Tradisi Sejarah pada Masyarakat Masa Aksara

Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia sudah mengenal kehidupan religius
yang dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku dalam hidupnya.
Hampir setiap kegiatan selalu dilandasi dengan upacara religius yang bernuansa
gaib dalam kegiatan mata pencahariannya, misalnya adat istiadat perkawinan,
tata cara penguburan, selamatan, dan kebiasaan lainnya. Mereka mematuhi
pranata-pranata yang berbau religius dan magis tersebut, karena mereka beranggapan
bahwa apabila terjadi pelanggaran akan mendapat hukuman dari arwah
nenek moyang yang akan menimbulkan bencana terhadap warga masyarakatnya.
Masuknya pengaruh agama menyebabkan banyak adat istiadat yang disesuaikan
dengan ajaran agama sehingga tidak terdapat lagi kebiasaan-kebiasaaan
dalam melakukan upacara ritual yang mencelakakan fisiknya. Setelah memasuki
era pembangunan ini banyak tradisi-tradisi yang dikomersialkan menjadi sarana
hiburan bagi masyarakatnya ataupun masayarakat pendatang. Selain itu banyak
tradisi-tradisi yang dijadikan salah satu bentuk atraksi wisata oleh pemerintah
daerah sebagai salah satu upaya memperkenalkan kekayaan budaya bangsa
Indonesia.
1. Tradisi Sejarah Masyarakat di Berbagai Daerah di Indonesia
a. Wayang
Fungsi dan peran wayang sepanjang perjalanan tidaklah tetap dan tergantung
pada kebutuhan manusia. Pertunjukan wayang pada mulanya merupakan upacara
pemujaan arwah nenek moyang. Wayang merupakan salah satu pertunjukan
tradisional warisan budaya leluhur yang mampu bertahan berabad-abad dan
mengalami perubahan dan perkembangannya
sampai mencapai bentuk sekarang
ini. Sebelum pertunjukan wayang

dilakukan, terlebih dahulu seorang dalang mengadakan upacara keagamaan
dengan membakar dupa dan memberikan saji.
Kesenian wayang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat dalam melaksanakan
upacara tertentu dengan menampilkan lakon/cerita seperti : perkawinan
Arjuna, Suyudono, Baratayudha, “Semar Mbangun Kayangan”, “Babat Alas
Wanamarto ” dan lain-lain. Wayang mengalami perubahan baik dalam penyajiannya
maupun dalan bentuk wayangnya
sesuai dengan pola budaya dan sistem
nilai budaya masyarakat pendukungnya.
Pada zaman berkembangnya pengaruh
Islam oleh para wali, wayang dijadikan
alat untuk menyebarkan agama Islam. Hal
ini menunjukkan bahwa pagelaran wayang
sudah dijadikan media komunikasi.

Untuk menggelar pertunjukan wayang ada beberapa perlengkapan yang
perlu dipersiapkan, antara lain sebagai berikut.
1) Dalang yaitu orang yang memainkan lakon wayang.
2) Keprak atau kecrek biasanya dibuat dari kayu atau logam yang akan digerakkan
oleh dalang pada waktu ada keributan dalam peperangan.
3) Blencong yaitu lampu yang dipergunakan untuk memainkan wayang dan
digantungkan di muka kelir.
4) Kelir yang dibuat dari mori tempat dalang menancapkan dan memainkan
wayang.
5) Gamelan, terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
(a) Rebab, celempung yaitu alat musik pakai senar.
(b) Suling yaitu alat tiup dari bambu atau logam.
(c) Gamelan yaitu alat pukul dari kayu atau logam.
6) Kotak penyimpan wayang.

Teknologi modern yang semakin mengalami kemajuan sangat berperan
dalam sejarah perkembangan wayang. Penggunaan alat-alat pengeras suara,
sarana radio, televisi, tape recorder, dan piringan hitam memperlancar perluasan
pergelaran wayang sehingga dapat menjangkau khalayak penggemarnya.
b. Upacara Labuhan
Setiap tahun keluarga besar Keraton Yogyakarta selalu mengadakan upacara
labuhan, biasanya dilakukan 1 hari setelah penobatan dan pada waktu ulang
tahun penobatan (tinggalan dalem). Upacara labuhan diselenggarakan di empat
tempat:
1) Parang Kusumo,
2) Gunung Lawu,
3) Gunung Merapi, dan
4) Dlepih.
Upacara labuhan yaitu upacara mengirimkan
barang-barang dan sesaji ke
tempat-tempat yang dianggap keramat
dengan maksud sebagai penolak bala
untuk keselamatan masyarakat. Upacara
ini merupakan adat yang turun temurun
sejak Panembahan Senopati memegang
kekuasaan di Mataram. Beliau seorang
raja yang sangat “sakti” dan gemar
bertapa. Dengan kesaktiannya beliau
dapat melindungi rakyatnya, mudah berhubungan
dengan jin atau penguasa
setempat yang dianggap keramat untuk dapat dimintai pertolongan. Sebagai
imbalannya beliau mempersembahkan sesaji maupun benda-benda tertentu yang
menjadi kesukaan makhluk halus tersebut dalam bentuk upacara-upacara. Oleh
karena itu, sampai sekarang upacara tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk
keselamatan Sri Sultan dan keluarganya, juga untuk keselamatan rakyatnya.
Jenis sesaji untuk upacara labuhan terdiri atas: sanggan (setangkap pisang),
kinang, abon-abon terdiri atas bunga mawar, melati, kenanga, dan serbuk kayu,
cendana, jajan pasar, (pisang, ketimun, salak, roti, jadah, wajik), pala gumantung,
pala kependem, dan pala kesimpar. Sedangkan untuk keselamatan upacara labuhan
dan jumenengan terdiri atas: tumpeng yuswo, tumpeng ucok, dahar rasul, lengkap
dengan lauk pauknya, palagara, bekakak, tumpeng robyong, tumpeng mancawarna,
tumpeng urubing damar, tumpeng kendit atau gelang, tumpeng asrepasrepan,
tumpeng garing, apem alit, rujak-rujakan warni pitu, ketan, kolak, apem,
dan lain-lain. Barang-barang yang dilabuh antara lain: kain/sinjang cangkring,

semekan atau pintu solok, gadung melati, gadung jinggo, udorogo, bangun
tulak masing-masing satu lembar, sela (batu), ratus, lisah (minyak), yatra (uang)
tindih dan lain-lain.
Pelaksanaannya diawali dengan diadakannya upacara sugengan yang
diselenggarakan dalam keraton, setelah kelengkapannya diperiksa, dan setelah
mendapat izin dari Sri Sultan rombongan upacara siap diberangkatkan. Sesampainya
di sana rombongan diterima oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II beserta
stafnya yang kemudian diserahkan kepada juru kunci yang akan memimpin jalannya
upacara labuhan.

c. Upacara Gerebeg dan Sekaten Keraton Yogyakarta
Gerebeg (gerbeg atau grebeg berarti desakan/embusan tetapi anggerebeg
berarti pengawalan terhadap seorang, pembesar yang penting, seorang raja
atau seorang pengantin wanita; gerebegan menampakkan diri pada hari gerebeg
untuk mengambil bagian di dalam pesta itu). Sri Sultan di Yogyakarta dan Sri
Sunan di Surakarta menampakkan diri di Sitinggil dikelilingi para pengikutpengikutnya
(punggawa) yang berada di pagelaran untuk memberikan penghormatan
kepada penguasa.
Upacara grebeg dilakukan tiga kali setiap tahun baik di Keraton Yogyakarta
maupun Keraton Surakarta, yaitu pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW
(Gerebeg Maulud tanggal 12 Mulud), hari Raya Idul Fitri (Gerebeg Pasa) pada
tanggal 1 Syawal setelah umat Islam menjalankan puasa selama satu bulan dan
hari Idul Adha/Kurban (Gerebeg Besar) pada tanggal 10 besar.
1) Perayaan Sekaten
Perayaan ini berbentuk pasar malam yang biasanya dimulai 1 atau 2 minggu
sebelum upacara tradisional Sekaten yang dilangsungkan di alun-alun utara
dengan beraneka ragam macam-macam jajanan, juga ada berbagai pertunjukan,
permainan, dan pameran yang digelar untuk menghibur masyarakat.

2) Gerebeg Maulud
Gerebeg Maulud adalah pesta yang diadakan untuk memperingati hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul awal. Dalam memperingati
hari kelahiran tersebut ada macam perayaan : (1) Keramaian Sekaten
(pasar malam ), (2) Upacara Sekaten pada tanggal 5 sampai 11 Maulud, Gerebeg
Maulud tanggal 12 Mulud.
d. Tradisi Hari Raya
Ada lima macam agama yang diakui oleh pemerintah di Indonesia sampai
dengan masa akhir pemerintahan Orde Baru, yaitu agama Islam, Protestan,
Katholik, Hindhu, dan Buddha. Ketika Indonesia memasuki era reformasi tahun
1999 maka tradisi, adat istiadat dan juga agama orang-orang Tionghoa yakni
Konghuchu diakui. Dengan demikian sekarang ini ada enam agama yang diakui
pemerintah Indonesia. Dari keenam agama tersebut terdapat hari penting (hari
raya) yang selalu dilaksanakan dengan tradisi pola budaya masyarakat setempat,
sehingga tradisi budaya menghiasi pelaksanaan hari raya tersebut. Dengan
demikian dalam pelaksanaan hari raya agama masing-masing mempunyai tata
cara sendiri-sendiri.
Tradisi-tradisi tersebut adalah/sebagai berikut.
1) Tradisi Perayaan Lebaran (Idul Fitri)
Tradisi perayaan Lebaran (Idul Fitri)
bagi umat yang beragama Islam. Hari raya
diselenggarakan setelah umat Islam selama
satu bulan penuh menjalankan ibadah
puasa. Perayaan lebaran jatuh pada tanggal
1 Syawal, di mana umat Islam melakukan
salat Idul Fitri di masjid atau di
lapangan dan setelah itu melakukan kunjungan
ke orang tua, keluarga, tetangga dan
sanak saudara untuk saling memaafkan.

2) Tradisi Perayaan Natal
Tradisi perayaan Natal ini dilaksanakan
pada tanggal 25 Desember,
setelah umat Kristen (Protestan dan
Katholik) melakukan Ibadat Natal/
Misa Natal di Gereja. Tanggal 25
Desember bagi umat Kristiani diyakini
sebagai hari kelahiran Juru Selamat
(penyelamat dunia) yakni Yesus Kristus
(Nabi Isa) yang turun ke dunia untuk
menebus dosa-dosa manusia.
3) Tradisi Perayaan Nyepi (bagi umat Hindu)
Perayaan hari raya Nyepi di Indonesia
dilaksanakan dengan serangkaian
upacara yang mempunyai tujuan menjadikan
alam semesta bersih, serasi,
selaras, dan seimbang yang disebut
memarisudha bumi. Dengan perayaan
ini mengharap dunia terbebas dari malapetaka,
kekacauan dan perang sehingga
manusia hidup sejahtera, dan terbebas
dari kebodohan dan kemiskinan.
4) Tradisi Perayaan Waisak
Waisak ialah hari raya umat
Buddha yang biasanya jatuh pada
hari purnamasidi (bulan purnama) di
bulan Mei. Karena pada hari tersebut
ada tiga peristiwa penting yakni:
kelahiran Sang Buddha Gautama,
tercapainya penerangan oleh Sang
Budha Gautama dan wafat Sang
Budha Gautama. Itulah sebabnya,
Waisak disebut juga Trisuci Waisak.
Menurut tradisi Waisak di Borobudur,
rangkaian upacara biasanya
diawali dengan pengambilan api
alam di Merapen dan pengambilan air dari sumber mata air Jumprit untuk
disucikan dalam upacara di Candi Mendut. Upacara dilanjutkan dengan prosesi
agung oleh para anggota Sangha dan umat mulai dari Candi Mendut, menuju
Candi Pawon dan diakhiri di Candi Borobudur tempat upacara suci Waisak
diselenggarakan.

5) Tradisi Perayaan Imlek
Tradisi perayaan Imlek dilakukan
oleh umat Konghuchu (sebagian
besar dianut oleh warga keturunan
Cina/Tionghoa). Imlek adalah
pergantian tahun menurut kalender
Cina, yang dimaksud ialah pergantian
dari musim dingin ke musim
semi. Dalam tradisi dan kepercayaan
mereka, Imlek juga berkaitan dengan
harapan baru yang lebih baik. Jadi
Imlek tidak sekedar pergantian tahun
namun juga perubahan sikap, pergantian rezeki menuju ke arah kehidupan
yang lebih baik.
Berbagai hal yang berkaitan dengan tradisi perayaan Imlek ialah barongsai,
angpau, kue keranjang, lampion, dan tradisi pay kui (sungkeman).
e. Adat dan Tata Cara Penguburan
Setiap daerah di Indonesia memiliki adat dan tata cara penguburan berbedabeda
yang mempunyai corak dan ragam sendiri-sendiri. Hal ini wajar mengingat
bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa dengan adat-istiadat
yang berbeda pula.
Ada berbagai cara penguburan misalnya jenazah harus dibakar (kremasi),
dibiarkan hancur di alam terbuka, disimpan di gua atau disimpan di bangunan
khusus. Ada yang menentukan jenazah harus segera dikuburkan pada hari
kematian, yang diyakini di kalangan pemeluk agama Islam. Ada juga yang
mengharuskan orang menanti berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum
jenazah dikuburkan dalam hal ini upacara penguburan terdapat beberapa tahap.
Sambil menunggu tahapan upacara berikutnya jenazah disimpan dalam ruangan
khusus. Dalam upacara itu biasanya disertai dengan pengorbanan sejumlah
hewan ternak sesuai dengan tingkat sosial ekonomi pada masyarakatnya. Adat
penguburan seperti ini dikenal pada suku Nias, Batak, Sumba, dan Toraja.

Dalam masyarakat Jawa yang sebagian besar beragama Islam upacara adat
kematian dan penguburan masih diwarnai oleh tata cara Hindhu, Buddha atau
kejawen. Sebagian penduduk yang menganut ajaran Islam Muhammadiyah
menghilangkan tata upacara selain yang diajarkan dalam agama Islam. Namun
secara umum tradisi yang berupa campuran berbagai tata upacara itu masih
berlaku.
Seperti halnya kelahiran dan perkawinan, pada kematian pun tata cara ini
diikuti dengan rangkaian selamatan. Rangkaian upacara tersebut adalah
selamatan pada hari kematian yang disebut hari geblak, selanjutnya diadakan
selamatan pada hari ketiga, seratus sampai hari ke seribu (nyewu).
Bagi masyarakat Bali yang sebagian besar menganut agama Hindu adat
upacara kematian dan penguburan sangat dipengaruhi agama Hindu. Upacara
kematian didasari oleh kepercayaan bahwa manusia yang mati dapat menitis
kembali. Untuk mempercepat kesempurnaan jazad orang yang meninggal,
jenazah harus dibakar. Upacara pembakaran mayat tersebut dinamakan Ngaben.
Setelah pembakaran selesai, abu mayat dihanyutkan dalam sungai atau laut,
sedangkan bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah juga melakukan
upacara pembakaran mayat yang dikenal dengan sebutan Tiwah.
f. Adat Perkawinan
Pada dasarnya adat perkawinan suku di Indonesia bertolak dari anggapan
masyarakat bahwa perkawinan adalah suatu hal yang luhur, bukan sekedar ikatan
antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, tetapi merupakan proses
menyatukan dua keluarga, dan istilah orang Jawa disebut kadang katut. Upacara
perkawinan dilakukan dengan cara gotong royong. Semua keluarga ikut memberikan
sumbangan demi terselenggaranya upacara perkawinan itu, demikian
juga para tetangga dan kenalan lain.
Upacara perkawinan biasanya dilakukan secara terbuka, yang dihadiri para
undangan dengan maksud untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa
kedua pengantin telah sah menjadi suami istri. Adat dan upacara perkawinan
pada umumnya diawali dengan tahap perkenalan dilanjutkan dengan meminang.
Setelah itu, menentukan hari yang baik untuk melangsungkan perkawinan.

Hampir semua urutan upacara adat perkawinan mengandung pemikiran
filsafat dan perlambang tertentu. Oleh karena itu, kalau ada bagian upacara yang
tidak dapat diselenggarakan, maka harus ada syarat yang menjadi penggantinya.
Hal tersebut dimaksudkan agar kedua mempelai terlindung dari marabahaya.
Adat perkawinan di Indonesia banyak sekali ragamnya, setiap suku
mempunyai adat perkawinan sesuai dengan agama dan tradisi upacara yang
ada di daerah masing-masing, antara lain sebagai berikut.
1) Adat perkawinan Suku Batak
Pada masyarakat Batak ada ketentuan seorang pemuda dalam memilih
calon istrinya, dianggap ideal apabila menikah dengan anak perempuan
dari saudara laki-laki ibunya. Mereka tidak boleh mengadakan perkawinan
dalam satu marga atau mengambil anak perempuan dari saudara
perempuan ayah untuk dijadikan istri.
Proses perkawinan dimulai dengan penjajakan tidak resmi antara
keluarga pria terhadap keluarga wanita. Setelah ada kecocokan pihak lakilaki
melamar dengan mengirimkan utusan untuk marhusip atau mungkuni.
Apabila keluarga wanita menerima marhusip itu, tahap berikutnya adalah
ngembah manuk, yaitu perundingan antara dua keluarga guna menentukan
mas kawin atau tukur/tuhor. Mas kawin ini dapat berupa perhiasan dan
dapat pula berbentuk babi atau kerbau.
Ditentukan pula berapa jumlah harta yang akan diterima oleh saudara
laki-laki ibu gadis. Ini disebut tulang, upa atau bere-bere. Juga ditentukan
jumlah harta yang akan diterima oleh saudara nenek si gadis dari pihak ibu
(perempuan). Masih banyak lagi kewajiban pemberian harta dari pihak
keluarga calon pengantin pria kepada keluarga pihak si gadis. Semua
dilakukan dengan perundingan dan pembicaraan terakhir, yaitu menentukan
perkawinan yang akan dilaksanakan.
Upacara perkawinan umumnya dilakukan secara meriah dengan
berbagai nyayian dan tarian serta pemotongan kerbau atau beberapa ekor
babi untuk keperluan pesta. Adat Batak juga mengenal adanya kawin lari
yang disebut mangalua. Jika kawin lari terpaksa dilakukan dalam tempo 1
hari 1 malam harus ada utusan dari pihak keluarga laki-laki yang datang
pada orang tua si gadis untuk melaporkannya. Selang beberapa waktu
kemudian, apabila diperkirakan keluarga pihak wanita sudah mulai reda
marahnya di adakan upacara manuruk-nuruk sebagai cara minta maaf. Kawin
lari pada suku Batak boleh dipestakan sesudah upacara permintaan maaf.
2) Adat perkawinan di Aceh
Pada masyarakat Aceh dalam mencari jodoh dipertimbangkan soal
keserasian dan keseimbangan kedudukan antara keluarga pihak pria dan
wanita. Kalau keluarga dan pemuda sudah menetapkan gadis pilihannya,
maka diutus seorang seulangke (utusan) untuk menemui keluarga pihak

wanita. Apabila lamarannya diterima saulangke dibekali dengan kongnarit
(berbagai perhiasan) tanda ikatan untuk diberikan kepada keluarga pihak
wanita.
Seorang seulangke harus mempunyai
kepandaian bicara, luas pengetahuannya,
ramah, dan bijaksana karena merupakan wakil
dari pihak laki-laki. Pada hari perkawinan saat
ijab kabul, pemuda harus menyerahkan mas
kawin yang disebut jeunamee. Besar kecilnya
mas kawin biasanya disesuaikan dengan tinggi
rendahnya si wanita dalam masyarakat.
Setelah perkawinan si pemuda akan
tinggal dengan mertuanya. Selama ia tinggal
bersama mertua, walaupun telah sah menjadi
suami ia tidak mempunyai tanggung jawab
terhadap keluarganya, yang bertanggung jawab
ialah mertuanya sebagai kepala keluarga.
Seorang suami baru memikul tanggung jawab terhadap rumah tangganya
kalau sudah diberi sawah atau rumah oleh mertuanya. Pemberian tersebut
disebut peunulang.
3) Adat perkawinan suku Dayak
Seorang gadis Dayak boleh menikah dengan pemuda suku bangsa lain
asal pemuda itu bersedia dengan tunduk dengan adat Dayak. Pada dasarnya
orang tua suku Dayak berperanan penting dalam memikirkan jodoh bagi
anak mereka, tetapi cukup bijaksana dengan menanyakan terlebih dahulu
pada anaknya apakah ia suka dijodohkan dengan calon yang mereka pilihkan.
Kalau sudah ada kecocokan, ayah si pemuda datang meminang gadis
itu dengan menyerahkan biaya lamaran yang disebut hakumbang Auh. Pada
orang Dayak Ngaju umumnya mas kawin berbentuk uang atau perhiasan.
Mas kawin di kalangan suku Dayak
biasanya tinggi sekali, karena besarnya
mas kawin dianggap sebagai martabat
keluarga wanita.
Upacara perkawinan suku Dayak
sepenuhnya ditanggung oleh keluarga
pihak wanita. Untuk pelaksanaan upacara
perkawinan dipotong beberapa ekor
babi, sedangkan memotong ayam untuk
hidangan dianggap hina. Pada upacara
perkawinan pengantin pria biasanya
menghadiahkan berbagai tanda kena

ngan berupa barang antik kepada abang mempelai wanita. Sebagai
pernyataan terima kasih karena selama ini abang telah mengasuh calon
istrinya. Tanda kenangan yang oleh orang Dayak Ot Danum disebut sapput
itu berupa piring keramik Cina, gong antik, meriam kecil kuno, dan lainlain.
4) Adat perkawinan di Jawa
Suku Jawa mempunyai banyak aturan adat dan tata cara perkawinan.
Adat perkawinan pada suku Jawa dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu
adat pesisiran (adat loran) dan adat pedalaman (adat kidulan). Adat
perkawinan Jawa pesisiran dipengaruhi budaya Arab dan Cina, sedangkan
adat perkawinan Jawa di daerah kidulan sangat dipengaruhi oleh budaya
Hindu, Buddha, dan Kejawen. Selain itu, tata tertib, tata ras, pakaian,
upacara perkawinan di kalangan suku Jawa terutama dipengaruhi oleh adat
Keraton Solo dan Yogyakarta. Hal ini disebabkan pada masa penjajahan,
kedua keraton itulah yang menjadi pusat adat dan panutan budaya upacara.
Pada masyarakat Jawa pertimbangan dalam memilih calon menantu
berdasarkan bibit, bebet, dan bobot. Pertimbangan bibit, bebet, dan bobot
merupakan dasar pertimbangan apakah si calon menantu berasal dari
keluarga baik-baik, berperangai baik, dan berada pada kondisi sosial ekonomi
keluarga yang setara. Kalau perhitungan dari segi ini telah memenuhi
keinginan, hal berikutnya yang dilakukan adalah nontoni, artinya kesempatan
melihat wajah si gadis. Apabila sudah terdapat kecocokan, keluarga pemuda
mengirim utusan untuk mengajukan lamaran dan penyerahan paningset
(tanda ikatan) berupa seperangkat pakaian terdiri atas kebaya/bahannya,
kain batik, selendang, selop, dan juga perhiasan. Upacara memberikan
paningset disebut srah-srahan.
Langkah berikutnya adalah menentukan hari baik dan bulan baik dan
umumnya diserahkan kepada keluarga wanita karena sebagai penyelenggara
upacara perkawinan. Selama menunggu upacara perkawinan, si gadis harus
membatasi pergaulan dengan pria lain karena pada saat itu sudah dalam
keadaan terikat.
Tiga hari menjelang upacara perkawinan, keluarga calon pengantin
pria datang ke rumah orang tua calon pengantin wanita untuk menyerahkan
asak tukon (barang-barang keperluan peralatan perkawinan). Penyerahan
asak tukon ini umumnya dilakukan bersama dengan upacara pasang tarub
(tanda penutup halaman) untuk para undangan. Pemasangan tarub dimulai
dengan memasang bleketepe, yakni semacam tirai terbuat dari anyaman
daun kelapa. Yang memasang bleketepe harus orang tua dari keluarga
pengantin wanita. Upacara pemasangan tarub hampir selalu dilakukan bersama
dengan sesaji tulak udan (sesaji untuk menolak hujan). Sementara itu,
si calon pengantin wanita sejak lima hari atau sepasar sebelum hari
pernikahan sudah harus dipingit. Selama dipingit si gadis harus berpantang

terhadap makanan tertentu. Gadis itu harus minum ramuan jamu-jamu
khusus demi kebahagiaan pada malam pertamanya. Ia tidak boleh makan
umbi mentah, pisang ambon, mentimun, dan mengurangi makan pedas.
Si gadis juga harus selalu mandi dengan lulur serta mangir agar kulitnya
halus dan wangi. Selama lima hari dianjurkan agar tidak tidur sebelum pukul
12 malam dan harus bangun pagi sebelum ayam jantan berkokok. Semua
dilakukan dalam rangka tirakat agar kelak hidupnya mendapat keberuntungan
dan kemuliaan.
Sehari sebelum upacara perkawinan, pengantin wanita dimandikan
dengan air bunga (upacara siraman). Untuk mengguyur air kembang ke
kepala dan tubuh calon pengantin wanita, dipilih tujuh orang tua dari pihak
keluarga wanita. Selama menjalani upacara adat siraman, calon pengantin
itu memakai kain telesan yang dililitkan sampai sebatas dada. Malam harinya
diselenggarakan upacara selamatan yang dihadapi oleh keluarga pihak
wanita dan keluarga calon pengantin pria, juga tetangga terdekat.
Dalam upacara selamatan tersebut calon pengantin wanita dirias oleh
juru rias manten, yakni juru rias merangkap pimpinan upacara temu esok
harinya. Selesai selamatan diadakan upacara midodareni, di mana calon
pengantin putri sudah kelihatan cantik bagaikan bidadari, ia duduk sendirian
di kursi pelaminan. Setelah upacara midodareni selesai pemuda dan kerabat
calon pengantin wanita tetap tinggal untuk mengikuti acara lek-lekan yakni
tidak tidur semalam suntuk dengan membuat hiasan-hiasan janur.
Pada hari perkawinan pagi-pagi sekali calon pengantin wanita sudah
harus mandi keramas dengan londo (air larutan merang dan jerami), sesudah
itu rambut yang masih basah diberi wewangian, lalu diasapi dengan asap
ratus (dupa wangi yang terdapat dari kemenyan dan serbuk kayu gaharu
ditambah beberapa ramuan lain). Selanjutnya calon pengantin wanita dirias
dengan diawali pemotongan rambut sinom (rambut tipis di dahi) beberapa
saat sebelum ijab kabul dilaksanakan. Pengantin pria datang diiringi oleh
kerabatnya, tetapi orang tuanya sendiri tidak boleh hadir. Orang tua pengantin
pria baru boleh hadir kalau upacara ijab kabul dan temu selesai. Ini sebagai
perlambang bahwa seorang pemuda yang berani menikah harus berani
menikah sendiri tanpa ditunggui orang tuanya. Orang tua baru hadir setelah
kedua pengantin didudukkan di pelaminan.
Upacara temu dilaksanakan di pintu masuk ruangan pelaminan. Sebelumnya
kedua pengantin dibekali dengan sadak (gulungan daun sirih yang diikat
dengan benang lawe). Sadak ini harus dilemparkan pada calon istri atau
suami pada saat mereka ketemu dalam upacara panggih. Orang Jawa percaya,
siapa yang paling dahulu melempar sadak akan dominan atau menang
dalam kehidupan rumah tangganya. Kalau yang menang pengantin putri,
anak sulung mereka mungkin sekali perempuan begitu pula sebaliknya.
Pihak yang kalah selama hidup berumah tangga kelak akan selalu mengalah
terhadap pasangannya.

Di pintu upacara panggih dipasang seuntai benang warna-warni yang
disebut lawe. Pengantin pria harus memotong benang itu, lalu menginjakkan
kaki kanannya ke sebuah telur ayam kampung sampai pecah dan pengantin
putri berjongkok membasuhnya dengan air kembang. Ini adalah sebagai
perlambang bakti istri dalam melayani suami. Sesudah itu, pengantin wanita
berdiri mendampingi suaminya, tangan kanan pengantin wanita menggandeng
tangan kiri pengantin pria. Saat itu pula ibu pengantin wanita
menyelimuti punggung kedua pengantin dengan kain sindur atau selindur
dan memegang erat sindur itu di bahu keduanya. Sementara itu, ayah
pengantin wanita berdiri di depan ke dua pengantin. Tangan kanan pengantin
pria dan tangan kanan pengantin wanita memegang ujung beskap sang
bapak, kemudian melangkah perlahan dengan membimbing kedua pengantin
menuju kursi pelaminan. Langkah-langkah mereka diiringi oleh gending
Kodok Ngorek atau Monggang.
Setelah kedua pengantin duduk di pelaminan, barulah orang tua
pengantin pria datang. Kedatangan orang tua pengantin pria ini disebut
dengan besan mertui. Kedatangan mereka disambut kedua orang tua
pengantin wanita dengan diiringi gending Kebo Giro, yakni lagu penghormatan
bagi tamu agung. Setelah mereka duduk, dilakukan upacara
sungkem dimulai dari kedua orang tua pengantin kemudian kerabat lainnya.
Di kiri dan kanan kursi pelaminan diletakkan kembar mayang yang
dibuat dari daun kelapa muda serta beberapa jenis buah-buahan. Ini
perlambang kedua mempelai adalah jejaka dan gadis. Sebelum memasuki
ke peraduan ayah pengantin wanita memberikan keris pertanda pengakuan
sebagai anggota kerabat dari keluarga pihak wanita diberikan kepada
pengantin pria. Keris yang dinamakan kancing gelung itu merupakan tanda
ikatan batin antara mertua dan menantu, tetapi jika kelak terjadi perceraian
si menantu berkewajiban mengembalikan keris itu kepada mertuanya.
Hari kelima setelah upacara perkawinan dilakukan upacara boyongan,
pengantin pria membawa istrinya ke rumah orang tuanya. Sebelum
boyongan dilaksanakan, pihak keluarga wanita membuat jenang sumsum
yang harus dimakan semua orang yang
ikut aktif dalam penyelenggaraan upacara
itu. Menurut kepercayaan orang Jawa,
jenang sumsum ini dapat menghilangkan
rasa lelah dan letih akibat pekerjaan yang
mereka lakukan. Sementara itu, di rumah
orang tua pengantin pria diselenggarakan
persiapan ngunduh mantu, suatu upacara
yang mirip resepsi pengantin masa kini.
Upacara ngunduh mantu tidak selengkap
upacara perkawinan, karena tujuan
utamanya hanyalah memperkenalkan
kedua pengantin kepada pada tetangga
di lingkungan pengantin pria.

5) Adat perkawinan di Minang
Suku Minangkabau mempunyai
sistem kekerabatan yang
menganut garis ibu atau matrilineal.
Adat perkawinan Minangkabau
tidak mengenal mas kawin,
tetapi berupa uang jemputan
(mirip mas kawin) yang diserahkan
oleh keluarga pihak wanita
kepada pihak pria. Besar kecilnya
uang jemputan disesuaikan dengan
kedudukan sosial ekonomi
keluarga pihak laki-laki.
Apabila martabat dan kedudukan
keluarga pria lebih tinggi
(berasal dari keluarga bangsawan), maka setelah upacara dilangsungkan,
pengantin pria hanya mengunjungi istrinya pada malam hari saja. Bahkan
ia tidak berkewajiban memberi uang belanja kepada istrinya. Oleh karena
itu, pada zaman dahulu pria bangsawan beristri banyak untuk menaikkan
derajat sosialnya. Kalau terjadi perceraian, anak dan istri yang ditinggalkan
akan diurus oleh saudara laki-laki dari ibu bekas istrinya. Adat semacam itu
kini sudah banyak ditinggalkan terutama oleh golongan muda. Kebiasaan
merantau pada pemuda Minangkabau membuat mereka mengenal adat
suku bangsa lain sehingga adat Minangkabau yang mereka nilai tidak sesuai
dengan zaman, banyak yang tidak dipakai lagi.
6) Adat perkawinan Irian
Suku Irian memiliki banyak macam
adat dan upacara perkawinan karena
suku itu terbagi atas banyak anak suku.
Namun secara umum perkawinan hampir
serupa dan adat perkawinan orang
Irian termasuk sederhana dibandingkan
dengan daerah lain di Indonesia. Hal
paling penting dalam adat perkawinan
itu adalah perundingan dan pembayaran
mas kawin yang disebut krae. Mas kawin
dapat berupa babi, rangkaian perhiasan
kerang atau manik-manik, hiasan kerang
besar yang disebut sebkos, ikat pinggang dari manik-manik yang disebut
bitem. Dalam perkembangannya mas kawin tersebut sering ditambah
dengan sejumlah uang. Karena mas kawin seperti itu oleh kebanyakan
pemuda Irian Jaya, dianggap berat biasanya mereka mengumpulkannya
dibantu oleh sanak saudara yang lain. Bahkan tidak jarang mas kawin itu
baru dilunasi lama setelah pesta perkawinan berlalu.

Sejak tahun 1930-an banyak suku Irian Jaya yang mengharuskan
diadakan upacara perkawinan gereja setelah upacara adat selesai. Namun,
kalau upacara perkawinan adat sudah diselenggarakan dengan pesta makan
ubi dan potong babi, perkawinan gereja tidak dipestakan. Setelah upacara
itu barulah pengantin laki-laki memboyong istrinya ke rumah orang tua
pihak laki-laki.

 

 

Tentang yulfiarwinto

cool
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Tradisi Sejarah pada Masyarakat Masa Aksara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s