PROSES ISLAMISASI DI INDONESIA

PROSES ISLAMISASI DI INDONESIA (ABAD 13-18 M): MASALAH DI SEKITAR KAPAN, SIAPA, DAN DARI MANA?

Oleh : YULFI ARWINTO, SS.MM

GURU SEJARAH SMAN 1 PAYUNG SEKAKI KAB. SOLOK

 

Kajian terhadap proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, sumber-sumber sejarah yang berkenaan dengan proses Islamisasi di Indonesia di masa-masa awal memang masih langka, sehingga menyulitkan para ahli untuk melakukan rekonstruksi sejarah secara utuh. Kedua, dari sumber yang ada dan langka itu ditafsirkan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Para sejarawan umumnya sepakat bahwa kata kunci untuk bisa memahami proses Islamisasi di Indonesia pada masa-masa awal adalah “kompleksitas”. Kompleksitas itu tidak hanya menyangkut pertanyaan sejarah yang mendasar seperti: bagaimana dan mengapa, tetapi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang elementer seperti: apa, siapa, kapan, dan dimana.

Tulisan ini membahas tentang “Proses Islamisasi di Indonesia pada Masa-masa Awal”. Permasalahan yang dikemukakan adalah:

1.     Kapan agama Islam mulai masuk dan berkembang di Indonesia?

2.     Siapa sesungguhnya para penyebar agama Islam di Indonesia?

  1. Islam dari daerah mana sesungguhnya yang masuk dan berkembang di Indonesia?

 

Masalah di Sekitar “Kapan”

Pembahasan di sekitar kapan agama Islam mulai masuk dan berkembang di Indonesia, hingga kini terdapat dua versi atau perspektif. Perspektif pertama diberikan oleh HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama terkenal yang meminati sejarah. Dalam bukunya Sejarah Umat Islam, Jilid IV, HAMKA menyatakan bahwa agama Islam sudah masuk dan berkembang di Indonesia pada abad-abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Hal itu dibuktikan, menurut HAMKA, bukan saja karena hubungan antara “negeri-negeri atas angin” (negeri Arab dan Cina) dengan “negeri-negeri di bawah angin” (daerah Asia Tenggara) sudah berlangsung lama sejak permulaan abad Masehi, tetapi juga karena pada abad 7 M itu penguasa Dinasti Ummayah, yaitu Muawiyah (661-680 M), sering mengirimkan armada lautnya melalui wilayah Nusantara menuju ke negeri Cina. Bukti lain yang ingin dikemukakan HAMKA, sehubungan dengan agama Islam telah masuk dan berkembang di Nusantara, adalah adanya pemukiman Arab di pantai Barat Sumatera pada zaman Sriwijaya (abad 7-9 M) berdasarkan informasi dari sumber-sumber Cina. Alhasil, HAMKA sampai pada keyakinannya bahwa agama Islam telah datang dan berkembang tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang menjadi khalifah (khulafaur rasyidin) berkuasa, yakni pada abad 7-8 M.

Perspektif kedua, diberikan oleh Hoesein Djajadiningrat, Menurut Hoesein, berdasarkan bukti-bukti filologis dan arkeologis, agama Islam baru masuk dan berkembang di Indonesia pada abad 13 M. Naskah-naskah yang termasuk kedalam historiografi tradisional menunjukkan kisah para penguasa di Asia Tenggara berkonversi dari agama lama ke agama baru (Islam). Begitu juga peninggalan arkeologis, seperti batu nisan, mata uang, dan benda-benda berharga lainnya menunjukkan bahwa agama Islam telah masuk dan berkembang di Indonesia pada abad 13 M pada saat kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia sedang membangun hegemoni kekuasaannya.

 

Masalah di Sekitar “Siapa”

Jika hubungan dagang antara “negeri-negeri di atas angin” (termasuk Arab) dengan “negeri-negeri di bawah angin” (termasuk Indonesia) sudah berlangsung pada permulaan abad Masehi, maka agama-agama besar di dunia (Hindu, Budha, Islam, Konfusianisme, dan Kristen) diperkenalkan melalaui “jalur perdagangan” dengan “para pedagang” sebagai aktor utamanya. Itulah paling tidak argumentasi yang dikemukakan oleh Van Leur dalam karya utamanya, Indonesian Trade and Society. Para pedagang, apakah itu pedagang Arab, Persia, dan India yang memperkenalkan dan menyebarkan agama Islam di Indonesia. Melalui lembaga dan jaringan perdagangan, kekayaan dan prestise sosial-ekonomi, para pedagang ini mampu menarik para penguasa pribumi dan keluarganya termasuk masyarakat kebanyakan untuk beralih ke agama baru, agama Islam.

Hipotesis bahwa para pedagang merupakan aktor utama dalam proses Islamisasi di Indonesia, mulai digugat dan dipertanyakan. Menurut Taufik Abdullah, sejarawan terkenal Indonesia, “… para ahli masih memperdebatkan tentang kemungkinan pedagang sebagai penyebar agama. Dan dipersoalkan apakah pedagang, yang tentu saja prhatian utamanya adalah mencari untung, betul-betul sanggup menyebarkan Islam. …[?]  Karena itu muncul perspektif lain dengan melihat para guru sufi, tokoh tarekat, dan para pendakwah sebagai penyebar utama dalam agama Islam. Dalam hal ini studi yang dilakukan oleh Anthony H. Johns semakin memperkuat pendapat bahwa para tokoh sufi dan tarekatlah yang mampu menyebarkan agama Islam di Indonesia sampai pelosok daerah pedalaman dan terpencil sekalipun.

 

Masalah di Sekitar “Dari Mana”

Ketika memperdebatkan masalah “dari mana” asalnya agama Islam itu datang, kembali pendapat HAMKA dan Hoesein Djajadiningrat dikemukakan. Menurut HAMKA agama Islam yang datang dan berkembang di Indonesia langsung berasal dari daerah Arab. Para pedagang Arab dan bukan pedagang lain yang datang dan menyebarkan agama Islam di kepulauan Indonesia. Ada beberapa argumentasi yang dapat dikemukakan oleh HAMKA. Pertama, mazhab fiqh yang dominan di Indonesia adalah Syafii, suatu mahzab yang juga dominan di Mekah dari abad 7-18 M sebelum didominasi oleh Mazhab Hambali atau Maliki pada abad 19-20 M. Kedua, sudah sejak zaman Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Dinasti Ummayah pada abad ke-7 M sering dilakukan perjalanan dan dakwah dari negeri Arab ke negeri Cina dengan singgah terlebih dahulu di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.Sementara itu pendapat Hoesein Djajadiningrat juga menarik untuk dikemukakan. Sebagai seorang doktor filolog dan Islamolog pertama di Indonesia, Hoesein menyatakan bahwa berdasarkan bukti-bukti yang ada, Islam di Indonesia berasal dari Persia. Beberapa argumentasi yang dikemukakan oleh Hoesein antara lain: banyak kosa kata Indonesia yang berasal dan dimodifikasi dari Persia di satu sisi, dan banyak alirah tarekat/tasawuf dan tokoh-tokohnya yang berasal dari Persia sebagai rujukan yang dominan di Indonesia.

Sebenarnya ada pendapat lain tentang dari mana Islam di Indonesia ini berasal. Para sarjana Belanda, misalnya, untuk menunjukkan bahwa ada unsur kesinambungan dan kesejajaran antara tradisi Islam dengan tradisi pra-Islam (Hindu-Buddha), mereka menyatakan bahwa India merupakan daerah asal Islam datang dan berkembang di Indonesia.

KESIMPULAN

Masalah “proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia” menjadi wacana yang ramai diperdebatkan sampai sekarang. Sebagaimana telah dikemukakan di bagian depan bahwa kata kunci untuk memahami Islam di Indonesia adalah “kompleksitas”. Pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam sejarah seperti: kapan, oleh siapa, dan di mana atau dari mana dalam beberapa hal masih menjadi bahan perdebatan. Lebih-lebih jika kita ingin menjawab pertanyaan yang lebih luas dan dalam disekitar “bagaimana dan mengapa” Islam bisa berkembang di Indonesia. Kendati demikian, studi-studi tentang Islam di Indonesia terus dilakukan. Masing-masing studi itu akan memberi arti baru dan pada gilirannya nanti meminjam kata-kata Taufik Abdullah kita akan bisa melakukan rekonstruksi sejarah Islam di Indonesia secara lengkap dan utuh melalui pelancongan bibliografis yang kaya dan berguna.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik (Ed.). Agama, Etos Kerja, dan Perubahan Sosial. Jakarta: LP3ES, 1987.

Azra, Azyumardi (Ed.). Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989.

Djajadiningrat, Hoesein. Tinjauan Kritis tentang Seajarah Banten: Sumbangan bagi Pengenalan Sifat-sifat Penulisan Sejarah Jawa. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1983.

Djajadiningrat, Hoesein. “Islam di Indonesia” dalam Kenneth W. Morgan (Ed.). Islam Jalan Lurus. Terjemahan. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, cet.ketiga, 1986.

Drewes, G.W.J.. “Pemahaman Baru tentang Kedatangan Islam di Indonesia” dalam Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique, dan Yasmin Hussain (Ed.). Islam di Asia Tenggara: Perspektif Sejarah. Terjemahan. Jakarta: LP3ES, 1989.

Hamka. Sedjarah Umat Islam, Djilid IV. Bukittinggi: Menara, 1963.

Johns, Anthony H.. “Islamization in Southeast Asia: Reflections and

Reconsiderations with Special Reference to the Role of Sufism” dalam Southeast Asian Studies, No.1, Vo.31 (Juni 1993). Reid, Anthony. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin, Jilid I. Terjemahan. Jakarta: Yayan Obor Indonesia, 1992.

Ricklefs, M.C.. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991.

Suwirta, Andi. Sejarah Islam: Tasawuf dan Proses Islamisasi di Indonesia. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI, 2000.

Van Leur, J.C.. Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History. The Hague, Bandung: N.V. Mij Vorkink-Van Hoeve, Sumur Bandung, 1960.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s