampeldenta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana dan kemudian menetap di Bonang (sebuah desa kecil di Lasem, Jawa Timur). Di tempat itulah Sunan Bonang mempunyai tempat kegiatan dakwahnya yaitu di daerah Bonang, dekat Tuban. Di sana ia mendirikan pesantren yang sekarang dikenal dengan sebutan Watu Layar. Dari pondok pesantren itu, ia mengajar dan mengembangkan agama Islam.
Dari pesantrennya di Bonang (Tuban), agama Islam disebarkan ke daerah pantai, mulai Rembang sampai Surabaya. Dari hasil survei di lapangan, ternyata rakyat Tuban mayoritas menyukai lagu-lagu gending gamelan. Untuk itu dalam melaksanakan dakwah kepada masyarakat, ia menggunakan kesenian rakyat yang disebut bonang. Ia menabuh bonang diiringi dengan lagu-lagu berupa pantun yang bernapaskan keagamaan. Sunan Bonang berhasil menggubah lagu gending sekaten dan tembang mocopat yang sampai sekarang tembang itu populer di kalangan masyarakat Jawa.
Tidak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fiqih, ajaran Sunan Bonang berusaha memadukan ajaran ahlusunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, seni, sastra, dan arsitektur. Ajarannya berintikan pada filsafat isyq (cinta). Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan, dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikan secara populer melalui media kesenian. Pada tahun 1525 M, Sunan Bonang wafat dan dimakamkan di daerah Tuban.

d. Sunan Derajat
Sunan Derajat nama sebenarnya adalah Masih Munat, putra dari Sunan Ampel, saudara dari Sunan Bonang. Dalam melakukan kegiatan dakwahnya, ia mengambil cara ayahnya, terutama dalam mengajarkan tauhid dan akidah, yaitu secara langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Walaupun demikian, cara penyampaiannya menggunakan alat kesenian dengan menabuh seperangkat gamelan, sebagaimana dilakukan oleh Sunan Muria. Sunan Derajat mengubah sejumlah suluk, di antaranya suluk petuah. Ia juga menciptakan lagu gending pangkur yang sampai sekarang lagu itu masih banyak digemari oleh masyarakat Jawa. Pusat kegiatan dakwahnya di daerah Sedayu, Jawa Timur.
Sunan Derajat dikenal dengan kegiatan sosialnya. Ia dikenal sebagai seorang yang bersahaja yang suka menolong sesama. Dialah wali yang memelopori penyantunan anak-anak yatim, fakir miskin, dan orang sakit.
Sunan Derajat wafat pada pertengahan abad ke-15 dan dimakamkan di Sedayu, Gresik (Jawa Timur).

e. Sunan Giri
Sunan Giri atau Raden Paku. Ia adalah putra dari Maulana Ishak dari Blambangan, yang juga sahabat Sunan Ampel. Raden Paku bersahabat dengan Makhdum Ibrahim, dan keduanya oleh Sunan Ampel disuruh pergi haji ke Mekkah sambil menuntut ilmu. Keduanya juga pernah menimba ilmu di Pasai (Aceh).
Dengan bantuan masyarakat Gresik, Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Atas ketekunan dan kesungguhannya, pesantren itu bukan hanya sebagai tempat pendidikan dalam artian sempit, tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Dalam waktu tiga tahun, pesantren Giri sudah terkenal ke seluruh Nusantara, sehingga banyak murid-muridnya yang datang dari Madura, Kalimantan, Makassar, Lombok, dan seluruh Jawa. Raja Majapahit sendiri memberi keleluasaan kepadanya untuk mengatur pemerintahan karena khawatir ia melakukan pemberontakan. Kemudian pesantren itu pun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton.
Ketika Raden Fatah lepas dari pengaruh kekuasaan Majapahit, Sunan Giri diangkat menjadi penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Banyak mubalig dari pesantren Giri yang dikirim ke Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.
Sunan Giri dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fiqih. Orang pun menyebutnya Sultan Abdul Fakih. Ia juga pencipta karya seni yang luar biasa. Gending Pucung yang bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam adalah salah satu karya Sunan Giri. Sunan Giri wafat pada tahun 1600 M dan dimakamkan di atas Bukit Giri, dekat Gresik.

f. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga atau Raden Jaka Said. Ia adalah putra seorang Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Sejak kecil, dalam diri Raden Jaka Said sudah tampak jiwa luhur yang ditandai dengan selalu taat kepada agama dan berbakti kepada orang tua, serta mempunyai sikap welas asih kepada semua orang. Ia menjadi murid Sunan Bonang, kemudian menikah dengan putri Maulana Ishak. Berbeda dengan para wali lain, Sunan Kalijaga menjadi mubalig keliling dan tidak mempunyai pusat dakwah yang tetap.
Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan Kalijaga menggunakan kesenian wayang kulit yang sangat digemari masyarakat sejak aman Hindu. Kisah Mahabharata yang melandasi cerita wayang disesuaikan agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Penggunaan wayang sebagai alat dakwah ini ternyata memberi kemudahan dalam meluaskan penyebaran Islam ke masyarakat.

Sunan Kalijaga sebagai Mubalig yang ahli seni, ahli filsafat, dan kebudayaan memiliki beberapa karya seni hasil ciptaannya antara lain orang pertama yang merancang baju takwa, menciptakan lagu Dandang Gula dan Semarangan, menciptakan seni ukir bermotif dedaunan, menciptakan bedug di masjid, memprakarsai Gerebeg Maulud, menciptakan Gong Sekaten, dan membuat kreasi baru wayang menjadi karikatur, digambar dan diukir pada kulit binatang. Pada pertengahan abad ke-15, Sunan Kalijaga wafat dan di makamkan di daerah Kadilangu, dekat Demak.

g. Sunan Kudus
Sunan Kudus atau Jafar Sadiq. Ia adalah salah seorang panglima tentara Demak. Kemudian ia mengembara ke Tanah Suci, Mekkah untuk memperdalam agama Islam. Sekembali dari Mekkah, ia mendirikan pusat keagamaan yang diberi nama Kudus, diambil dari nama al-quds (Palestina), sehingga ia lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Sunan Kudus merupakan banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara dakwahnya pun meniru Sunan Kalijaga yaitu toleran pada budaya setempat. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu-Buddha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus.
Sunan Kudus seorang yang ahli dalam bidang tauhid, hadis, fiqih dan lainnya. Ia juga terkenal sebagai pujangga yang mengarang cerita pendek yang berfalsafah dan bernapaskan keagamaan.
Semasa hidupnya, ia mengajarkan agama Islam di sekitar pesisir utara Jawa Tengah di daerah Kudus. Selain sebagai seorang wali, Sunan Kudus juga menjabat sebagai Senopati Demak. Peninggalan yang termasyhur adalah Masjid Kudus. Menaranya berbentuk candi, dan sering disebut Masjid Menara.
Pada mihrab masjid ini tercantum tahun peresmian masjid, yaitu 956 Hijriah (1549 M). Dalam bidang kesenian ia dikenal sebagai pencipta Gending Asmarandana. Pada tahun 1550, Sunan Kudus wafat dan dimakamkan di daerah Kudus, Jawa Tengah.

Gambar 3.9 Pintu masuk makam Sunan Kudus (Sumber: Ensiklopedi Islam Seri 5, halaman 180)

h. Sunan Muria
Sunan Muria atau Raden Prawoto atau Raden Umar Said, adalah putra Sunan Kalijaga dari istrinya yang bernama Dewi Sorah. Dewi Sorah adalah adik kandung Sunan Giri.
Gaya berdakwah Sunan Muria seperti ayahnya, Sunan Kalijaga. Tetapi ia lebih menyukai tinggal di daerah terpencil, jauh dari kota. Pusat kegiatannya di lereng Gunung Muria (Jawa Tengah). Ia banyak bergaul dengan rakyat jelata. Sambil bercocok tanam, berladang, dan berdagang, ia mengajarkan agama Islam. Selain itu, Sunan Muria berdakwah dengan menggunakan media kesenian rakyat yaitu berupa gamelan. Ia menciptakan gending sinom dan kinanti.
Sunan Muria sering berperan juga di Kesultanan Demak sebagai penengah dalam konflik istana. Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapa pun rumitnya. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Beliau wafat pada tahun 1560 M dan dimakamkan di atas Gunung Muria.

i. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati karena pusat kegiatan dakwahnya berada di daerah Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. Pada tahun 1570 M, Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon.

Setelah Walisongo, proses penyebaran agama Islam diteruskan oleh para ulama yang peranannya sama dengan para wali. Para ulama itu tersebar di berbagai pelosok tanah air, antara lain sebagai berikut.
1) Tokoh ulama dari Jawa a) Syekh Bentong dengan daerah dakwah di Gunung Lawu b) Sunan Bayat yang banyak menyebarkan Islam di daerah Klaten dan sekitarnya c) Syekh Majagung, Sunan Prapen, dan Sunan Sendang yang berperan dalam pendidikan pondok pesantren di daerah Jawa 2) Tokoh ulama dari luar Jawa a) Datuk Ri Bandang yang menyebarkan agama Islam di daerah Makassar b) Datuk Sulaeman yang menyebarkan agama Islam di daerah Sulawesi c) Tuan Tunggang Parangang dan Penghulu Demak yang menyebarkan Islam di Kalimantan.

C. BUKTI-BUKTI AWAL PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA

Proses penyebaran Islam di Indonesia datangnya bersamaan dengan kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang muslim dari Asia Barat dan Asia Selatan menuju Asia Timur. Para pedagang muslim itu antara lain datang dari Arab, Persia, dan Gujarat. Karena letak Indonesia yang sangat strategis dalam jalur perdagangan internasional, menyebabkan para pedagang itu singgah sementara di Indonesia. Awalnya singgah sebentar, lama-kelamaan ada juga yang tinggal menetap dan berdirilah pemukiman-pemukiman muslim di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Dari sinilah timbul kontak dan sosialisasi dengan penduduk pribumi, sehingga mulailah proses penyebaran Islam.

Daerah di Indonesia yang pertama mendapat pengaruh Islam adalah daerah Indonesia bagian Barat. Daerah ini merupakan jalur perdagangan internasional, sehingga pengaruh dapat dengan cepat tumbuh di sana. Daerah pesisir itu nantinya menumbuhkan pusat-pusat kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Pidie, Aceh, Banten, Demak, Banjarmasin, Goa Makassar, Gresik, Tuban, Cirebon, Ternate dan Tidore sebagai pusat kerajaan Islam yang berada disekitar pesisir. Kota-kota pelabuhan seperti Jepara, Tuban, Gresik, Sedayu adalah kota-kota Islam di Pulau Jawa. Di Jawa Barat telah tumbuh kota-kota Islam seperti Cirebon, Jayakarta, dan Banten.
Bukti-bukti awal proses penyebaran agama Islam dapat kita temukan dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk tulisan, catatan perjalanan dari bangsa asing, maupun bukti-bukti fisik berupa batu nisan. Beberapa berita dari bangsa asing yang menunjukkan awal Islamisasi di Indonesia antara lain:
1. 1. Hikayat Dinasti Tang di Cina. Hikayat ini mencatat, terdapat orang¬orang Ta Shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah oleh Ratu Sima (675 M) Ta Shih ditafsirkan oleh para ahli yaitu bangsa Arab. Berdasarkan hikayat ini dapat disimpulkan bahwa Islam datang ke Indonesia bukan pada abad ke-12 M, melainkan pada abad ke-7 M dan berasal dari Arab langsung, bukan dari Gujarat India.
2. 2. ‘Aja’ib Al Hind , yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar sekitar tahun 390 H/1000 M berbahasa Persia. Mencatat adanya kunjungan pedagang muslim ke kerajaan Zabaj. Setiap orang muslim, baik pendatang maupun lokal, ketika datang ke kerajaan ini harus bersila . Kitab ini mengisyaratkan adanya komunitas muslim lokal pada masa kerajaan Sriwijaya. Kata Zabaj diidentikan dengan kata Sriwijaya.
3. 3. Marcopolo seorang pedagang dari Vene ia yang melakukan perjalanan pulang dari Cina menuju Persia, sempat singgah di Perlak pada tahun 1292. Menurutnya, Perlak merupakan kota Islam, sedangkan dua tempat di dekatnya, yang disebutnya Basma dan Samara bukanlah kota Islam. Di Perlak (Peureula) ia menjumpai penduduk yang memeluk Islam, dan juga banyak pedagang Islam dari India yang giat menyebarkan Islam.
4. 4. Ibn Batutah seorang musafir dari Maroko, dalam perjalanannya ke dan dari India pada tahun 1345 dan 1346, singgah di Samudera. Di sini ia mendapati bahwa penguasanya adalah seorang pengikut ma hab Syafi i. Hal ini menegaskan bahwa keberadaan ma hab ini sudah berlangsung sejak lama, yang kelak akan mendominasi Indonesia, walaupun ada kemungkinan bahwa ketiga ma hab Sunni lainnya (Hanafi, Maliki, dan Hambali) juga sudah ada pada masa-masa awal berkembangnya Islam.

Bukti-bukti fisik atau artefak yang menunjukkan awal Islamisasi di Indonesia yaitu antara lain:
1. 1. Batu nisan bertuliskan huruf Arab ditemukan di Leran, Gresik. Batu nisan ini memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475 Hijriah (1082 M).
2. 2. Di Sumatra (di pantai timur laut Aceh utara) ditemukan batu nisan Sultan Malik al-saleh yang berangka tahun 696 Hijriah (1297 M).
3. 3. Serangkaian batu nisan yang sangat penting ditemukan di kuburan-kuburan di Jawa Timur, yaitu di Trowulan dan Troloyo, dekat situs istana Majapahit. Batu nisan itu menunjukkan makam-makam orang muslim, namun lebih banyak menggunakan angka tahun Saka India dengan angka Jawa Kuno daripada tahun Hijriah dan angka Arab. Batu nisan yang pertama ditemukan di Trowulan memuat angka tahun 1290 Saka (1368-1369 M). Di Troloyo ada batu-batu nisan yang berangka tahun antara 1298 1533 Saka (1376 1611 M). Batu-batu nisan ini memuat ayat-ayat Al-Qur an.
4. 4. Sebuah batu nisan muslim kuno yang bertarikh 822 H (1419 M) ditemukan di Gresik (Jawa Timur). Batu nisan ini menjadi tanda makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Bentuk batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim (822 H/1419M), di Gresik Jawa Timur, memiliki kesamaan dengan bentuk batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat India. Diperkirakan batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat ke Wilayah Nusantara yang beriringan dengan penyebaran Islam.

Berdasarkan penemuan bukti-bukti awal proses Islamisasi di Indonesia, dapat ditarik kesimpulan, yaitu sebagai berikut :
1) Islam pertama kali masuk ke Indonesia abad pertama Hijriah atau sekitar abad ke-7 dan ke-8 M, dibawa oleh para pedagang Arab yang telah memiliki hubungan dagang dengan pedagang-pedagang di pesisir pantai Sumatra.
2) Islam mengalami perkembangan pada abad ke-13/14 M, setelah para pedagang Gujarat secara intensif melakukan proses penyebaran Islam seiring dengan kegiatan perdagangan mereka.
3) Islam datang ke Indonesia ada yang dari Arab langsung dan ada pula melalui Gujarat, India.
Selanjutnya berdasarkan hasil Seminar Nasional mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia, yang berlangsung di Medan tahun 1963, memberikan kesimpulan sebagai berikut.
1. 1. Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah (651 M).
2. 2. Masuknya Islam ke Indonesia pertama kali adalah di pesisir pantai Sumatra, dan setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja-raja Islam yang pertama berada di Aceh.
3. 3. Mubalig-mubalig Islam yang pertama selain sebagai penyiar Islam merangkap juga sebagai saudagar. Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang¬orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
4. 4. Masuknya Islam ke Indonesia dilakukan dengan cara damai.
5. 5. Kedatangan Islam di Indonesia membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.

Letak geografis wilayah Indonesia yang sangat strategis merupakan salah satu faktor penting masuknya pengaruh Islam di Indonesia. Ada dua hal pokok yang menjadi pertanyaan tentang proses Islamisasi yaitu, pertama dari mana asalnya Islam dan kedua kapan Islam itu masuk ke Indonesia. Untuk menjawab kedua pertanyaan pokok tersebut banyak sekali pendapat tentang proses Islamisasi di Indonesia.
Secara garis besar ada yang berpendapat bahwa Islam yang datang dari Indonesia berasal dari Arab langsung dan ada pula yang berpendapat bukan dari Arab. Mengenai kapan Islam itu datang, ada yang mengatakan pada abad ke-7 M dan ada pula yang mengatakan pada abad ke-13 M.
Penyebaran Islam dilakukan melalui berbagai cara, yaitu melalui perdagangan, pendidikan, pernikahan, dan pendekatan budaya.

Batu Nisan : batu yang ada pada kuburan atau makam yang biasanya mencantumkan nama orang yang meninggal tersebut serta kapan dia lahir dan meninggal.
Gerebeg Maulud : suatu perayaan untuk mengenang kelahiran Nabi
Muhammad saw. yang dilaksanakan di Kerajaan Mataram Islam.
Ilmu fiqih : ilmu yang mempelajari tata cara hukum melaksanakan ibadah.
Ilmu Ushuludin : ilmu yang mempelajari tentang ketauhidan Allah.
Islamisasi : proses penyebaran Islam
Mo Limo : ajaran Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo artinya ora gelem (tidak mau) dan Limo artinya perkara

yang lima, Jadi ada lima hal yang dilarang yaitu dilarang
berjudi, mabuk, menghisap madat, mencuri, dan ber ina.
Sakral : suci.
Tasawuf : suatu aliran atau ajaran dalam Islam yang lebih menekankan
pada perilaku hati dengan mencari kecintaan kepada
Allah.
Walisongo : nama sekelompok penyebar Islam di Jawa yang berjumlah
sembilan orang.

I. Pilihan Ganda

Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap paling benar!
1. Para sejarawan berpendapat bahwa masuknya pengaruh Islam ke Indonesia terjadi akibat proses ….
a. penaklukkan
b. birokrasi
c. perdagangan
d. pertukaran budaya
e. perkembangan ilmu pengetahuan

2. Pola budaya yang terjadi dalam proses masuknya pengaruh Islam ke Indonesia terjadi secara ….
a. akulturasi d. imitasi
b. asosiasi e. sinkretisme
c. adaptasi

3. Di bawah ini adalah para sejarawan yang berpendapat bahwa masuknya pengaruh Islam ke Indonesia terjadi pada abad ke-13, kecuali ….
a. Hamka d. Pijnappel
b. Mouquette e. Snouck Hurgronje
c. Morison

4. Sejarawan yang berpendapat bahwa masuknya agama Islam ke Indonesia terjadi pada abad ke-7 menunjuk daerah asal pengaruh Islam di Indonesia, yaitu dari daerah ….
a. Arab d. India
b. Cina e. Persia
c. Gujarat

5. Di bawah ini adalah daerah-daerah yang disebut oleh para sejarawan sebagai daerah asal pengaruh masuknya agama Islam di Indonesia, yaitu ….
a. Gujarat, Cina, dan Persia
b. Arab, Cina, dan India
c. Arab, Gujarat, dan Persia
d. Persia, India, dan Cina
e. Gujarat, Arab, dan Cina

6. Walisongo ialah sebutan bagi sembilan wali yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di pulau ….
a. Bali d. Sulawesi
b. Jawa e. Sumatra
c. Kalimantan

7. Salah seorang anggota Walisongo yang memanfaatkan kesenian yang telah berkembang di masyarakat sebagai media penyebaran Islam, yaitu ….
a. Sunan Ampel d. Sunan Kalijaga
b. Sunan Bonang e. Sunan Kudus
c. Sunan Muria

8. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa masuknya pengaruh Islam sebagai akibat proses perdagangan internasional. Hal ini ditunjukkan oleh letak kerajaan-kerajaan Islam yang ada di daerah ….
a. Muara Sungai d. Pesisir pantai
b. Pegunungan e. Tepi danau
c. Daratan

9. Bukti yang menunjukkan awal terjadinya proses Islamisasi di Indonesia dapat kita lihat dari berita-berita asing berikut ini, kecuali….
a. Hikayat Dinasti Tang d. Berita Ibn Batuta
b. Berita Marcopolo e. Kitab Aja ib Al Hind
c. Berita I-Tsing

10. Naskah Sastra Gending ditulis oleh ….
a. Ham ah Fansuri
b. Sultan Agung
c. Sultan Ageng Tirtayasa
d. Syekh Yusuf
e. Sultan Iskandar Muda

11. Bentuk batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim memiliki kemiripan dengan bentuk batu nisan yang berasal dari ….
a. Mekkah d. Cina
b. Gujarat e. Medinah
c. Persia

12. Satu-satunya anggota Walisongo yang hidup dan menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat adalah ….
a. Sunan Muria d. Sunan Kalijaga
b. Sunan Bonang e. Sunan Gunung Jati
c. Sunan Ampel

13. Dato ri Bandang merupakan salah seorang tokoh ulama yang menyebarkan agama Islam di daerah ….
a. Aceh d. Makassar
b. Jawa Tengah e. Minahasa
c. Minangkabau

14. Bustan as-Salatin merupakan salah satu karya yang ditulis oleh ….
a. Nurrudin ar-Raniri
b. Ham ah Fansuri
c. Abdurrauf as-Singkel
d. Dato ri Bandang
e. Sultan Iskandar Muda

15. Salah satu kesimpulan dari hasil Seminar Nasional mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia, yang berlangsung di Medan tahun 1963 adalah .
a. masuknya pengaruh agama Islam terjadi pada abad ke-7
b. masuknya pengaruh agama Islam terjadi pada abad ke-13
c. daerah pengaruh agama Islam di Indonesia berasal dari Cina
d. Walisongo adalah para ulama yang berasal dari Arab
e. Kerajaan Islam yang pertama terdapat di pulau Jawa

II. Soal Uraian

Jawablah pertanyaan di bawah ini secara singkat dan jelas!
1. Buatlah deskripsi singkat yang menjelaskan kondisi sosial-budaya masyarakat Indonesia sebelum masuknya pengaruh agama Islam di Indonesia!
2. Analisis kekuatan dan kelemahan teori yang menyebutkan bahwa pengaruh Islam masuk pada abad ke-13!
3. Analisis kekuatan dan kelemahan teori yang menyebutkan bahwa pengaruh Islam masuk pada abad ke-7?
4. Buatlah analisis hubungan proses masuknya agama Islam di Indonesia dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai!
5. Bagaimana cara Walisongo dalam menyebarkan agama Islam kepada masyarakat setempat?

Setelah masuknya Islam di Indonesia, berdirilah kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang menggantikan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Kerajaan Samudera Pasai, Malaka, Aceh, Demak, Pajang, Mataram, Banten, Cirebon, Makassar, Banjar, dan Ternate dan Tidore.
Kapan dan bagaimana proses berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam? Bagaimana kehidupan budaya, sosial ekonomi, dan politik pada kerajaan¬kerajaan Islam? Sampai sejauh mana peran kerajaan-kerajaan Islam dalam penyebaran agama Islam di Nusantara? Untuk mengetahui jawabannya, simaklah uraian berikut ini.
A. KEHIDUPAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
1. Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai dalam sejarah Indonesia tercatat sebagai kerajaan Islam yang pertama di Indonesia. Raja pertama dan pendiri kerajaan Samudera Pasai ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297). Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe sekarang (pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Pada tahun 1297 M, Sultan Malik Al-Saleh wafat, kemudian kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh putranya yang bernama Sultan Malik al-Tahir (1297¬1326). Setelah Sultan Malik al-Tahir wafat pada tahun 1326, kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh putranya, bernama Sultan Malik al-Zahir. Mengenai pribadi sultan ini, Ibnu Batutah (pengembara dari Maroko) yang pernah singgah di Samudera Pasai pada tahun 1345 dan 1346 mengatakan bahwa Sultan Malik al-Zahir adalah seorang sultan yang taat pada agama dan menganut ma hab Syafi i. Pada masa pemerintahan Malik al-Zahir terdapat orang Persia yang menjadi pejabat istana.
Pada tahun 1348, Sultan Malik al-Zahir wafat, kemudian takhta kerajaan dipegang oleh Zainal Abidin. Pada masa Zainal Abidin inilah, Majapahit berhasil menguasai Samudera Pasai. Dengan demikian, Samudera Pasai berada di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah Majapahit mengalami kehancuran, Samudera Pasai tegak kembali. Keberadaan Samudera Pasai sampai tahun 1405 masih terdengar diberitakan oleh Mohammad Cheng Ho pemimpin armada Cina, yang beragama Islam, dan sempat singgah di Samudera Pasai.

Setelah Zainal Abidin, kerajaan ini tidak terdengar lagi karena telah tergeser oleh Kerajaan Malaka.
Perekonomian masyarakat Samudera Pasai tergantung dari perdagangan. Posisinya yang berada di jalur perdagangan internasional dimanfaatkan oleh kerajaan ini untuk kemajuan ekonomi rakyatnya. Menurut beberapa sumber sejarah, diketahui bahwa banyak pedagang dari berbagai negara berlabuh di Pelabuhan Pasai. Kerajaan ini berusaha menyiapkan bandar-bandar yang dapat digunakan untuk menambah bahan perbekalan, mengurus perkapalan, mengumpulkan dan menyimpan barang dagangan, baik yang akan dikirim ke luar negeri maupun yang disebarkan di dalam negeri.

Gambar 4.1a Gambar 4.1b
Wilayah Kerajaan Samudera Pasai Makam Sultan Malikush Shaleh
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah (Sumber: Sejarah Nasional
Indonesia dan Dunia, halaman 14) Indonesia III, halaman 17)

Keadaan masyarakat Samudera Pasai pada saat itu, diketahui dari catatan perjalanan Marcopolo dan Ibn Batutah. Menurut catatan perjalanan mereka, masyarakat Pasai adalah masyarakat pedagang yang beragama Islam terutama mereka yang tinggal di pesisir pantai timur Sumatra. Menurut catatan mereka ini juga diketahui bahwa kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat penyebaran agama Islam ke kawasan sekitarnya di Sumatra dan Malaka. Orang-orang Pasai yang telah memeluk Islam menjadi golongan yang berperan dalam menyebarkan Islam, selain golongan pedagang dan ulama setempat.
Kehidupan sosial masyarakat Samudera Pasai, diatur menurut aturan¬aturan dan hukum-hukum Islam yang mempunyai kesamaan dengan daerah Arab, sehingga daerah kerajaan Samudera Pasai mendapat julukan daerah Serambi Mekkah.
Berikut ini urutan raja-raja yang memerintah di Samudera Pasai, yaitu sebagai berikut.
1. 1. Sultan Malik al-Saleh;
2. 2. Sultan Malikul Zahir;
3. 3. Sultan Muhammad;
4. 4. Sultan Ahmad Malikul Zahir (Sultan al-Malik Jamaluddin);
5. 5. Sultan Zainal Abidin;
6. 6. Sultan Bahiah.

2. Kerajaan Malaka

Wilayah kekuasaan kerajaan Malaka
Kerajaan Malaka sekarang termasuk wilayah negara Malaysia, tetapi karena Malaka memainkan peranan penting dalam pertumbuhan kerajaan¬kerajaan Islam di Indonesia maka kerajaan Malaka perlu dibahas dalam sejarah Islam di Indonesia.
Pertumbuhan Kerajaan Malaka dipengaruhi oleh ramainya perdagangan internasional Samudera Hindia. Pelabuhan Malaka sebelumnya tidak memiliki kekuasaan politik, kecuali sebagai tempat persinggahan para pedagang dari berbagai bangsa, terutama pedagang yang beragama Islam.
Tidak diketahui dengan pasti bagaimana awal berdirinya Kerajaan Malaka ini. Menurut beberapa versi, kerajaan ini didirikan oleh seorang pangeran dari Palembang bernama Parameswara yang lari ke Malaka ketika terjadi serangan dari Majapahit. Ia mendirikan kerajaan Malaka sekitar tahun 1400. Pada mulanya, Parameswara adalah seorang raja yang beragama Hindu. Setelah memeluk Islam, dia mengganti namanya dengan nama Islam, Muhammad Syah (1400-1414) . Raja pertama ini kemudian digantikan oleh Sultan Iskandar Syah (1414-1424). Selanjutnya raja-raja yang berkuasa di Malaka adalah Sultan Muzaffar Syah (1424-1444), Sultan Mansur Syah (1444-1477), dan Sultan Mahmud Syah (1477-1511).
Kerajaan Malaka memiliki peran yang sangat besar di bidang perdagangan. Perdagangan menjadi sumber utama penghasilan Kerajaan Malaka. Terdapat beberapa ciri mengenai perdagangan di Malaka.
1) Raja dan pejabat tinggi kerajaan terlibat dalam kegiatan dagang. Mereka memiliki kapal, nakhoda, dan awak kapal yang bekerja kepadanya. Selain itu, mereka juga menanamkan modalnya kepada perusahaan pelayaran.
2) Pajak bea cukai yang dikenakan terhadap setiap barang dibedakan atas asal barang. Barang yang berasal dari Asia Barat, seperti India, Persia, Arab, dan lain-lain, dikenakan bea sebesar 6%. Sedangkan barang¬barang dari Asia Timur, termasuk pedagang dari kepulauan Nusantara tidak dikenakan bea cukai, namun mereka harus memberikan upeti kepada raja dan para pembesar pelabuhan.
3) Perdagangan dijalankan dalam dua jenis. Pertama, pedagang memasukkan modal dalam bentuk barang dagangan yang diangkut dengan kapal untuk dijual ke negeri lain. Kedua, pedagang menitipkan barang atau meminjamkan uang kepada nakhoda yang akan membagi keuntungannya dengan pedagang pemberi modal.
4) Kerajaan mengeluarkan berbagai undang-undang yang mengatur perdagangan di Kerajaan Malaka, agar perdagangan berjalan lancar.
Kerajaan ini mengalami keruntuhan setelah Malaka dikuasai oleh Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque, pada tahun 1511. Dengan demikian, kekuasaan politik Kerajaan Malaka hanya berlangsung kurang lebih satu abad.
3. Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh berdiri dan muncul sebagai kekuatan baru di Selat Malaka, pada abad ke-16 setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Para pedagang Islam tidak mengakui kekuasaan Portugis di Malaka dan segera memindahkan jalur perniagaan ke bandar-bandar lainnya di seluruh Nusantara. Peran Malaka sebagai pusat perdagangan internasional digantikan oleh Aceh selama beberapa abad. Di Selat Malaka, Kerajaan Aceh bersaing dengan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaysia.

Kerajaan Aceh didirikan oleh Ali Mughayat Syah, adalah pendiri Kerajaan Aceh dan sekaligus sebagai raja pertamanya. Pada tahun 1514 – 1528 ia mulai bertakhta. Letak Kerajaan Aceh di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Pada tahun 1520, Kerajaan Aceh berhasil menguasai Daerah Pasai, Deli, dan Aru. Penguasaan terhadap daerah-daerah tersebut menyebabkan Aceh dapat mengontrol daerah penghasil lada dan emas.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 1636), Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaan. Wilayah kekuasaan Aceh pada saat itu meliputi Semenanjung Malaya dan sebagian Sumatra, kecuali Palembang dan Lampung yang dipengaruhi Banten. Perdagangan di Selat Malaka berkembang pesat dan Aceh memiliki hegemoni atas Selat Malaka, walaupun pelabuhan Malaka gagal dikuasai. Pelabuhan Aceh dibuka luas menjadi suatu bandar transito yang dapat menghubungkan perdagangan Islam di dunia Barat. Pada masa Sultan Iskandar Muda ini juga dibangun masjid besar Aceh yang berdiri hingga saat ini yaitu Masjid Baiturrahman.

Secara ekonomi masyarakat Aceh mengalami perkembangan secara pesat. Hal ini disebabkan daerahnya yang subur. Kesuburan tersebut ditandai dengan dihasilkannya barang-barang ekspor lainnya seperti beras, timah, emas, perak, dan rempah-rempah di pelabuhan Aceh. Pada masa Iskandar Muda, ia berusaha mengembangkan tanaman lada sebagai komoditas dagang utama. Agar harga lada di Aceh tetap tinggi, kebun-kebun di Kedah dibabat habis, sedangkan kebun lada di Aceh terus dipelihara. Dengan cara ini, pedagang-pedagang dari Barat hanya bisa membeli lada dari Aceh. Dengan monopoli ini, Aceh memperoleh keuntungan yang besar.
Kerajaan Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain, baik dari Barat maupun dari Timur. Pertukaran diplomat dan kerja sama ekonomi dengan Turki telah terbina sejak tahun 1582. Menurut Hikayat Aceh, Kerajaan Aceh telah mengadakan perjanjian politik dan dagang dengan Kamboja, Champa, Chiangmai, Lamer, Pashula, dan Cina. Selain itu, Aceh juga memiliki hubungan diplomatik dengan Prancis, Inggris, dan Belanda.
Kerajaan Aceh mengalami kemunduran sepeninggal Sultan Iskandar Muda, pada tahun 1636. Penggantinya Sultan Iskandar Thani (1637-1641), melakukan perluasan wilayah seperti yang dilakukan oleh sultan-sultan sebelumnya. Setelah itu, tidak ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh. Faktor lainnya yaitu perselisihan yang terus terjadi antara golongan Teuku dan golongan Tengku. Teuku adalah golongan bangsawan, sedangkan Tengku adalah pemuka agama. Kerajaan Aceh bertahan selama empat abad, sampai Belanda mengalahkannya dalam Perang Aceh (1873-1912).

4. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam yang pertama di Pulau Jawa. Kerajaan Demak berdiri sekitar abad ke-15 M. Pendiri kerajaan ini adalah Raden Patah, seorang putra Raja Majapahit Kertawijaya yang menikah dengan putri Campa. Secara geografis Demak terletak di Jawa Tengah.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Demak
Pada masa Kerajaan Majapahit, Demak merupakan salah satu wilayah kekuasaannya. Ketika Kerajaan Majapahit mengalami kehancuran akibat perang saudara tahun 1478, Demak bangkit menjadi kerajaan Islam yang pertama di Pulau Jawa. Candrasangkala pada Masjid Demak menyatakan bahwa tahun 1403 Saka (1481) sebagai tarikh berdirinya Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak berkembang menjadi kerajaan besar, di bawah kepemimpinan Raden Patah (1481-1518). Negeri-negeri di pantai utara Jawa yang sudah menganut Islam mengakui kedaulatan Demak. Bahkan Kekuasaan Demak meluas ke Sukadana (Kalimantan Selatan), Palembang, dan Jambi. Pada tahun 1512 dan 1513, di bawah pimpinan putranya yang bernama Adipati Unus, Demak dengan kekuatan 90 buah jung dan 12.000 tentara berusaha membebaskan Malaka dari kekuasaan Portugis dan menguasai perdagangan di Selat Malaka. Karena pernah menyerang ke Malaka Adipati Unus diberi gelar Pangeran Sabrang Lor (Pangeran yang pernah menyeberang ke utara).
Kerajaan Demak dianggap sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Ajaran Islam berkembang dengan pesat karena didukung oleh peranan Walisongo. Demak banyak melahirkan wali, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Murya. Peranan sunan-sunan yang berasal dari Demak ini sangat besar dalam penyebaran Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masa pemerintahan Raden Patah, ia didampingi oleh Sunan Kalijaga yang sangat berjasa dalam pembangunan Masjid Demak, yang gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara gaya Jawa (Hindu) dengan gaya Islam. Kehidupan sosial masyarakat Demak sudah mendapat pengaruh Islam, dengan digunakannya hukum-hukum yang berlaku dalam ajaran Islam dalam kehidupan sosial.
Perekonomian Demak berkembang ke arah perdagangan maritim dan agraria. Ambisi Kerajaan Demak menjadi negara maritim diwujudkan dengan upayanya merebut Malaka dari tangan Portugis, namun upaya ini ternyata tidak berhasil. Perdagangan antara Demak dengan pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara cukup ramai, Demak berfungsi sebagai pelabuhan transito (penghubung) daerah penghasil rempah-rempah dan memiliki sumber penghasilan pertanian yang cukup besar.
Setelah Raden Patah wafat pada tahun 1518 M, Kerajaan Demak dipimpin oleh Adipati Unus (1518-1521). Ia menjadi Sultan Demak selama tiga tahun. Kemudian ia digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggana (1521¬1546) melalui perebutan takhta dengan Pangeran Sekar Sedo Lepen. Untuk memperluas daerah kekuasaannya, Sultan Trenggana menikahkan putra-putrinya, antara lain dinikahkan dengan Pangeran Hadiri dari Kalinyamat (Jepara) dan Pangeran Adiwijaya dari Pajang. Sultan Trenggana berhasil meluaskan kekuasaannya ke daerah pedalaman. Ia berhasil menaklukkan Daha (Kediri), Madiun, dan Pasuruan. Pada saat melancarkan ekspedisi melawan Panarukan, Sultan Trenggana terbunuh. Pada masa Sultan Trenggana, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak sangat luas meliputi Banten, Jayakarta, Cirebon (Jawa Barat), Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur.
Wafatnya Sultan Trenggana (1546) menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak. Terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Prawato (putra Sultan Trenggana) dengan Aria Panangsang (keturunan Sekar Sedo Lepen (adik Sultan Trenggana)). Dalam perebutan kekuasaan itu, Aria Panangsang membunuh Pangeran Prawoto dan putranya, Pangeran Hadiri. Ratu Kalinyamat dan Aria Pangiri memohon bantuan kepada Adiwijaya di Pajang. Dalam pertempuran itu, Adiwijaya berhasil membunuh Aria Panangsang. Setelah itu, Adiwijaya memindahkan ibu kota Kerajaan Demak ke Pajang pada tahun 1568. Peristiwa ini menjadi akhir dari Kerajaan Demak.

5. Kerajaan Pajang
Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Sultan Adiwijaya pada tahun 1568, tidak berumur panjang. Kerajaan Pajang terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur. Setelah berhasil menaklukkan penguasa-penguasa lokal di Jawa Timur Raja Pajang memberikan hadiah kepada dua orang yang berjasa dalam penaklukan-penaklukannya, yaitu Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Panjawi. Ki Ageng Pamanahan yang telah berjasa dalam pertempuran melawan Aria Panangsang, diberi kekuasaan di Mataram, sedangkan Ki Ageng Panjawi diberi kekuasaan di Pati.
Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan (1584), putranya yang bernama Panembahan Senopati Ing Alaga (Sutawijaya), menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Mataram dan sekaligus diangkat sebagai panglima tentara Pajang.
Setelah Sultan Adiwijaya meninggal tahun 1582, takhta Pajang direbut Aria Pangiri (menantu Adiwijaya). Putra Adiwijaya yang bernama Pangeran Banowo meminta bantuan kepada Adipati Mataram, Panembahan Senopati, untuk merebut takhta kerajaan. Aria Pangiri kalah dan melarikan diri ke Banten, sementara Pangeran Banowo menyerahkan takhta kerajaan kepada Panembahan Senopati. Berakhirlah Kerajaan Pajang dan selanjutnya berdirilah Kerajaan Mataram.

6. Kerajaan Mataram

Gambar 4.8 Wilayah kekuasaan Mataram (Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 19)
Kerajaan Mataram didirikan oleh Panembahan Senopati Ing Alaga (Sutawijaya) (1584-1601), pada sekitar abad ke-16. Pusat kerajaan terletak di Yogyakarta. Ia mempunyai cita-cita untuk mempersatukan Jawa ke dalam pengaruh kekuasaannya. Untuk itu, ia melakukan perluasan kekuasaan ke daerah Demak, Madiun, Kediri, Ponorogo, Tuban, dan Pasuruan. Tetapi cita-citanya itu mendapat rintangan dari daerah lainnya dan Surabaya tidak dapat ditaklukkan. Para pelaut Belanda melaporkan tentang ekspedisi Mataram melawan Banten sekitar tahun 1597 yang mengalami kegagalan.
Senopati meninggal tahun 1601, dan dimakamkan di Kota Gede. Ia digantikan oleh putranya bernama Mas Jolang terkenal dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak (1601-1613). Pada tahun 1602, Pangeran Puger, saudara sepupu raja yang telah diangkat sebagai penguasa Demak melakukan pemberontakan. Pada tahun 1602, Krapyak dipaksa mundur, namun sekitar 1605 Pangeran Puger berhasil dikalahkannya. Pada masa Krapyak ini, Mataram mengadakan kontak pertamanya dengan VOC. Pada tahun 1613 dia mengirim duta kepada Gubernur Jenderal Pieter Both di Maluku untuk mengadakan persekutuan. Kemungkinan Krapyak beranggapan bahwa dia dan VOC sama-sama memusuhi Surabaya.
Setelah Krapyak meninggal, takhta kerajaan diserahkan kepada anaknya yang bernama Raden Rangsang yang terkenal dengan gelar Sultan Agung (1613-1645). Dialah raja Mataram terbesar dalam sejarah. Seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk Madura mengakui kedaulatan Mataram. Pada tahun 1625, ia berhasil menaklukkan Surabaya yang sukar dikalahkan. Di Jawa Barat, kekuasaan Mataram tertanam di Cirebon, Sumedang, dan Ukur (Bandung sekarang). Cita-citanya untuk mempersatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaannya tidak berhasil. Banten yang merupakan saingan utamanya tidak berhasil dikuasai.

Gambar 4.9 Sultan Agung (Sumber: foto-foto.com/ apahlawan1/main.html)

Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, Mataram mengalami kejayaan dalam berbagai bidang di antaranya dalam bidang perekonomian. Mataram adalah sebuah negara agraris yang mengutamakan mata pencahariannya dalam bidang pertanian. Kehidupan masyarakatnya berkembang dengan pesat yang didukung oleh hasil bumi yang berupa beras (padi). Di bidang kebudayaan Sultan Agung berhasil membuat Kalender Jawa, yang merupakan perpaduan tahun Saka dengan tahun Hijriyah. Dalam bidang seni sastra, Sultan Agung mengarang kitab sastra gending yang berupa kitab filsafat. Sultan Agung juga menciptakan tradisi Syahadatain (dua kalimah syahadat) atau Sekaten, yang sampai sekarang tetap diadakan di Yogyakarta dan Cirebon setiap tahun.
Tumbuhnya kerajaan Mataram yang bersifat agraris bersamaan dengan tumbuhnya susunan masyarakat feodal. Susunan masyarakat feodal Mataram dibedakan antara penguasa dengan yang dikuasai dan antara pemilik tanah dengan penggarap. Ketika kekuasaan Mataram dibagi-bagi oleh pemerintah kolonial Belanda, sistem feodalisme Mataram tetap dipertahankan. Puncak hierarki masyarakat feodal berada di tangan raja. Untuk melambangkan status kebesaran raja dapat dilihat dari bangunan keratonnya. Sultan Agung membangun Keraton Mataram di Karta dan Sitinggil (Yogyakarta) pada tahun 1614 dan 1625 yang dilengkapi dengan alun-alun, tembok keliling, pepohonan, masjid besar, dan kolam.
Sementara itu, VOC berhasil menduduki Batavia. Sultan Agung berusaha melakukan serangan ke Batavia (markas VOC) pada tahun 1628 dan 1629 dengan tujuan untuk mengusir Belanda dari Batavia, tetapi serangan itu mengalami kegagalan. Serangannya yang pertama pada tahun 1628, membuat beberapa kali benteng VOC terancam jatuh, namun upaya ini belum berhasil, pihak Jawa menderita kerugian besar. Pada tahun 1629, Sultan Agung mencoba lagi melakukan serangan kedua. Serangan ini pun ternyata mengalami kegagalan pasukan-pasukan Mataram mulai bergerak pada akhir Mei, tetapi pada bulan Juli kapal-kapal VOC berhasil menemukan dan menghancurkan gudang-gudang beras dan perahu-perahu di Tegal dan Cirebon yang disiapkan untuk tentara Sultan Agung. Penyerangan terhadap Batavia hanya bertahan selama beberapa minggu, pihak Sultan Agung banyak mengalami penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kelaparan.
Pada tahun 1645, Sultan Agung wafat dan dimakamkan di situs pemakaman di puncak bukit tertinggi di Imogiri, yang ia buat sebelumnya. Kerajaan Mataram kemudian dipimpin oleh putranya, Amangkurat I (1647-1677). Pada masa pemerintahannya, Mataram mengalami kemunduran karena masuknya pengaruh Belanda. Amangkurat I dan pengganti-pengganti selanjutnya bekerja sama dengan VOC dan penguasa Belanda. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menguasai tanah Jawa yang subur.
Belanda berhasil memecah belah Mataram. Pada tahun 1755 dilakukan Perjanjian Giyanti, yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua wilayah kerajaan, yaitu:
1) Daerah kesultanan Yogyakarta yang dikenal dengan nama Ngayogyakarta
Hadiningrat dipimpin oleh Mangkubumi sebagai rajanya dengan gelar
Sultan Hamengkubuwono I.
2) Daerah Kasunanan Surakarta, dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono.
Campur tangan Belanda mengakibatkan kerajaan Mataram terbagi menjadi beberapa bagian, sehingga pada tahun 1813 terdapat empat keluarga raja yang masing-masing memiliki wilayah kekuasaan, yaitu: Kerajaan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran.
7. Kerajaan Banten

Gambar 4.10
Peta wilayah Kerajaan Banten
(Sumber: Rashad Hzerman, dkk, 1999, Atlas Sejarah Nasional, halaman 39)

Sultan pertama Kerajaan Banten ini adalah Sultan Hasanuddin yang memerintah tahun 1522-1570. Ia adalah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak yang pernah diutus oleh Sultan Trenggana menguasai bandar¬bandar di Jawa Barat. Pada waktu Kerajaan Demak berkuasa, daerah Banten merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Namun setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten akhirnya melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Demak.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) membuat para pedagang muslim memindahkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan. Hasanuddin memperluas kekuasaan Banten ke daerah penghasil lada, Lampung di Sumatra Selatan yang sudah sejak lama mempunyai hubungan dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia telah meletakkan dasar-dasar bagi kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.
Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Setelah Pajajaran ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda memeluk agama Islam.
Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia sangat menentang kekuasaan Belanda.Usaha untuk mengalahkan orang-orang Belanda yang telah membentuk VOC serta menguasai pelabuhan Jayakarta yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa mengalami kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mulai dikuasai oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.

Gambar 4.11
Pintu gerbang Kesultanan Banten
(Sumber: Ensiklopedi Islam Seri 1, halaman 236)

8. Kerajaan Cirebon

Gambar 4.12
Peta wilayah Kerajaan Cirebon
(Sumber: Rashad Herman, dkk, 1999, Atlas Sejarah Nasional, halaman 32)

Pada masa kekuasaan Kerajaan Pajajaran sekitar abad ke-16 M, Cirebon merupakan salah satu daerah kekuasaannya. Selanjutnya Cirebon berada di bawah pengaruh Kesultanan Demak. Menurut cerita di Jawa Barat, pendiri kerajaan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati yang juga sebagai salah seorang walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat. Nama Sunan Gunung Jati juga sering dikaitkan dengan berdirinya Jayakarta atau Jakarta yang semula bernama Sunda Kelapa.
Menurut cerita di Banten, Sunan Gunung Jati adalah Faletehan yang berkeinginan untuk menyebarkan Islam di kota-kota penting Pajajaran. Akan tetapi, sumber-sumber sejarah Cirebon mencatat bahwa Sunan Gunung Jati dan Faletehan atau Fatahillah adalah dua orang yang berbeda. Menurut sumber tersebut Faletehan adalah menantu Sunan Gunung Jati yang menikahi anaknya Nyai Ratu Ayu. Faletehan kemudian menjadi Raja Cirebon setelah mertuanya wafat tahun 1570. Pada masa pemerintahan Fatahillah, Kesultanan Cirebon berkembang sebagai pusat perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke Majalengka, Kuningan, Kawali, Banten, dan daerah lainnya di Jawa Barat. Pada tahun 1570, Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan di Gunung Jati Cirebon Jawa Barat.

Gambar 4.13
Keraton Kasepuhan Cirebon
(Sumber: Ensiklopedi Islam 1, halaman 273)

9. Kerajaan Makasar (Goa dan Tallo)

Gambar 4.14
Peta wilayah Kerajaan Makassar
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 18)

Makassar tumbuh menjadi pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini disebabkan letak Makassar yang strategis dan menjadi bandar penghubung antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Lemahnya pengaruh Hindu-Buddha di kawasan ini menyebabkan nilai-nilai kebudayaan Islam yang dianut oleh masyarakat di Sulawesi Selatan menjadi ciri yang cukup menonjol dalam aspek kebudayaannya. Kerajaan Makassar mengembangkan kebudayaan yang didasarkan atas nilai-nilai Islam dan tradisi dagang. Berbeda dengan kebudayaan Mataram yang bersifat agraris, masyarakat Sulawesi Selatan memiliki tradisi merantau. Keterampilan membuat perahu phinisi merupakan salah satu aspek dari kebudayaan berlayar yang dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan.
Islam masuk ke daerah Makassar melalui pengaruh Kesultanan Ternate yang giat memperkenalkan Islam di sana. Raja Gowa yang bernama Karaeng Tunigallo selanjutnya masuk Islam setelah menerima dakwah dari Dato Ri Bandang. Selanjutnya Karaeng Tunigallo memakai gelar Sultan Alaudin Awwalul-Islam (1605-1638).
Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1660), Kerajaan Makassar mencapai puncak kejayaannya. Ia berhasil membangun Makassar menjadi kerajaan yang menguasai jalur perdagangan di wilayah Indonesia Bagian Timur. Pada masa Hasanuddin terjadi peristiwa yang sangat penting. Persaingan antara Goa-Tallo (Makassar) dengan Bone yang berlangsung cukup lama diakhiri dengan keterlibatan Belanda dalam Perang Makassar (1660-1669). Perang ini juga Gambar 4.15 disulut oleh perilaku orang-orang Belanda yang menghalang-halangi pelaut Makassar membeli rempah-rempah dari Maluku dan mencoba ingin memonopoli perdagangan.

Gambar 4.15 Sultan Hasanuddin (Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia halaman 18)

Keberaniannya melawan Belanda membuat Sultan Hasanuddin dijuluki “Ayam Jantan dari Timur oleh orang-orang Belanda sendiri. Dalam perang ini Hasanuddin tidak berhasil mematahkan ambisi Belanda untuk menguasai Makassar. Dengan terpaksa, Makassar harus menyetujui Perjanjian Bongaya (1667) yang isinya sesuai dengan keinginan Belanda, yaitu:
1) Belanda memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar; 2) Belanda mendirikan benteng pertahanan di Makassar; 3) Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya berupa daerah di
luar Makassar; 4) Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.
Walaupun perjanjian sudah ditandatangani, tetapi Sultan Hasanuddin tetap berjuang melawan Belanda. Setelah Benteng Sombaopu jatuh ke tangan Belanda, Sultan Hasanuddin turun takhta. Kekuasaannya diserahkan kepada putranya, Mappasomba.

Gambar 4.16
Komplek makam Sultan Hasanuddin di Tamallatte Goa – Sulawesi Selatan
(Sumber: Sejarah Nasional Indonesia III, halaman 14)

10. Kerajaan Banjar

Gambar 4.17
Peta wilayah Kerajaan Banjar
(Sumber: Atlas Sejarah Nasional, halaman 32)

Kerajaan Banjar merupakan kerajaan Islam yang terletak di Pulau Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Selatan. Kerajaan Banjar disebut juga Kesultanan Banjarmasin. Kata Banjarmasin merupakan paduan dari dua kata, yaitu bandar dan masih. Nama Bandar Masih diambil dari nama Patih Masih, seorang perdana menteri Kerajaan Banjar yang cakap dan berwibawa.
Sebelum menjadi kerajaan Islam, Kerajaan Banjar telah diperintah oleh tujuh orang raja. Raja pertama ialah Pangeran Surianata (1438-1460) dan raja terakhir ialah Pangeran Tumenggung (1588-1595).
Selama Pangeran Tumenggung memerintah, situasi politik di Kerajaan Banjar berada dalam keadaan rawan dan roda pemerintahan tidak dapat berjalan dengan baik. Pusat pemerintahan lalu dipindahkan dari Daha ke Danau Pagang, dekat Amuntai. Pangeran Samudera yang berada di pengasingan secara diam-diam menyusun kekuatan untuk menaklukkan Pangeran Tumenggung. Akibatnya, pada tahun 1595 terjadi perang saudara yang berakhir dengan kemenangan di pihak Pangeran Samudera.
Keberhasilan Pangeran Samudera tidak terlepas dari dukungan umat Islam di wilayah Banjar serta dukungan Patih Masih dengan prajurit Kerajaan Demak. Setelah masuk Islam, Pangeran Samudera berganti nama menjadi Pangeran Suriansyah. Kemudian ia memindahkan pusat pemerintahan ke suatu tempat yang diberi nama Bandar Masih, sekarang Banjarmasin. Peristiwa ini tercatat sebagai awal berdirinya Kerajaan Banjar yang bercorak Islam dan masa kebangkitan orang-orang Islam di Kalimantan.
Perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan Banjar juga terjadi pada masa pemerintahan sultan-sultan berikutnya. Pada akhir masa pemerintahan Sultan Hidayatullah (1650), pusat pemerintahan dipindahkan ke Batang Mangapan, yang sekarang bernama Muara Tambangan, dekat Martapura. Pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah (1745-1778) pusat pemerintahan dipindahkan ke Martapura pada tahun 1766, pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman (1808-1825) dipindahkan ke Karang Intan, dan pada pemerintahan Sultan Adam al-Wasi’ Billah (1825-1857) dipindahkan kembali ke Martapura.
Islam yang telah dianut oleh tokoh dan pembesar-pembesar kesultanan ini, berkembang terus di Kalimantan. Hal ini dimungkinkan karena mereka memberi perhatian dan dukungan yang besar terhadap perkembangannya, antara lain adanya usaha Sultan Tahlillullah (memerintah 1700-1745) untuk mengembangkan dakwah Islam di sana.
Sultan terakhir yang memerintah Kesultanan Banjar ialah Pangeran Tamjidillah (1857-1859). Pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai sultan oleh Belanda mendapat tantangan dari masyarakat, sehingga menimbulkan pergolakan. Karena tidak dapat memenuhi keinginan Belanda, ia diturunkan dari takhta. Pada tanggal 11 Juni 1860, Belanda menghapuskan kesultanan. Meskipun demikian, peperangan terus berkobar.

Gambar 4.18
Makam Sultan Sulaiman di Martapura
(Sumber: Ensiklopedi Islam 1, halaman 227

11. Kerajaan Ternate dan Tidore

Gambar 4.19
Peta wilayah Kerajaan Ternate dan Tidore
(Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 19)

Masuknya Islam ke Maluku erat kaitannya dengan kegiatan perdagangan. Pada abad ke-15, para pedagang dan ulama dari Malaka dan Jawa menyebarkan Islam ke sana. Dari sini muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja) yaitu Kesultanan Ternate yang dipimpin Sultan Zainal Abidin (1486-1500), Kesultanan Tidore yang dipimpin oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh Sultan Sarajati, dan Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko. Pada masa kesultanan itu berkuasa, masyarakat muslim di Maluku sudah menyebar sampai ke Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Halmahera.
Kerajaan Ternate dan Tidore yang terletak di sebelah Pulau Halmahera (Maluku Utara) adalah dua kerajaan yang memiliki peran yang menonjol dalam menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang mencoba menguasai Maluku. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua kerajaan ini bersaing memperebutkan hegemoni politik di kawasan Maluku. Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan daerah penghasil rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, sehingga daerah ini menjadi pusat perdagangan rempah-rempah.
Wilayah Maluku bagian timur dan pantai-pantai Irian (Papua), dikuasai oleh Kesultanan Tidore, sedangkan sebagian besar wilayah Maluku, Gorontalo, dan Banggai di Sulawesi, dan sampai ke Flores dan Mindanao, dikuasai oleh Kesultanan Ternate. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Baabullah, sedangkan Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Nuku.
Persaingan di antara kerajaan Ternate dan Tidore adalah dalam perdagangan. Dari persaingan ini menimbulkan dua persekutuan dagang, masing-masing menjadi pemimpin dalam persekutuan tersebut, yaitu:
a. Uli-Lima (persekutuan lima bersaudara) dipimpin oleh Ternate meliputi Bacan, Seram, Obi, dan Ambon. Pada masa Sultan Baabulah, Kerajaan Ternate mencapai aman keemasan dan disebutkan daerah kekuasaannya meluas ke Filipina.
b. Uli-Siwa (persekutuan sembilan bersaudara) dipimpin oleh Tidore meliputi Halmahera, Jailalo sampai ke Papua. Kerajaan Tidore mencapai aman keemasan di bawah pemerintahan Sultan Nuku.

Gambar 4.20
Peta wilayah perdagangan Uli Lima dan Uli Siwa
(Sumber: M. Habib Mustopo, halaman 83)

Kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang berkembang adalah Kesultanan Palembang yang didirikan oleh Ki Gedeng Suro, Kerajaan Bima di daerah bagian timur Sumbawa, dengan rajanya La Ka’i, Siak Sri Indrapura yang didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, dan masih banyak lagi Kerajaan Islam kecil lainnya di Indonesia.

B. SISTEM DAN STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT DI KERAJAAN-KERAJAAN BERCORAK ISLAM
Pada masa kerajaan-kerajaan Islam, kehidupan masyarakat mengalami pertumbuhan lebih cepat di daerah pesisir. Daerah pesisir berkembang menjadi suatu perkotaan. Hal ini terjadi disebabkan di daerah pesisir tumbuh perdagangan. Perdagangan di pesisir dapat tumbuh karena daerah pesisir merupakan daerah titik temu lalu lintas. Lalu lintas terjadi, baik antarpulau yang dihubungkan melalui laut maupun dari pedalaman yang biasanya dihubungkan dengan sungai. Keterikatan daerah pedalaman atau pedesaan sangat tinggi terhadap daerah pesisir.

Struktur masyarakat yang terbentuk pada masa penyebaran Islam meliputi, sebagai berikut.
1. Golongan raja dan keluarganya
Raja dan keluarganya merupakan golongan tertinggi dalam struktur masyarakat. Mereka mendapatkan kedudukan yang terhormat di mata masyarakat. Kompleks keraton merupakan tempat tinggal raja. Raja mengendalikan kekuasaan atau pemerintahan di ibu kota kerajaan yang biasanya tempat di mana keraton tersebut berdiri. Keluarga raja termasuk dalam kelompok bangsawan. Keluarga raja memiliki nama-nama khusus, misalnya priyayi merupakan sebutan untuk keluarga kerajaan di Mataram, dan kadanghaji untuk sebutan keluarga raja di Kalimantan.
Keistimewaan keluarga raja dapat pula disebabkan oleh pendidikan yang mereka peroleh. Pada umumnya keluarga kerajaan mendapatkan pendidikan yang lebih baik dibanding masyarakat umum. Cara pendidikan yang dilakukan raja yaitu memanggil guru khusus ke keraton untuk mendidik anaknya. Selain itu, pendidikan dilakukan juga dengan cara raja mengirim putranya untuk mengikuti pendidikan di luar atau di tempat-tempat khusus, misalnya tempat pendidikan agama. Hal tersebut dilakukan misalnya Pangeran Arya putra raja Banten dididik oleh Ratu Kalinyamat di Jepara.
2. Golongan elite
Selain golongan raja dan keluarganya yang termasuk golongan tinggi, terdapat pula golongan yang memiliki kedudukan tinggi dan terhormat di mata masyarakat yaitu golongan elite. Kelompok masyarakat yang termasuk ke dalam golongan elite yaitu bangsawan, tentara, kaum keagamaan, dan pedagang. Golongan elite di Kerajaan Mataram disebut kaum priyayi. Mereka ini biasanya merupakan pejabat pemerintahan.
Pengangkatan pejabat pemerintahan dilakukan oleh raja. Jabatan pemerintahan bisa berasal dari kalangan keluarga raja sendiri atau orang luar, bahkan ada yang diangkat dari bangsa asing. Pengangkatan orang luar biasanya dilakukan oleh raja karena raja memandang orang luar tersebut sangat layak untuk memangku jabatan yang diberikannya. Jabatan yang diberikan kepada orang asing misalnya jabatan Syahbandar. Dalam beberapa contoh pengangkatan orang asing menjadi Syahbandar terjadi seperti orang India menjabat syahbandar di Kerajaan Aceh, orang Cina di Selebar, orang Cina dan Gujarat di Banten, orang Belanda di Cirebon, dan orang Aceh di Kutai.
Para pedagang memiliki kedudukan penting pula dalam struktur masyarakat pada kerajaan Islam. Peran padagang sangat penting karena mereka sangat menentukan terhadap aktivitas perdagangan kerajaan. Sedangkan kebesaran dan kekuatan kerajaan tersebut sangat tergantung kepada perdagangan. Di Aceh misalnya para pedagang disebut dengan sebutan orang kaya.
3. Golongan non elite
Golongan ini merupakan golongan rendah yaitu golongan rakyat banyak. Dalam struktur masyarakat di Jawa, golongan ini disebut dengan sebutan wong cilik. Adapun yang termasuk golongan ini yaitu petani, nelayan, para tukang. Kehidupan mereka biasanya sangat bergantung pada golongan elite. Misalnya di Jawa, ada sekelompok petani yang pekerjaannya menjadi penggarap tanah yang dimiliki oleh golongan bangsawan.
4. Golongan hamba sahaya atau budak
Golongan ini merupakan golongan paling rendah dalam struktur masyarakat. Kehidupan mereka sangat ditentukan oleh orang lain, dengan kata lain mereka hidupnya tidak merdeka. Golongan budak dapat terjadi disebabkan oleh
beberapa faktor, di antaranya karena tawanan perang, dan tidak mampu membayar utang. Pada masa lalu, sering terjadi perang antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok yang lainnya. Kelompok yang kalah perang biasanya menjadi tawanan yang kemudian dijadikan budak. Mereka harus menghamba kepada kelompok yang mengalahkannya. Ada pula, perbudakan terjadi ketika seseorang tidak mampu membayar utang. Sebagai pengganti pembayaran utang, maka orang yang mengutang tersebut akan menjual dirinya atau anggota keluarganya untuk menghamba atau menjadi budak kepada orang yang memberikan utang. Seorang budak dapat berpindah dari seorang pemiliknya kepada yang lain. Pemindahan kepemilikan budak ini biasanya dilakukan melalui proses perdagangan. Jadi budak tersebut dapat diperjualbelikan.

C. HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH
Hubungan yang dituntut oleh kerajaan pusat terhadap daerah adalah loyalitas. Agar daerah tidak melakukan pemberontakan dan me¬nunjukkan sikap loyalitasnya, maka kerajaan pusat melakukan sikap mengendalikan terhadap daerah dan melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik penguasa daerah. Tuntutan loyalitas dari daerah kepada pusat diatur dengan adanya kewajiban-kewajiban. Kewajiban-kewajiban itu antara lain sebagai berikut.

1. Seba
Seba merupakan bentuk hubungan dari kerajaan pusat terhadap kerajaan va al atau penguasa daerah. Kegiatan ini pada dasarnya untuk menunjukkan kekuasaan kerajaan pusat atau kontrol kerajaan pusat kepada penguasa daerah pada satu sisi, sedangkan pada sisi lain untuk menunjukkan kesetiaan raja¬raja va al atau penguasa daerah kepada raja pusat. Dalam acara seba, raja pusat akan mengundang penguasa daerah. Kedatangan para penguasa daerah, biasanya diiringi dengan pengiriman upeti. Ketidakhadiran para penguasa daerah dapat menimbulkan kecurigaan dari raja pusat. Kerajaan pusat dapat memberikan penilaian bahwa ketidakhadiran kerajaan daerah tersebut merupakan bentuk dari pemberontakan. Apabila hal ini terjadi, dapat berpengaruh terhadap penguasa daerah. Penguasa daerah dapat diberi hukuman apabila ketidakhadiran mereka benar-benar tidak beralasan.
Acara seba bisanya dilaksanakan pada saat-saat tertentu. Di Kerajaan Mataram misalnya dilaksanakan pada setiap bulan Maulud (bulan dilahirkannya Nabi Muhammad saw.), berkaitan dengan perayaan kelahiran Nabi Muhammad saw. atau sering disebut Mauludan. Kerajaan Islam lainnya, seperti Kerajaan Gowa, Bone, Luwu, melaksanakan acara seba pada setiap Hari Raya Idul Fitri. Pada acara ini dilakukan kegiatan silaturahmi antara raja pusat dengan para penguasa daerah.
2. Pengiriman upeti dan penyerahan hasil pajak
Upeti adalah pemberian yang diberikan oleh seseorang terhadap raja. Pemberian upeti dilakukan oleh daerah sebagai suatu kewajiban karena yang bersangkutan dalam perlindungan raja (vasal). Pemberian upeti juga menunjukkan loyalitas atau kesetiaan daerah terhadap raja pusat. Bentuk upeti tidak hanya berupa barang tak bergerak, tetapi dapat berupa hewan yang sangat jarang ditemukan di tempat lain atau sejenis tumbuhan yang sangat jarang ada, bahkan dapat pula wanita. Upeti ini merupakan tambahan kekayaan dan penghasilan bagi raja dan kerajaan yang menjadi pelindung bagi kerajaan-kerajaan lain.
Kerajaan Demak sangat makmur pada masa kekuasaan Raden Patah hingga Trenggono karena mengalirnya upeti dari bupati-bupati Jawa, bahkan dari Palembang dan Banjarmasin. Penghasilan Kerajaan Ternate banyak yang berasal dari upeti dan pajak yang diberikan oleh daerah taklukkannya berupa gandum, roti, ikan, dan sebagainya. Pangeran Samudera dari Kerajaan Banjar ketika dilantik menjadi raja dengan gelar Maharaja Suriansyah, banyak mendapat persembahan dari daerah-daerah di sekitarnya (antara lain Sambas Batang lawai, Sukadana, Kotawaringin, Pambuang, Sampit, Mandawai, Sambangau dan lain-lain), sebagai bentuk pengakuan atas kekuasaannya.
3. Pengiriman tenaga kerja dari daerah terhadap pusat
Pengiriman tenaga kerja dari daerah ke pusat biasanya dilakukan untuk kepentingan perang atau membuat suatu bangunan. Cirebon pernah membantu Demak dengan mengirim pasukan perang, ketika Demak hendak menyerang Sunda Kelapa.

Salah satu dampak penting dari adanya Islamisasi di Indonesia adalah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan-kerajaan Islam tersebut pada umumnya terletak di tepi pantai atau dekat pelabuhan. Hal ini memberikan bukti bahwa penyebaran Islam terjadi melalui perdagangan. Pada mulanya daerah-daerah yang menjadi pusat kerajaan Islam merupakan kota-kota dagang yang ramai dikunjungi oleh para pedagang, baik pedagang pribumi maupun pedagang asing. Lambat laun seiring dengan meningkatnya aktivitas perdagangan di wilayah tersebut, maka lahirlah kerajaan-kerajaan Islam.

Maluku Kie Raha : sebutan untuk empat kerajaan Islam di Maluku yang (Maluku Empat Raja) yaitu Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo, dan Kesultanan Bacan
Mazhab Syafi’i : salah satu aliran atau ma hab fiqih Islam yang dilahirkan oleh Imam Syafi i.
Muballig : orang yang menyampaikan atau menyebarkan ajaran-ajaran Islam
Pangeran Sabrang Lor : pangeran yang pernah menyeberang ke utara yaitu
gelar yang diberikan kepada Adipati Unus karena
ia memimpin menyerang Portugis di Malaka.
Sa-mu-ta-la : sebutan untuk Kerajaan Samudera Pasai menurut sumber Cina.
Seba : berasal dari kata sabha yang berarti sidang atau pertemuan raja-raja.
Syahadatain : dua kalimah syahadat
Teuku : golongan bangsawan
Tengku : golongan pemuka agama
Uli-Lima : persekutuan lima dipimpin oleh Ternate meliputi Bacan, Seram, Obi dan Ambon.
Uli-Siwa : persekutuan sembilan dipimpin oleh Tidore meliputi Halmahera, Jailalo sampai ke Papua.

I. Pilihan Ganda

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Kerajaan Islam tertua yang ada di Indonesia adalah kerajaan ….
a. Aceh d. Malaka
b. Banten e. Samudera Pasai
c. Demak

2. Keadaan masyarakat Samudera Pasai dapat kita ketahui dari catatan perjalanan yang ditulis oleh ….
a. Fa-Hien dan I-Tsing
b. Marcopolo dan I-Tsing
c. Marcopolo dan Ibn Batuta
d. Ibn Batuta dan I-Tsing
e. Fa-Hien dan Ibn Batuta

3. Pendiri Kerajaan Malaka adalah ….
a. Maulana malik Ibrahim d. Merah Silu
b. Sultan Iskandar Muda e. Alauddin Riayat Syah
c. Parameswara

4. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh dicapai pada masa kekuasaan raja ….
a. Ali Mughayat Syah d. Iskandar Agung
b. Alauddin Riayat Syah e. Iskandar Thani
c. Ar-Raniri

5. Hubungan diplomatik dan kerja sama ekonomi yang dilakukan Kerajaan Aceh dengan kerajaan-kerajaan lain dapat kita ketahui dari ….
a. Hikayat Raja-raja Pasai
b. Hikayat Aceh
c. Bustan as-Salatin
d. Syair Perahu
e. Safinat an-Najat

6. Demak berkembang menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa setelah berhasil mendesak dan menundukkan salah satu kerajaan yang bercorak Hindu yaitu kerajaan ….
a. Mataram d. Majapahit
b. Singhasari e. Daha
c. Kediri

7. Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1775 dibagi ke dalam dua kekuasaan yaitu Yogyakarta dan Surakarta sebagai hasil dari perjanjian ….
a. Bongaya d. Paregreg
b. Gianyar e. Bubat
c. Giyanti

8. Sektor perekonomian yang dikembangkan oleh kerajaan Mataram terutama pada masa kekuasaan Sultan Agung bertumpu pada sektor ….
a. Maritim d. Agraris
b. Perdagangan e. Pariwisata
c. Industri

9. Berkembangnya Banten sebagai pusat perdagangan didorong oleh peristiwa ….
a. kemunduran Kerajaan Aceh setelah berakhirnya kekuasaan Sultan Iskandar Muda
b. kemunduran Kerajaan Demak
c. terbaginya kekuasaan Mataram menjadi dua
d. jatuhnya Malaka ke tangan Portugis
e. munculnya kota pelabuhan Cirebon

10. Salah satu kerajaan Islam yang memiliki peranan besar dalam perkembangan Islam di Kerajaan Banjar adalah ….
a. Banten d. Mataram
b. Cirebon e. Makassar
c. Demak

11. Puncak kejayaan Kerajaan Makassar terjadi pada masa kekuasaan Raja ….
a. Sultan Agung
b. Sultan Ageng Tirtayasa
c. Sultan Iskandar Muda
d. Sultan Hasanuddin
e. Sultan Iskandar Thani

12. Salah seorang anggota Walisongo yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Cirebon adalah ….
a. Sunan Kalijaga d. Sunan Kudus
b. Sunan Muria e. Sunan Giri
c. Sunan Gunung Jati

13. Uli Siwa dan Uli Lima adalah suatu bentuk persekutuan dagang yang terdapat dalam Kerajaan ….
a. Malaka d. Ternate dan Tidore
b. Makassar e. Pajang
c. Banjar

14. Dibawah ini adalah golongan masyarakat yang terdapat dalam struktur masyarakat yang berkembang sebelum masuknya Islam, kecuali ….
a. Golongan raja dan keluarganya
b. Golongan elite
c. Golongan non-elite
d. Golongan hamba sahaya
e. Golongan undagi

15. Salah satu bentuk upacara/pertemuan yang dilakukan untuk menunjukkan kesetiaan negara bawahan kepada kerajaan Pusat dengan cara menghadiri pertemuan dan mengirimkan upeti pada raja disebut dengan upacara ….
a. Ngalap berkah d. Vratyastoma
b. Gerebeg e. Ngaben
c. Seba

II. Soal Uraian

Jawablah pertanyaan di bawah ini secara singkat dan jelas!
1. Jelaskan bagaimana hubungan antara Kerajaan Demak, Pajang dan Mataram dilihat dari suksesi kekuasaan dan kesinambungan ketiga kerajaan tersebut!
2. Jelaskan bagaimana hubungan antara Kerajaan Banten dan Cirebon dilihat dari unsur genealogis para penguasa/rajanya?
3. Buatlah suatu analisis yang menghubungkan peristiwa jatuhnya kekuasaan Malaka ke tangan Portugis dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan Aceh, Cirebon, dan Banten sebagai daerah pusat perdagangan!
4. Buatlah deskripsi tentang struktur kemasyarakatan yang berkembang pada masa awal perkembangan Islam!
5. Buatlah deskripsi yang menggambarkan hubungan antara kerajaan Pusat dan daerah dalam struktur birokrasi kerajaan Islam!

BAB 5 TRADISI LOKAL, HINDU – BUDHA, DAN ISLAM DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Tradisi merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang mapan dan hidup dalam masyarakat yang biasanya merupakan kebiasaan-kebiasaan hidup. Perkembangan aman akan mempengaruhi perkembangan tradisi. Dalam perkembangan tersebut suatu tradisi akan berinteraksi dengan tradisi yang lainnya, sehingga menunjukkan percampuran tradisi. Begitu pula halnya di Indonesia, tradisi lokal, berinteraksi dengan tradisi Hindu-Buddha dan Islam.
A. PERKEMBANGAN TRADISI ISLAM DI BERBAGAI DAERAH (ABAD XV – XVIII)
Proses Islamisasi yang dilakukan oleh para penyebar Islam kepada masyarakat Indonesia, selain melalui jalur perdagangan juga melalui jalur kebudayaan. Proses ini dilakukan melalui kebudayaan yang dimiliki masyarakat setempat. Kebudayaan tersebut dapat berupa kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang telah lama hidup dalam masyarakat yang kental dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha. Sebelum datangnya Islam, masyarakat Indonesia sudah mengenal tradisi. Tradisi yang berkembang dapat berupa kegiatan-kegiatan ritual keagamaan yang berkaitan dengan siklus atau tahap¬tahap kehidupan manusia dan hubungan manusia dengan alam. Kedatangan Islam memberikan nilai-nilai keagamaan kepada tradisi tersebut.

Manusia sebagai makhluk hidup memiliki tahap-tahap kehidupan. Antara satu tahap dengan tahap yang lainnya merupakan suatu perubahan kehidupan yang sangat berarti. Dalam melihat perubahan dari satu tahap ke tahap lainnya, biasanya manusia melakukan kegiatan ritual dan mereka menganggap kegiatan ini memiliki arti yang penting bagi kehidupan. Kegiatan ritual inilah yang kemudian menjadi suatu tradisi.
Tradisi perayaan yang berkaitan dengan tahap-tahap kehidupan manusia antara lain:
1. Tahap kehamilan
Tahap pertama dalam kehidupan manusia ialah ketika dia berada dalam kandungan ibunya. Usia kandungan yang dianggap paling berarti adalah pada usia tujuh bulan, sebab pada usia ini janin bayi itu sudah berwujud manusia yang sempurna. Pada usia inilah, biasanya diadakan tradisi upacara perayaan yang dikenal tradisi tujuh bulanan.
2. Tahap kelahiran
Begitu bayi lahir diadakan pula perayaan, terutama setelah bayi itu berusia satu minggu. Dalam ajaran Islam, memang disunatkan melakukan aqiqah yaitu dengan cara mencukur rambut bayi yang diiringi dengan memotong kambing. Bagi bayi laki-laki sebanyak dua ekor, sedangkan bayi perempuan satu ekor. Dalam praktiknya diadakan pula perayaan yang biasa disebut dengan kegiatan marhabaan dan barzanzi. Tujuan kegiatan ini adalah pemberian doa kepada bayi yang baru lahir dan kelak diharapkan bayi itu menjadi anak yang saleh.

Gambar 5.1
Aqiqah yaitu dengan cara mencukur rambut bayi
yang diiringi dengan memotong kambing
(Sumber: Foto koleksi Armico, 2006)

3. Tahap kanak-kanak
Tradisi perayaan dilakukan pula pada saat anak itu akan disunat, khususnya bagi anak laki-laki. Dalam ajaran Islam memang dianjurkan agar anak laki¬laki disunat. Dalam praktik perayaan tersebut, unsur tradisi budaya pun masuk. Misalnya di daerah tertentu ketika anak itu telah sembuh dari proses sunatannya, maka anak tersebut diarak dari kampung ke kampung dengan menggunakan kuda yang diiringi oleh musik dan nyanyian-nyanyian tradisional.
4. Tahap pernikahan
Perayaan yang bersifat tradisi bukan hanya dilakukan pada masa bayi dan kanak-kanak. Pada usia dewasa pun dilakukan terutama ketika akan dinikahkan. Pernikahan merupakan tahapan kehidupan yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Dalam praktiknya, pernikahan pada masyarakat tertentu selain mengikuti aturan agama, diiringi pula dengan unsur tradisi. Tradisi itu dilakukan baik pada saat sebelum pernikahan maupun pada saat proses upacara pernikahan.
Misalnya dalam penetapan hari pernikahan dipilih hari-hari atau bulan-bulan tertentu yang dianggap cocok menurut tradisi. Pada saat menjelang acara pernikahan biasanya calon pengantin mengikuti prosesi-prosesi tertentu, misalnya acara siraman. Begitu pula pada saat acara pernikahan, ada prosesi-prosesi yang harus dilalui menurut adat tertentu.

Gambar 5.2 Upacara pernikahan adat Sunda
(Sumber: Koleksi Armico, 2006)

5. Tahap kematian
Hubungan manusia dengan manusia tidak hanya berlangsung semasa hidupnya. Manusia yang hidup pun masih memiliki hubungan dengan orang yang telah meninggal. Di Indonesia terdapat suatu tradisi tentang tata cara mengurus jasad anggota keluarga yang meninggal. Dalam ajaran Islam, kewajiban orang hidup kepada orang yang meninggal adalah memandikan, mengafani, mensalatkan dan menguburkannya. Setelah mayat itu dikuburkan, kewajiban keluarga yang ditinggalkan adalah mendoakannya. Bentuk mendoakan ini dalam praktiknya menjadi suatu tradisi. Tradisi itu dikenal dengan tahlilan. Tahlilan biasanya dilakukan selama tujuh hari semenjak orang itu meninggal, dilanjutkan pada hari ke-40, ke-100, dan ke-1000. Dalam kegiatan tradisi itu, nilai-nilai agama masuk seperti membaca doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur an.
Tradisi masyarakat sebagaimana telah dikemukakan di atas, oleh masyarakat penganutnya sudah dianggap sebagai tradisi Islam. Sebab dalam praktiknya, tradisi tersebut diwarnai dengan nilai-nilai agama Islam. Tradisi lain yang menarik pada masyarakat Indonesia setelah masuknya Islam adalah tradisi pada saat Hari Raya Idul Fitri. Hari itu merupakan hari suci umat Islam. Perayaan hari raya tersebut di Indonesia dirayakan dengan sangat meriah, ditandai dengan acara silaturahmi antarkeluarga dan tetangga. Tradisi hari raya atau lebaran di Indonesia ditandai dengan halal bilhalal, ketupat, mudik, dan iarah kubur sebagai nadran atau nyadran atau nyekar.
Namun demikian, tradisi iarah tidak hanya dilakukan pas menjelang atau sewaktu Hari Raya Idul Fitri, pada hari-hari tertentu orang-orang ada yang melakukan nandran dengan maksud atau tujuan lain, seperti meminta kekuatan gaib pada makam keramat, meminta berkah, rejeki, atau kekayaan. Tradisi ini tentu bukan ajaran Islam tetapi tradisi lokal yang sudah dipengaruhi Hindu-Buddha dan akhirnya Islam, sehingga tradisi nandran dilengkapi, umpamanya dengan membakar kemenyan, dupa, menabur bunga-bungaan, air, dan dibacakan ayat-ayat Al-Qur an. Dari tradisi iarah seperti itu sangat kental dengan perpaduan budaya lokal, Hindu-Buddha, dan Islam.
Masuknya pengaruh agama Islam pada masyarakat Indonesia melalui proses sinkretisme yang memadukan antara budaya-budaya asli, budaya Hindu-Buddha dan budaya Islam itu sendiri. Apabila kita melihat budaya Islam yang berkembang pada masyarakat Indonesia memiliki banyak perbedaan dengan budaya Islam yang berkembang di daerah kelahirannya yaitu di Ja irah Arab. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi suatu pembauran antara budaya lama yang telah berkembang di masyarakat dengan budaya Islam sebagai budaya baru yang kemudian masuk dan lebih mewarnai. Muncullah pada akhirnya tradisi-tradisi yang memiliki nuansa keislaman, akan tetapi kalau kita rujuk lebih jauh tradisi tersebut bukanlah tradisi yang dikembangkan oleh agama Islam itu sendiri dalam pengertian tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Tradisi ini bisa kita lihat dalam struktur genealogis raja-raja di kerajaan¬kerajaan Islam di Indonesia yang senantiasa selalu menempatkan dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad, bahkan mengaitkannya dengan Nabi Adam. Dalam silsilah genealogis raja-raja Jawa misalnya, selalu mengklaim dirinya keturunan para Dewa (pengaruh Hinduisme) yang memiliki akar genealogis dengan konsep nur-roso dan nur-cahyo. Menurut silsilah keraton, nur-roso dan nur-cahyo inilah yang kemudian melahirkan Nabi Adam dan dewa-dewa sebagai nenek moyang raja-raja Jawa. Konsep nur-roso dan nur-cahyo ini sangat berkaitan dengan konsep agama Islam yang juga mengenal adanya konsep nur-Muhammad yang telah ada jauh sebelum jasadnya sendiri dilahirkan. Demikian pula kita bisa lihat silsilah yang dibuat oleh raja-raja Banten, Demak ataupun Cirebon yang selalu mengaitkan dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad.
Demikian pula dalam hal legitimasi kekuasaan yang dimiliki oleh seorang raja. Agar rakyat mau tunduk pada perintah dan kekuasaan raja, dibuatlah suatu simbol dan konsep-konsep yang menunjukkan kekuasaan raja. Simbol dan konsep-konsep tersebut meskipun bernapaskan Islam akan tetapi kalau kita rujuk lebih jauh lagi, tampaknya merupakan pengaruh dari kebudayaan sebelumnya yaitu budaya Hindu-Buddha. Di antara raja-raja Islam banyak yang menggunakan gelar-gelar yang menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia terpilih atau bahkan wakil Allah yang berhak untuk memerintah dan membuat tunduk semua manusia di muka bumi. Misalnya Raja Merah Silu dari Kerajaan Samudera Pasai menggunakan gelar zillu’Illahi fi’al-Alam (bayang-bayang Tuhan di muka bumi), penguasa Mataram di Jawa mengklaim dirinya sebagai Khalifatullah (wakil Allah), Sultan Alauddin Ri ayat Syah dari Aceh menggunakan gelar Sayyidi al-Mukammil (Tuanku Yang Sempurna). Sementara itu gelar¬gelar pra-Islam seperti Raja, Dipertuan, Pangeran, Panembahan dan Susuhunan tetap dipertahankan bersamaan dengan munculnya gelar-gelar baru seperti Sultan ataupun Syah.
Gelar-gelar tersebut bukanlah gelar yang memang diajarkan oleh agama Islam, sebab Islam sendiri menolak sentralitas kekuasaan dan pengidentikan manusia, raja, atau penguasa dengan Tuhan. Bahkan Islam memandang semua manusia itu pada dasarnya sama sebagai makhluk ciptaan dan hamba Allah, tidak ada keistimewaan antara satu manusia dengan manusia lainnya, kecuali ketakwaannya. Gelar-gelar yang digunakan oleh para raja yang menunjukkan legitimasi kekuasaannya tersebut merupakan hasil sinkretisme antara budaya Hindu- Buddha dengan budaya Islam. Dalam agama Hindu dikenal konsep Dewa-Raja yang memandang bahwa seorang penguasa dipandang sebagai penjelmaan dari Dewa, biasanya Wisnu atau Indra. Begitu pula dalam agama Buddha dikenal adanya konsep Boddhisatwa yang biasa digunakan para penguasa untuk mengidentikkan dirinya dengan sang Buddha yang tercerahkan dan dengan sukarela meninggalkan Nirwana untuk membantu pembebasan umat manusia di dunia. Dengan masuknya agama Islam, konsep-konsep ini kemudian diubah lagi dengan menggunakan simbol-simbol yang bernapaskan Islam untuk membangun legitimasi kekuasaan para raja.
Begitu kuatnya sinkretisme dalam proses penyebaran agama Islam bisa kita lihat pada mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tentang proses penyebaran Islam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Cerita mengenai Walisongo menjadi bukti begitu kuatnya unsur-unsur magis-religius yang dikembangkan pada cerita seputar penyebaran Islam. Sebagai contoh, Sunan Kalijaga dalam kisah-kisahnya begitu banyak unsur mistiknya, bahkan sampai sekarang orang-orang pantai utara Jawa mempercayai adanya sebuah batu bekas sujudnya. Begitu juga cerita-cerita adanya kiai-kiai sakti yang dapat salat di Mekkah dalam waktu sekejap, kemudian pulang kembali ke pesantrennya atau kiai yang dapat menghilang, dapat berkhutbah di dua tempat pada waktu bersamaan. Cerita-cerita semacam ini juga terdapat di daerah luar Jawa.
Tradisi upacara-upacara ritual keagamaan yang dahulu banyak dilakukan pada masa Hindu-Buddha diteruskan pada masa Islam. Tentu saja ritual tersebut mengalami perubahan isi dengan mengambil konsep-konsep Islam. Sebagai contoh, upacara Pangiwahan di Jawa yang dimaksudkan agar manusia menjadi wiwoho atau mulia dengan cara melakukan upacara-upacara pada fase-fase kehidupan manusia seperti kelahiran, perkawinan, kematian, dan sebagainya.
Tradisi-tradisi upacara lainnya, misalnya upacara-upacara yang dihubungkan dengan hari-hari bersejarah dalam Islam seperti kelahiran Nabi, Isra Mi raj, dan sebagainya. Yang lebih terkenal dan banyak dilakukan adalah tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad (sering disebut dengan Maulid atau Maulud) dengan melakukan upacara-upacara seperti tabut di daerah Sumatra atau Sekaten dalam tradisi masyarakat Yogyakarta.

B. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN, KESENIAN, DAN KESUSASTRAAN DI KERAJAAN YANG BERCORAK ISLAM DI INDONESIA
1. Perkembangan Pendidikan di Kerajaan Yang Bercorak Islam di Indonesia
Pendidikan merupakan salah satu perhatian sentral masyarakat Islam. Apalagi hal ini ditegaskan dalam Al-Qur an yang menyebutkan bahwa: “menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimat” atau “tuntutlah ilmu dari sejak buaian sampai ke liang lahat” dan diperkuat pula oleh ucapan Nabi Muhammad saw. yang menyuruh kaum muslimin untuk mencari ilmu sampai ke negeri Cina. Dengan demikian, perhatian orang-orang Islam terhadap pendidikan begitu kuat.

Sejak awal perkembangan Islam, pendidikan sangat penting sebagai salah satu upaya dalam proses penyebaran agama Islam. Untuk itu, dikembangkan suatu bentuk pengajaran yang sangat sederhana dengan sistem halaqah. Pada awalnya, penyelenggaraan pendidikan agama dilaksanakan di masjid, langgar atau surau. Masjid selain berfungsi sebagai tempat untuk melaksanakan salat juga tempat diselenggarakannya pengajaran agama. Pelajaran yang diberikan adalah pelajaran membaca Al-Qur an, tata cara peribadatan, akhlak, dan keimanan.
Lembaga-lambaga pendidikan yang dibangun pada masa Islam ini bukanlah lembaga pendidikan yang pertama ada di Indonesia. Lembaga pendidikan yang dibangun oleh Islam di Indonesia mengadopsi dan mentransfer lembaga keagamaan dan sosial yang sudah ada sebelumnya pada masa Hindu-Buddha. Di Jawa, umat Islam mentransfer lembaga keagamaan Hindu-Buddha menjadi pesantren, umat Islam di Minangkabau mengambil alih surau sebagai peninggalan adat masyarakat setempat menjadi lembaga pendidikan Islam, demikian pula masyarakat Aceh mentransfer lembaga masyarakat Meunasah sebagai lembaga pendidikan Islam.
Perkembangan penting dari pendidikan pada masa perkembangan Islam adalah lahirnya pendidikan pesantren. Pendidikan yang diselenggarakan di pesantren jauh lebih mendalam dibandingkan dengan pendidikan yang dilaksanakan di mesjid, langgar, atau surau. Siswa yang mengikuti pendidikan di pesantren disebut santri, sedangkan gurunya biasa disebut Kiai. Materi pelajaran yang diberikan meliputi membaca serta tafsir Al Qur an, fiqih, tauhid, dan akhlak. Sumber-sumber pelajaran menggunakan kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama sekitar abad ke-7 atau abad ke-8 di Timur Tengah atau sering disebut dengan Kitab Kuning. Santri memiliki sikap yang sangat hormat kepada guru, dia harus tunduk kepada apa yang diperintahkan oleh guru. Selama mengikuti pelajaran di pesantren, santri harus mondok (menginap) di pesantren. Walaupun ada juga santri yang tidak mondok, biasanya santri tersebut berasal dari daerah sekitar tempat pesantren itu berada.
Untuk mengikuti pelajaran dari satu tahap materi pelajaran ke materi berikutnya ditentukan oleh guru. Belum ada kurikulum tertulis seperti sekarang. Metode mengajar yang dikembangkan di pesantren biasanya menggunakan dua metode yaitu sistem Salaf (sorogan) dan sistem Bandongan. Sistem salaf (sorogan) adalah metode pengajaran yang bersifat individual yaitu seorang santri diajar secara langsung oleh kiai, ustad , ataupun santri senior. Sistem bandongan adalah sistem pengajaran yang bersifat umum dan bersama-sama semacam ceramah umum yang disampaikan oleh seorang ustad ataupun kiai yang dihadiri oleh semua santri. Lamanya mengikuti pendidikan di pesantren tidak tentu, gurulah yang akan menyatakan seorang santri itu sudah menguasai ilmu yang diberikannya. Santri yang telah selesai mengikuti pendidikan di pesantren akan menyebarkan ilmu yang ia milikinya kepada masyarakat, dengan menjadi tokoh agama ataupun mendirikan pesantren di tempat tinggalnya.
Lembaga-lembaga pendidikan semacam pesantren, surau, atau meunasah merupakan lembaga-lembaga pendidikan yang vital di Indonesia. Pada awal perkembangan Islam, lembaga ini menjadi pusat penyebaran agama Islam dan wadah untuk mencetak intelektual muslim. Sejak masa awal, bahkan sampai sekarang lembaga pendidikan pesantren dan sejenisnya tetap dipercaya oleh masyarakat sebagai lembaga yang membentuk moral dan intelektual muslim.
Perkembangan dan kemajuan masyarakat Islam Nusantara, khususnya Jawa, tidak mungkin terpisahkan dari peranan yang dimainkan pesantren.
Berpusat dari pesantren, perputaran roda ekonomi dan kebijakan politik Islam dikendalikan. Pada masa Walisongo, tidak sedikit wali-wali Jawa yang menguasai jaringan perdagangan antara pulau Jawa dengan luar Jawa. Contohnya, Sunan Giri yang memiliki jaringan perdagangan antara Jawa, Kalimantan, Maluku, Lombok, dan sekitarnya. Begitu pula dengan perjalanan politik Islam di Jawa, pesantren memiliki pengaruh kuat bagi pembentukan dan pengambilan berbagai kebijakan di keraton-keraton. Misalnya, berdirinya kerajaan Islam Demak adalah karena dukungan dan kontrol kuat dari para ulama, seperti Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan sebagainya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dinamika masyarakat Islam pada masa awal dapat ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara pesantren, pasar (perdagangan), dan keraton.
Pelaksanaan ajaran Islam yang banyak dianut oleh masyarakat Nusantara lebih banyak mengikuti mazhab Syafi’i dibanding dengan tiga ma hab lainnya yaitu mazhab Hanafi, Hambali dan Maliki. Penggunaan ma hab Syafii banyak dilakukan karena ma hab ini mudah beradaptasi dengan adat istiadat setempat. Di Indonesia, beberapa pelaksanaan syariat Islam banyak bercampur dengan adat istiadat masyarakat setempat. Contoh kerajaan Islam yang memeluk ma hab Syafi i di antaranya Kerajaan Samudera Pasai yang telah menganut ma hab Syafi i sejak raja Marah Silu atau Sultan Malikul Saleh. Yang paling menarik adalah perkembangan ma hab Syafi i di Kerajaan Malaka yang sudah dianut sejak masa kekuasaan rajanya yang pertama yaitu Parameswara. Perluasan agama Islam ma hab Syafi i berbarengan dengan perluasan kekuasaan dan wilayah sultan Malaka. Sampai akhir abad ke-15, ma hab Syafii telah menguasai daerah pantai timur Sumatra dan pantai barat Semenanjung Sumatra.
Selain ma hab Syafi i, paham Syi ah juga berkembang pesat di Indonesia. Bukti berkembangnya paham Syi ah di Indonesia dapat dilihat dari berkembangnya beberapa tradisi Syi ah yang ada di Indonesia. Misalnya peringatan tanggal 10 Muharram sebagai peringatan kaum Syi ah atas meninggalnya Husain, putra Ali Bin Abi Thalib. Peringatan 10 Muharam sering diwarnai dengan pembuatan hidangan khas yang disebut bubur sura. Nama sura berasal dari kata Asjura dalam bahasa Iran yang berarti tanggal 10 Muharam. Sisa-sisa pengaruh paham Syi ah terlihat di Aceh dari istilah “bulan Hasan-Husein” untuk menyebut bulan Muharam.
Perkembangan penting lainnya dari kehidupan keagamaan pada masa kerajaan-kerajaan Islam adalah perkembangan tasawuf dan tarikat. Kata tasawuf berasal dari kata suf yang artinya wol (bulu kambing). Istilah ini timbul karena ahli tasawuf biasanya memakai baju (jubah) dari bulu domba. Pakaian yang terbuat dari bulu domba merupakan simbol dari orang-orang yang sederhana, tulus, dan taat beribadah kepada Allah. Orang-orang yang menjalankan kehidupan tasawuf disebut sufi. Tasawuf mengembangkan suatu ajaran dan keyakinan dalam memilih jalan hidup secara uhud atau sederhana, menjauhkan diri dari perhiasan dunia dan melaksanakan intensitas beribadah untuk mencari rida atau ampunan Allah.
Tasawuf merupakan fenomena sosial dan keagamaan yang bercorak Islam. Unsur-unsur mistisisme yang tampaknya bukan asli dari ajaran Islam tetapi merupakan bentuk sinkretisme dengan budaya lokal menjadikan tasawuf mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Dengan demikian, tasawuf menjadi salah satu cara untuk menarik masyarakat agar masuk ke dalam agama Islam. Hal ini bisa kita perhatikan dari begitu pesatnya perkembangan ajaran tasawuf di Indonesia. Kedatangan ahli tasawuf ke Indonesia diperkirakan sejak abad ke-13, yaitu masa berkembangnya dan tersebarnya ahli tasawuf dari Persia dan India. Kedatangan para ahli tasawuf ini kemudian diikuti dengan proses penyebaran tasawuf dan diterimanya tasawuf oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu bagian dari ajaran Islam.
Pada abad XVI-XVII di Kerajaan Aceh muncul beberapa ahli tasawuf terkenal seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, Syekh Abdurrauf dari Singkel, dan sebagainya. Di Jawa pada sekitar abad XVI-XVII di antara Walisongo juga ada yang mengajarkan tasawuf, seperti Syekh Siti Jenar, Sunan Bonang, Sunan Panggung, Sunan Kudus, dan sebagainya.
Berkaitan erat dengan tasawuf adalah tarekat yang dianggap sebagai suatu bentuk atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di Indonesia, tarekat-tarekat yang mempunyai pengaruh ialah tarekat Qadariah, Naqsyabandiah, Sammaniah, Qusyasyiah, Syattariah, Say iliah, Khalwatiah, dan Tianiah. Ham ah Fansuri dan pembesar-pembesar Kerajaan Aceh mendapat pengaruh tarekat Qadariah. Di Banten Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdulkadir juga mendapat pengaruh aliran Qadariah.
2. Perkembangan kesenian di Kerajaan yang bercorak Islam di Indonesia
Perkembangan kesenian Islam mengalami proses penyesuaian atau percampuran dengan kesenian setempat yang telah dimiliki oleh masyarakat Indonesia sebelum kedatangan Islam. Kesenian yang berkembang yaitu seni bangunan, seni pahat, kaligrafi, seni musik, seni sastra, dan lain-lain.
Seni bangunan dapat kita lihat pada bentuk bangunan keraton dan bangunan masjid. Bangunan keraton atau istana adalah tempat tinggal raja atau ratu beserta keluarganya. Selain itu, keraton juga difungsikan sebagai pusat kegiatan pemerintahan, sehingga keraton dianggap sebagai lambang pusat kekuasaan raja. Bentuk fisik keraton adalah perpaduan antara kebudayaan Hindu-Buddha dengan kebudayaan Islam. Ornamen-ornamen di dalam keraton di Jawa merupakan perpaduan ornamen khas Jawa yang bercorak Hindu-Buddha
dengan ornamen Islam. Gerbang masuk keraton dihiasi dengan gapura model Kerajaan Majapahit atau Mataram Kuno.
Bentuk dan ciri-ciri keraton bercorak Islam antara lain sebagai berikut :
a. pada umumnya keraton mengarah ke utara atau agak ke utara,
b. di sekeliling keraton terdapat parit dan tembok agar orang tidak bisa masuk sembarangan,
c. halaman keraton dibagi ke dalam tiga bagian dan halaman yang paling belakang disakralkan, di depan keraton biasanya terdapat alun-alun.

Gambar 5.3
Kaligrafi berbentuk Ganesya menunggang kuda
(Sumber: M. Habib Mustopo dkk., halaman 97)

Bentuk bangunan masjid-masjid kuno di Indonesia merupakan perpaduan antara unsur seni tradisional Indonesia dengan seni Islam. Gaya arsitektur bangunan masjid kuno memiliki ciri khusus yang berbeda dengan negeri¬negeri Islam lainnya. Masjid-masjid kuno yang ada di Indonesia menurut bentuknya terdapat dua jenis, yaitu masjid yang atapnya bersusun atau yang sering disebut dengan istilah masjid bermustaka dan masjid yang beratap kubah. Masjid berbentuk kubah nampaknya merupakan pengaruh gaya arsitektur yang berkembang di daerah India dan Asia Tengah. Hal ini terlihat dari bangunan¬bangunan masjid yang terdapat di daerah India dan Asia Tengah menggunakan atap kubah. Masjid yang atapnya bersusun (bermustaka) merupakan hasil pengaruh gaya arsitektur dari daerah Cina Selatan. Seorang sejarawan, Prof Slamet Mulyono menunjukkan bahwa gaya arsitektur asli Cina terlihat dari bentuk atapnya yang bersusun. Hal ini kemudian terus dipertahankan oleh kaum muslim Cina yang kemudian membangun masjid dengan tetap mempertahankan gaya arsitekturnya. Hal ini sangat jelas terlihat dari masjid¬masjid yang terdapat di Provinsi Yunan, Singkiang, Uighur yang semua atapnya bersusun.
Masjid yang memiliki bentuk atap bersusun kemudian menjadi bentuk masjid yang memiliki kekhasan tersendiri dalam perkembangan sejarah Islam di Indonesia. Bangunan masjid beratap susun memiliki denah yang berbentuk bujur sangkar yang biasanya ditambah dengan serambi di depan atau di samping. Fondasinya kuat dan agak tinggi dan di bagian depan atau samping terdapat kolam. Nampaknya gaya arsitektur Masjid Agung Demak selalu dijadikan contoh bagi pembangunan masjid-masjid yang beratap susun lainnya di Jawa. Hal ini terlihat dari gaya arsitektur masjid-masjid di Jawa yang umumnya sama dengan arsitektur masjid Demak sebagai bangunan masjid tertua di Pulau Jawa. Hal ini terlihat jelas pada bangunan masjid yang dibangun oleh Keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Banten.
Beberapa masjid kuno yang memiliki atap bertingkat, yaitu sebagai berikut.
a. Masjid yang beratap dua tingkat , seperti Masjid Agung Cirebon yang dibangun pada abad ke-16, Masjid Katangka di Sulawesi Selatan yang dibangun pada abad ke-17, Masjid Angke, Tambora, dan Marunda di Jakarta yang dibangun sekitar abad ke-18.
b. Masjid yang beratap tiga tingkat,, seperti Masjid Agung Demak di Jawa Tengah dan Masjid Baiturrahman di Aceh.
c. Masjid yang beratap lima tingkat, seperti Masjid Agung Banten.

Gambar 5.4
Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Indonesia
(Sumber: Ensiklopedi Islam 1, halaman 300)

Seni kaligrafi merupakan perkembangan dari seni ukir dan seni pahat. Di Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan beberapa keraton lain, terdapat suatu ukiran kayu komposisi huruf-huruf Arab, yang menggambarkan suatu tokoh atau binatang.

Gambar 5.5 Seni kaligrafi (Sumber: Soekmono Jilid 3, halaman 87)

Seni musik merupakan salah satu bidang kesenian yang tidak luput dari pengaruh budaya Islam. Hal ini dapat kita lihat dari munculnya kesenian musik seperti terbangan, qasidah, gambus, yang berkembang di daerah Jawa dan Sumatra. Jelas sekali bahwa jenis-jenis musik yang disebutkan di atas tidak pernah dikenal sebelumnya pada masa pra-Islam. Jadi artinya jenis-jenis musik tersebut lahir sebagai suatu proses yang diakibatkan oleh penyebaran Islam di Indonesia khususnya di pulau Jawa dan Sumatra. Satu hal yang menarik bahwa terjadi pula semacam bentuk kesenian gabungan antara kesenian tradisional pribumi dengan Islam. Hal ini dapat kita lihat dari seni tembang terutama dalam jenis Laras Madya yang meskipun menggunakan teks-teks Jawa tetapi berisi shalawatan atau semacam puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw.
Bidang seni lainnya yang berkembang pada masa Islam adalah seni tari. Beberapa contoh seni tari yang dipengaruhi oleh budaya Islam di antaranya adalah Tari Srandul, Kuntulan, Emprak, serta Seudati. Di beberapa daerah terdapat seni tari yang diiringi dengan pembacaan shalawat dan bacaaan lainnya dari Al-Qur an, seperti permainan debus dan Seudati (Aceh). Permainan debus berkembang di bekas pusat kerajaan Islam seperti Banten, Minangkabau, Aceh, dan sebagainya.
Satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah peranan kesenian pertunjukan wayang dalam proses penyebaran Islam di Indonesia, khususnya Jawa. Riwayat¬riwayat menceritakan bagaimana salah seorang walisongo, yaitu Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai satu bentuk hiburan yang telah lama berkembang dan digemari masyarakat, kemudian dijadikan media (sarana) dalam proses penyebaran Islam. Sunan Kalijaga memiliki kemahiran dalam memainkan pertunjukan wayang yang diiringi dengan gamelan, yaitu suatu perangkat bunyi¬bunyian yang terdiri dari kuningan dan kayu, gendang, suling, dan rebab. Sebagai upah dari pertunjukan wayang yang diberikan oleh Sunan Kalijaga maka dia meminta kepada para penonton tersebut untuk mengucapkan dua kalimah syahadat. Pengucapan dua kalimah syahadat sering dipahami sebagai sebuah pintu masuk bagi siapa saja yang akan memeluk Islam. Dengan demikian, melalui media wayang ini, Sunan Kalijaga dengan mudah dapat menarik orang untuk menjadi pemeluk agama Islam.

Gambar 5.6 Tari Seudati (Sumber: http://www.wikipedia.com)

Di sisi lain masuknya pengaruh agama Islam merubah tradisi seni wayang itu sendiri terutama yang berkaitan dengan lakon atau cerita yang ditampilkan. Sistem kepercayaan Islam tidak mengenal Trimurti dan sistem dewa-dewa. Kemudian para wali mengubah sistem hierarki kedewaan tersebut dengan mengalihkan cerita bahwa dewa-dewa tersebut ditempatkan sebagai pelaksana perintah Tuhan dan bukan sebagai Tuhan. Pada akhirnya tersusunlah cerita¬cerita baru yang bernapaskan keislaman seperti Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan lain-lain. Selain itu juga disusun suatu silsilah baru tokoh-tokoh wayang yang sama sekali berlainan dengan silsilah Hindu asli.
3. Perkembangan kesusastraan di kerajaan yang bercorak Islam di Indonesia
Perkembangan seni sastra pada masa kerajaan Islam, ditandai dengan banyaknya pujangga-pujangga yang muncul pada saat itu. Abdurrauf, Hamzah Fansuri, Syamsuddin, Nuruddin ar-Raniri adalah beberapa pujangga yang terkenal dari Kerajaan Aceh yang banyak dipengaruhi oleh ajaran tasawuf. Karya-karya Ham ah Fansuri antara lain berjudul Syair Perahu, Syair Si Burung Paingai, Sharab al-‘Ashiqin (Minuman Para Kekasih) dan Asrar Al-‘Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik), merupakan karya sastra yang banyak mengandung unsur agama. Syamsuddin karyanya berjudul Nur ad-Daqa’iq (Cahaya pada Kehalusan-kehalusan) adalah di antara karya-karya terpenting dalam tradisi Melayu. Nuruddin menulis Bustan as-Salatin (Taman Raja¬raja), hasil karyanya ini merupakan salah satu buku terkemuka dalam kepustakaan Melayu. Di Pulau Jawa, Sunan Bonang mengembangkan ilmu suluk dalam bentuk puisi yang dibukukan dalam Kitab Bonang dan seorang pujangga Keraton Mataram Ronggowarsito membuat karya sastra yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran agama di antaranya berjudul Serat Wujil. Syekh Yusuf seorang ulama besar dari Makassar yang diangkat menjadi pujangga Kerajaan Banten, telah menghasilkan beberapa buku tentang tasawuf.
Melalui proses akulturasi, beberapa karya sastra yang mendapat pengaruh Hindu-Buddha dan tradisi setempat dijadikan dasar dalam mengembangkan karya sastra Islam. Misalnya Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Sri Rama, Hikayat Maharaja Rahwana, dan Hikayat Pancatantra yang merupakan gubahan dari karya sastra aman Hindu, seperti Mahabharata, Ramayana, Bharatayudha, dan Pancatantra. Karya sastra Melayu bercorak Islam yang berakulturasi dengan budaya setempat antara lain, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Wilakusuma, Syair Ken Tambunan, Lelakon Mesa Kuminir, dan sebagainya.

Sebelum datangnya pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam, masyarakat Indonesia telah memiliki kebudayaannya sendiri. Ketika Hindu-Buddha dan Islam datang, terjadi interaksi antara kebudayaan yang datang dari luar dengan kebudayaan yang asli dimiliki oleh kaum pribumi. Interaksi ini menimbulkan akulturasi dalam kebudayaan dan melahirkan sinkritisme dalam kepercayaan. Berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat Indonesia menampakkan percampuran tersebut. Mulai dari aspek ritual keagamaan, tradisi, pendidikan, kesenian, dan kesusastraan.

Aqiqah : acara menyambut kedatangan bayi yang baru lahir yang dilaksanakan pada hari ketujuh usia kelahiran bayi dengan acara mencukur rambut bayi yang diiringi dengan memotong kambing, satu kambing untuk bayi wanita dan dua kambing untuk bayi laki-laki.
Asyura : suatu perayaan untuk memperingati kematian Husein putra Syaidina Ali yang terbunuh di Karbala dan dirayakan setiap tanggal 10 Muharam. Pada perayaan ini di Jawa biasanya memasak bubur merah.
Bandongan : metode pengajaran di pesantren yang bersifat klasikal atau kelompok.
Dewa-Raja : sebuah konsep yang memandang bahwa raja adalah keturunan dewa atau wakil dewa di muka bumi.
Halal bilhalal : acara yang biasanya dilaksanakan pada hari raya idul fitri yang diisi dengan acara salam-salaman atau saling meminta maaf.
Halaqah : suatu sistem pengajaran dalam agama Islam yang dilakukan dalam kelompok-kelompok tertentu.
Hari Raya Idul Fitri : hari raya yang dilaksanakan pada hari idul fitri atau 1 Syawal setelah umat Islam selesai melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Kegiatan ritual : kegiatan yang berkaitan dengan kepercayaan.
Kiai : sebutan bagi orang yang terhormat yang memiliki pengetahuan agama Islam yang luas, dan biasanya menjadi guru di pesantren.
Magfirah : pengampunan dari Allah.
Marhabaan : acara pembacaan pujian-pujian kepada nabi biasanya dengan membaca kitab bar an i dan dilaksanakan biasanya pada acara aqiqah.
Mondok : menginap yaitu hal yang dilakukan oleh santri ketika mencari ilmu di pesantren dengan cara menginap di
pesantren.
Nirwana : surga yaitu tempat manusia yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan dalam agama Buddha.
Pesantren : lembaga pendidikan Islam yang sudah ada sejak masa proses Islamisasi dan siswanya disebut dengan santri.
Sekaten : suatu tradisi yang dilaksanakan dalam rangka memperingati maulud Nabi Muhammad saw. yang biasanya dilaksanakan di Keraton Yogya.
Siraman : bagian dari prosesi pernikahan yang dilakukan oleh calon pengantin sebelum melangsungkan akad nikah dengan cara mandi yang biasanya menggunakan aneka kembang.
Sorogan : metode pengajaran di pesantren yang bersifat individual.
Syiah : salah satu aliran dalam kelompok Islam yang mengagungkan keturunan Syaidina Ali dan keturunan ini berhak menjadi pemimpin.
Tahlilan : acara memperingati kematian anggota keluarga yang biasanya dilaksanakan dimulai pada hari pertama hingga hari ketujuh, pada hari keempat puluh dan seratus. Acara ini diisi dengan menyampaikan doa-doa kepada yang meninggal.
Tradisi : adat istiadat turun temurun yang masih dijalankan oleh masyarakat.
Tujuh bulanan : tradisi memperingati usia yang ke tujuh bulan usia kehamilan.

I. Pilihan Ganda

Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap paling benar!
1. Tradisi ritual keagamaan bercorak Islam yang berkaitan dengan fase awal kehidupan manusia (kehamilan) dikenal dengan istilah ….
a. marhabaan d. tujuh bulanan
b. tahlilan e. aqiqah
c. sunatan

2. Legitimasi kekuasaan raja dengan cara penggunaan istilah-istilah yang menunjukkan kebesaran raja-raja Islam berangkat dari konsep yang berkembang dari agama Hindu-Buddha yaitu dari konsep ….
a. Nur-cahyo dan Nur-roso
b. Dewa-Raja dan Boddhisatwa
c. Manunggaling kawula gusti
d. Harmoni dan keselarasan
e. Pandita-raja

3. Khalifatullah adalah gelar yang biasanya digunakan oleh raja-raja penguasa kerajaan ….
a. Banten d. Mataram
b. Cirebon e. Pajang
c. Demak

4. Di bawah ini adalah upacara-upacara yang berkaitan dengan ritual keagamaan yang bercorak Islam, kecuali ….
a. Sekaten d. Tabut
b. Ngaben e. Pangiwahan
c. Maulud

5. Lembaga pendidikan Islam yang berkembang di daerah Aceh dikenal dengan istilah ….
a. Madrasah d. Pesantren
b. Meunasah e. Halaqah
c. Surau

6. Metode pengajaran yang dikembangkan di pesantren pada umumnya mengembangkan dua metode yaitu ….
a. Salaf dan Syi ah
b. Ngaji dan Salat
c. Sorogan dan bandongan
d. Salaf dan sorogan
e. Halaqah dan bandongan

7. Di bawah ini adalah fungsi yang dikembangkan oleh pesantren pada masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam terutama di Jawa, kecuali ….
a. penyebaran agama Islam
b. pembentukan intelektual muslim
c. fungsi perdagangan
d. pengaturan politik pemerintahan
e. pengaturan siasat perang

8. Tasawuf yang berkembang di Indonesia mendapatkan pengaruh yang kuat dari gerakan tasawuf yang berkembang di daerah ….
a. Persia dan Arab d. Persia dan India
b. Arab dan India e. Arab dan India
c. India dan Cina

9. Gaya arsitektur bangunan masjid di Indonesia mengenal dua macam gaya yaitu ….
a. masjid berkubah dan bermustaka
b. masjid berundak dan berkubah
c. masjid bermustaka dan bersusun
d. masjid berkubah dan beratap
e. masjid bersusun dan berundak

10. Menurut Prof Slamet Mulyono, gaya arsitektur bangunan mesjid bermustaka di Indonesia mendapat pengaruh dari gaya arsitektur yang berkembang di daerah ….
a. Asia Tengah d. India Selatan
b. India Utara e. Cina Selatan
c. Cina Utara

11. Di bawah ini adalah seni tari yang mendapat pengaruh dari agama Islam, kecuali ….
a. Seudati d. Emprak
b. Srandul e. Kuntulan
c. Ngaben

12. Di bawah ini adalah ciri-ciri bangunan keraton yang berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Islam, kecuali ….
a. pada umumnya keraton mengarah ke utara atau agak ke utara
b. di sekeliling keraton terdapat parit dan tembok agar orang tidak bisa masuk sembarangan
c. terdapat pemisahan antara tempat tinggal laki-laki dengan perempuan
d. halaman keraton dibagi ke dalam tiga bagian dan halaman yang paling belakang disakralkan
e. di depan keraton biasanya terdapat alun-alun

13. Seni pertunjukan wayang dijadikan sebagai media penyebaran agama Islam oleh ….
a. Sunan Kalijaga d. Sunan Kudus
b. Sunan Gunungjati e. Sunan Muria
c. Sunan Bonang

14. Di bawah ini adalah karya-karya sastra hasil tulisan Ham ah Fansuri, kecuali ….
a. Syair Perahu d. Sharab al-Ashiqin
b. Syair Si Burung Paingai e. Asrar al-Arifin
c. Bustan as-Salatin

15. Salah seorang anggota Walisongo yang mengembangkan ilmu suluk dalam bentuk puisi yaitu ….
a. Sunan Muria d. Sunan Giri
b. Sunan Kalijaga e. Sunan Gunung Jati
c. Sunan Bonang

II. Soal Uraian

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!
1. urutkan beberapa bentuk sinkretisme antara budaya Hindu-Buddha dengan budaya Islam yang berkaitan dengan fase-fase perkembangan kehidupan manusia!
2. Sebutkan pengaruh konsep dewa-raja dan Boddhisatwa dengan gelar¬gelar yang digunakan oleh raja-raja Islam di Indonesia?
3. Jelaskan perkembangan pendidikan yang terjadi pada masa munculnya pengaruh Islam di Indonesia?
4. Jelaskan pengaruh tasawuf dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia?
5. Bagaimana perkembangan seni pertunjukan wayang setelah masuknya pengaruh agama Islam, jelaskan!

I. Pilihan Ganda

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Masuknya Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan oleh para pendeta. Pendapat ini berasal dari hipotesis ….
a. Brahmana d. Sudra
b. Ksatria e. Arus Balik
c. Waisya

2. Menurut teori arus balik, bangsa Indonesia belajar agama Hindu-Buddha dilakukan di .
a. Cina d. India dan Indonesia
b. India e. Arab
c. Indonesia

3. Arjunawiwaha merupakan sebuah hasil karya pada aman Hindu-Buddha yang dikarang oleh .
a. Mpu Tantular d. Mpu Panuluh
b. Mpu Kanwa e. Mpu Prapanca
c. Sutasoma

4. Cerita tentang kehidupan kerajaan Majapahit terdapat dalam kitab ….
a. Arjunawiwaha d. Bharatayudha
b. Pararaton e. Lubdhaka
c. Negarakertagama

5. Bukti yang menunjukkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu, yaitu ….
a. rajanya bernama Kudungga
b. prasastinya berbahasa Sanskerta
c. prasastinya berhuruf Pallawa
d. terdapat istilah Waprakeswara
e. Mulawarman nama orang India

6. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang memperhatikan pendidikan dan membangun hubungan dengan India. Hal ini dibuktikan dalam salah satu prasasti, yaitu ….
a. Kota kapur d. Kedukan Bukit
b. Talangtuo e. Nalanda
c. Ligor A

7. Kerajaan Mataram Kuno direbut dari Dinasti Sanjaya oleh Dinasti Syailendra yaitu perebutan kekuasaan kerajaan yang dilakukan oleh ….
a. Rakai Pikatan d. Rakai Kayuwangi
b. Rakai Panangkaran e. Rakai Dyah Balitung
c. Rakai Garung

8. Kerajaan Majapahit mengalami puncak kejayaannya pada masa Raja ….
a. Raden Wijaya d. Hayamwuruk
b. Tribhuanatunggadewi e. Wikramawardhana
c. Jayanegara

9. Bukti yang menunjukkan bahwa agama Islam datang ke Indonesia berasal dari Gujarat India, ialah .
a. bentuk batu nisan Sultan Malik al-Saleh
b. adanya orang-orang Ta Shih di Kerajaan Kalingga
c. adanya upacara bulan Asyura
d. kerajaan-kerajaan Islam terletak di pantai.
e. huruf Arab banyak digunakan di Indonesia

10. Islamisasi di Indonesia pada umumnya dilaksanakan melalui proses perdagangan. Hal ini dibuktikan dengan .
a. banyaknya para pedagang Islam yang datang ke Indonesia
b. kebudayaan-kebudayaan Islam bercampur dengan tradisi lokal
c. bentuk makam memiliki kesamaan dengan di India
d. agama Hindu mengalami kemunduran
e. letak kerajaan Islam banyak yang di tepi pantai

11. Adanya pesantren yang banyak bertebaran di Indonesia menunjukkan bukti bahwa islamisasi dilakukan pula melalui jalur ….
a. perkawinan d. kebudayaan
b. kesenian e. pendidikan
c. perdagangan

12. Nama wali yang mengajarkan ajaran Mo Limo, yaitu ….
a. Sunan Kudus d. Sunan Kalijaga
b. Sunan Derajat e. Sunan Gunungjati
c. Sunan Ampel

13. Walisongo yang menjadi raja di Cirebon, yaitu ….
a. Sunan Bonang d. Sunan Derajat
b. Sunan Gunungjati e. Sunan Kalijaga
c. Sunan Muria

14. Kerajaan Islam yang pertama di Indonesia, ialah .
a. Aceh d. Samudera Pasai
b. Malaka e. Demak
c. Banten

15. Pendiri Kerajaan Malaka ialah .
a. Parameswara
b. Sultan Malikul Saleh
c. Sultan Ali Mughayat Syah
d. Raden fatah
e. Sultan Iskandar Muda

16. Kerajaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa Raja .
a. Sultan Ali Mughayat Syah
b. Sultan Iskandar Muda
c. Sultan Hasanudin.
d. Sultan Malikul Saleh
e. Sultan Haji

17. Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di pulau Jawa ialah Kerajaan .
a. Demak d. Pajang
b. Banten e. Mataram
c. Cirebon

18. Berikut ini ialah kerajaan-kerajaan Islam yang terdapat di Maluku, kecuali .
a. Ternate d. Luwu
b. Tidore e. Jailolo
c. Bacan

19. Percampuran dua kepercayaan yang berbeda, disebut .
a. Sinkretisme d. Nasionalisme
b. Akulturasi e. Mobilisasi
c. Enkulturasi

20. Berikut ini adalah contoh perayaan yang menunjukkan adanya percampuran antara unsur tradisi Islam dengan tradisi lokal, yaitu ..
a. Hari Raya Idul Fitri d. Ziarah Kubur
b. Hari Raya Idul Adha e. Hari Raya Asyuro
c. Sekaten

II. Soal Uraian

Jawablah pertanyaan di bawah ini secara singkat dan jelas!
1. Uraikanlah kekuatan dan kelemahan teori-teori tentang masuknya pengaruh India di Indonesia!
2. Uraikanlah empat teori tentang masuknya Islam ke Indonesia!
3. Bagaimana proses lahirnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dalam kaitan jalur perdagangan?
4. Berikanlah lima contoh tradisi yang menunjukkan perpaduan antara unsur lokal, Hindu Buddha dan Islam!
5. Buatlah tiga contoh bentuk akulturasi budaya di Indonesia antara budaya asli dengan budaya Hindu-Buddha!
6. Jelaskan pengaruh masuknya agama Hindu-Buddha terhadap perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia!
7. Buatlah deskripsi singkat yang menjelaskan kondisi sosial-budaya masyarakat Indonesia sebelum masuknya pengaruh agama Islam di Indonesia!
8. Buatlah analisis hubungan proses masuknya agama Islam di Indonesia dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai!
9. Sebutkan beberapa bentuk sinkretisme antara budaya Hindu-Buddha dengan budaya Islam yang berkaitan dengan fase-fase perkembangan kehidupan manusia!
10. Jelaskan perkembangan pendidikan yang terjadi pada masa munculnya pengaruh Islam di Indonesia!

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s