Cara Masyarakat Masa Praaksara Mewariskan Masa Lampaunya

1. Tradisi dalam Kehidupan Masyarakat

Sejarah merupakan pengalaman kehidupan
manusia di masa lampau, sedangkan
salah satu fungsi sejarah adalah untuk memberikan
identitas kepada masyarakatnya.
Sebuah masyarakat dengan berbagai identitasnya,
seperti budaya, norma-norma, dan
adat istiadatnya, pastilah mempunyai jejakjejak
sejarahnya di masa lampau. Dengan
demikian, kisah sejarah dianggap perlu untuk
menunjukkan identitas atau jati dirinya yang
berbeda dengan masyarakat yang lain. Kisah
sejarah juga dianggap perlu sebagai pengalaman
kolektif di masa lampau. Dengan demikian,
kisah sejarah yang dapat menjelaskan
keberadaan suatu masyarakat atau tempat
dianggap penting, baik pada masa masyarakat sebelum mengenal tulisan
(praaksara) maupun sesudah mengenal tulisan (masa aksara).
Tradisi lisan sebagai sebuah karya sejarah tradisional tidak menggunakan
prosedur penulisan sejarah ilmiah. Karya-karya yang disebarkan melalui tradisi
lisan sering kali memuat sesuatu yang bersifat supranatural di luar jangkauan
pemikiran manusia. Dalam karya-karya tersebut antara fakta dan imajinasi serta
fantasi bercampur baur.
Tradisi lisan ini antara lain berupa mitos, legenda, dan dongeng. Tradisi lisan
ini diwariskan dan disebarluaskan sebagai milik bersama. Di samping itu, tradisi
lisan juga menjadi simbol identitas bersama.
Di dalam keraton banyak ditemukan berbagai macam lambang dalam segi
kehidupan, dimulai dari bentuk dan cara mengatur bangunan, mengatur penanaman
pohon yang dianggap keramat, mengatur tempat duduk, menyimpan
dan memelihara pusaka, macam pakaian yang dikenakan dan cara mengenakannya,
bahasa yang harus dipakai, tingkah laku, pemilihan warna dan seterusnya.
Keraton juga menyimpan dan melestarikan nilai-nilai lama. Mitos yang sangat
berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dan komunitas keraton adalah
mitos Kanjeng Ratu Kidul.

Kedudukan mitos itu sangat menonjol, karena tanpa mengenal mitos Kanjeng
Ratu Kidul, orang tidak akan dapat mengerti makna dari tarian sakral Bedhaya
Ketawang, yang sejak Paku Buwana X naik tahta, setiap setahun sekali tarian itu
dipergelarkan pada acara ulang tahun penobatan raja. Tanpa mengenal mitos itu
makna Panggung Sangga Buwana akan sulit dipahami, demikian pula mengenai
mitos yang dulu dikenal rakyat sebagai lampor.
Terdapat berbagai macam versi mitos Kanjeng Ratu Kidul antara lain berdasarkan
cerita pujangga Yosodipuro. Di Kerajaan Kediri, terdapat seorang putra
Raja Jenggala yang bernama Raden Panji Sekar Taji yang pergi meninggalkan
kerajaannya untuk mencari daerah kekuasaan baru. Pada masa pencariannya
sampailah ia di hutan Sigaluh yang di dalamnya terdapat pohon beringin berdaun
putih dan bersulur panjang yang bernama waringin putih. Pohon itu ternyata
merupakan pusat kerajaan para lelembut (mahkluk halus) dengan Sang Prabu
Banjaran Seta sebagai rajanya.
Berdasarkan keyakinannya akan daerah itu, Raden Panji Sekar Taji melakukan
pembabatan hutan sehingga pohon waringin putih tersebut ikut terbabat.
Dengan terbabatnya pohon itu si raja lelembut yaitu Prabu Banjaran Seta merasa
senang dan dapat menyempurnakan hidupnya dengan langsung musnah ke
alam sebenarnya. Kemusnahannya berwujud suatu cahaya yang kemudian
langsung masuk ke tubuh Raden Panji Sekar Taji sehingga menjadikan dirinya
bertambah sakti.
Alkisah, Retnaning Dyah Angin-Angin adalah saudara perempuan Prabu
Banjaran Seta yang kemudian menikah dengan Raden Panji Sekar Taji yang
selanjutnya dinobatkan sebagai raja. Dari hasil perkawinannya, pada hari Selasa
Kliwon lahirlah putri yang bernama Ratu Hayu. Pada saat kelahiran putri ini,
menurut cerita dihadiri oleh para bidadari dan semua mahkluk halus. Putri tersebut
diberi nama oleh eyangnya (eyang Sindhula), Ratu Pegedong, dengan
harapan nantinya akan menjadi wanita tercantik di jagat raya. Setelah dewasa ia
benar-benar menjadi wanita yang cantik tanpa cacat atau sempurna dan wajahnya
mirip dengan wajah ibunya bagaikan pinang dibelah dua. Pada suatu hari, Ratu
Hayu atau Ratu Pagedongan menangis memohon kepada eyangnya agar
kecantikan yang dimilikinya tetap abadi. Dengan kesaktian eyang Sindhula, akhirnya
permohonan Ratu Pagedongan menjadi wanita yang cantik, tidak pernah tua
atau keriput dan tidak pernah mati sampai hari kiamat dikabulkan, dengan syarat
ia akan berubah sifatnya menjadi mahkluk halus yang sakti mandra guna (tidak
ada yang dapat mengalahkannya).
Setelah berubah wujudnya menjadi mahluk halus, oleh sang ayah, Putri
Pagedongan diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memerintah seluruh
wilayah Laut Selatan serta menguasai seluruh mahkluk halus di seluruh pulau
Jawa. Selama hidupnya Ratu Pagedongan tidak mempunyai pedamping tetapi
ia diramalkan bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan raja agung (hebat)
yang memerintah di tanah Jawa. Sejak saat itu ia menjadi ratu dari rakyat mahkluk
halus dan berkuasa penuh di Laut Selatan.

Kekuasaan Ratu Kidul di Laut Selatan juga tertulis dalam serat Wedatama
yang berbunyi:
Wikan wengkoning samodra,
Kederan wus den ideri,
Kinemat kamot hing driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih Kanjeng Ratu Kidul,
Ndedel nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.
diterjemahkan:
Tahu akan batas samudra
Semua telah dijelajahi
Dipesona nya masuk hati
Digenggam satu menjadi
Jadilah ia merajai
Syahdan Sang Ratu Kidul
Terbang tinggi mengangkasa
Lalu datang bersembah
Kalah perbawa terhadap
Junjungan Mataram
[setubuh alamai-senyawa Illahi]
Yang artinya : Mengetahui/mengerti betapa kekuasaan samudra, seluruhnya
sudah dilalui/dihayati, dirasakan, dan meresap dalam sanubari, ibarat digenggam
menjadi satu genggaman, sehingga terkuasai. Tersebutlah Kanjeng Ratu
Kidul, naik ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, kalah wibawa dengan
raja Mataram.
Ada versi lain dari masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menceritakan bahwa
pada zaman Kerajaan Pajajaran, terdapat seorang putri raja yang buruk rupa
dan mengidap penyakit kulit bersisik sehingga bentuk dan seluruh tubuhnya
jelek tidak terawat. Oleh karena itu, ia diusir dari kerajaan oleh saudara-saudaranya
karena merasa malu mempunyai saudara yang berpenyakitan seperti dia.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, sang putri kemudian bunuh diri dengan
mencebur ke laut selatan.
Pada suatu hari rombongan Kerajaan Pajajaran mengadakan selametan di
Pelabuhan Ratu. Pada saat mereka tengah khusuk berdoa muncullah si putri
yang cantik dan mereka tidak mengerti mengapa ia berada di situ, kemudian si
putri menjelaskan bahwa ia adalah putri Kerajaan Pajajaran yang diusir oleh kerajaan
dan bunuh diri di Laut Selatan, tetapi sekarang telah menjadi ratu mahkluk
halus dan menguasai seluruh Laut Selatan. Selanjutnya oleh masyarakat, ia dikenal
sebagai Ratu Kidul.

Dari cerita-cerita mitos tentang Kanjeng Ratu Kidul, jelaslah bahwa Kanjeng
Ratu Kidul adalah penguasa lautan yang bertahta di Laut Selatan dengan kerajaan
yang bernama Keraton Bale Sokodhomas.

2. Mitos Pertemuan Kanjeng Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati

Sebelum Panembahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan
tapabrata di Dlepih dan tapa ngeli. Dalam laku tapabratanya, beliau selalu
memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan
mengayomi rakyatnya sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur.
Dalam cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli,
sampai di tempuran atau tempat bertemunya aliran Sungai Opak dan Sungai
Gajah Wong di dekat desa Plered dan sudah dekat dengan Parang Kusumo,
tiba-tiba terjadilah badai yang dahsyat sehingga pohon-pohon di pesisir pantai
tercabut beserta akarnya, ikan-ikan terlempar ke darat dan menjadikan air laut
menjadi panas seolah-olah mendidih. Bencana alam ini menarik perhatian
Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian muncul di permukaan laut mencari penyebab
terjadinya bencana alam tersebut.
Dalam pencariannya, Kanjeng Ratu Kidul menemukan seorang satria sedang
bertapa di tempuran Sungai Opak dan Sungai Gajah Wong, yang tidak lain
adalah Sang Panembahan Senopati. Pada waktu Kanjeng Ratu Kidul melihat
ketampanan Senopati, ia jatuh cinta. Selanjutnya Kanjeng Ratu Kidul
menanyakan apa yang menjadi keinginan Panembahan Senopati sehingga
melakukan tapabrata yang sangat berat dan menimbulkan bencana alam di laut
selatan, kemudian Panembahan menjelaskan keinginannya.
Kanjeng Ratu Kidul memperkenalkan diri sebagai ratu di Laut Selatan dengan
segala kekuasaan dan kesaktiannya. Kanjeng Ratu Kidul menyanggupi untuk
membantu Panembahan Senopati mencapai cita-cita yang diinginkan dengan
syarat, bila terkabul keinginannya maka Panembahan Senopati beserta raja-raja
keturunannya bersedia menjadi suami Kanjeng Ratu Kidul. Panembahan Senopati
menyanggupi persyaratan Kanjeng Ratu Kidul, namun dengan ketentuan bahwa
perkawinan antara Panembahan Senopati dan keturunannya tidak menghasilkan
anak. Setelah terjadi kesepakatan itu, maka alam kembali tenang dan ikan-ikan
yang setengah mati hidup kembali.
Adanya perkawinan itu konon mengandung makna simbolis bersatunya
air (laut) dengan bumi (daratan/tanah). Ratu Kidul dilambangkan dengan air,
sedangkan raja Mataram dilambangkan dengan bumi. Makna simbolisnya adalah
dengan bersatunya air dan bumi, maka akan membawa kesuburan bagi kehidupan
Kerajaan Mataram yang akan datang.
Menurut sejarah, dikisahkan bahwa Panembahan Senopati sebagai raja
Mataram yang beristrikan Kanjeng Ratu Kidul tersebut merupakan cikal bakal
atau leluhur para raja Mataram, termasuk Keraton Surakarta Hadiningrat. Oleh
karena itu, raja-raja Keraton Surakarta sesuai dengan janji Panembahan Senopati
menjadi suami dari Kanjeng Ratu Kidul. Dalam perkembangannya, Raja Paku

Buwana III selaku suami Kanjeng Ratu Kidul telah mendirikan Panggung Sangga
Buwana sebagai tempat pertemuannya. Selanjutnya tradisi raja-raja Surakarta
sebagai suami Kanjeng Ratu Kidul berlangsung terus sampai dengan Raja Paku
Buwana X. Alkisah Paku Buwana X yang merupakan suami Ratu Kidul sedang
bermain asmara di Panggung Sangga Buwana. Pada saat mereka berdua menuruni
tangga panggung yang curam tiba-tiba Paku Buwana X terpeleset dan hampir
jatuh dari tangga tetapi berhasil diselamatkan oleh Kanjeng Ratu Kidul. Dalam
kekagetannya itu Ratu Kidul berseru: “Anakku ngger………………” (Oh……………..
Anakku). Apa yang diucapkan oleh Kanjeng Ratu Kidul itu sebagai Sabda
Pandito Ratu artinya sabda raja harus ditaati. Sejak saat itu hubungan kedudukan
mereka berdua berubah bukanlah lagi sebagai suami istri, tetapi hubungannya
sebagai ibu dan anak, begitu pula terhadap raja-raja keturunan Paku Buwana X
selanjutnya.
Dalam pandangan sejarah modern tentunya cerita rakyat semacam itu tidak
mengandung nilai sejarah. Akan tetapi, bagi masyarakat tradisional hal itu dianggap
sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Cerita itu kemudian dijadikan sebagai
simbol identitas bersama mereka dan sebagai alat legitimasi tentang keberadaan
mereka.
Penyebaran dan pewarisan tradisi lisan memiliki banyak versi tentang satu
cerita yang sama. Hal ini menunjukkan dalam penyebaran dan pewarisan tradisi
lisan telah terjadi pembiasan dari kisah aslinya. Hal ini dikarenakan ingatan
manusia terbatas, kemampuan seseorang berbeda, dan adanya keinginan untuk
memberikan variari-variasi baru pada cerita-cerita tersebut. Oleh karena itu, kisah
sejarah yang disalurkan lewat tradisi lisan akan terus mengalami perubahan.
Perubahan bisa terjadi, akibat adanya imajinasi dan fantasi dari pencerita.
Akibatnya, fakta sejarah makin kabur karena adanya pengurangan atau penambahan
dari masing-masing narasumber.

3. Cara Mewariskan Masa Lampau
Pengalaman kolektif suatu masyarakat diartikan sebagai masa lampau.
Beberapa cara yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mewariskan masa
lampaunya adalah sebagai berikut.

a. Pelatihan dan peniruan. Pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki
diwariskan lewat pelatihan dan peniruan, entah itu dengan perkataan atau
perbuatan. Misalnya kepandaian membuat alat-alat dari batu maupun dari
besi. Mereka mewariskan kepandaian tersebut kepada generasi berikutnya
lewat peniruan pembuatan alat-alat tersebut. Termasuk juga pengetahuan
dan kepandaian berburu, memasak makanan, beternak, bersawah dan
sebagainya.
b. Penuturan, yakni dengan cara menuturkan secara lisan. Artinya, kemampuan
dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat diwariskannya dengan cara
dituturkan kepada generasi penerusnya.
c. Hasil karya, walaupun masyarakat belum mengenal tulisan namun telah
memiliki akal, dengan akalnya akhirnya masyarakat menghasilkan budaya.
Dengan budaya inilah dia mewariskan masa lampaunya kepada generasi
berikutnya. Dengan demikian lewat hasil karya atau budaya yang dimilikinya,
maka dapat diketahui tentang pola hidup dan kehidupan masyarakat tersebut.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cara Masyarakat Masa Praaksara Mewariskan Masa Lampaunya

  1. androidnanta berkata:

    bngung dgn printah ny,, ksi isi nya dong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s