Perkembangan Teknologi dan Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat di Indonesia

1. Perkembangan Teknologi
Kehidupan manusia makin lama makin berkembang, demikian juga
budayanya termasuk teknologinya. Perkembangan teknologi di Indonesia di kenal
dengan masa perundagian. Suatu kemahiran yang baru pada masa perundagian
ialah kepandaian menuang logam. Teknik peleburan logam merupakan suatu
teknik tingkat tinggi, karena untuk melebur logam dan menjadikan suatu alat;
diperlukan cara-cara khusus yang belum dikenal sebelumnya. Logam harus
dipanaskan hingga mencapai titik leburnya, kemudian dicetak menjadi perkakasperkakas
yang diperlukan.
Sementara zaman logam berkembang di Indonesia, kebudayaan batu
tidaklah punah bahkan keduanya berkembang dan tetap dipergunakan. Dalam
perkembangannya kehidupan masyarakat sudah teratur dan telah mengenal
bentuk-bentuk pertama sistem pemerintahan kerajaan (prothotype kerajaan).
Manusia telah mampu menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar atau
Megalitikum (mega=besar; lithos = batu). Kedua kata tersebut berasal dari
Yunani. Yang dimaksud dengan bangunan megalit adalah bangunan-bangunan
yang dibuat dari batu-batu besar dan digunakan dalam hubungannya dengan
kepercayaan zaman pra sejarah.
Bangunan megalit dibuat dari batu-batu besar yang sering harus didatangkan
dari tempat lain sebelum didirikan di suatu tempat yang dipilih. Untuk dapat
melaksanakan hal tersebut tentu telah dikerahkan sejumlah besar tenaga.
Walaupun pengerahan tenaga didasarkan atas asas gotong royong, tetapi tentunya
hanya dapat dilaksanakan jika pembuatan bangunan itu dirasakan cukup
penting oleh masyarakat. Dalam kenyataannya pembuatan bangunan megalit

memang sesuatu yang menyangkut kepentingan seluruh masyarakat yang
membangunnya. Bangunan-bangunan megalit adalah bangunan-bangunan yang
sangat penting pada masa itu. Bangunan itu dibangun untuk kepentingan penghormatan
dan pemujaan nenek moyang mereka.
Hasil-hasil budaya Megalitikum ialah sebagai berikut.
a. Menhir, yaitu tugu dari batu
tunggal. Fungsinya sebagai
tanda peringatan suatu peristiwa
atau sebagai tempat pemujaan
roh nenek moyang. Karena itu
menhir dipuja orang. Menhir
ditemukan di berbagai tempat
di Indonesia, misalnya di
Sumatra Selatan, Sulawesi
Tengah, dan Kalimantan.
b. Dolmen, yaitu meja batu, yang
fungsinya sebagai tempat meletakkan
sajian untuk pemujaan roh nenek moyang. Jadi dianggap sebagai
tempat pemujaan. Kecuali sebagai meja untuk meletakkan sesaji, ada juga
dolmen yang dipergunakan sebagai peti
mayat. Bangunan ini oleh penduduk
disebut: “makam Cina”. Pada temuan
dolmen ini terdapat tulang-tulang manusia.
Kecuali itu, juga ditemukan bendabenda
lain seperti periuk, gigi binatang,
porselin dan pahat dari besi. Bendabenda
itu dianggap sebagai bekal bagi
yang meninggal di dunia baru. Dolmen
banyak ditemukan di Jawa Timur, terutama
di daerah Bondowoso.
c. Sarkofagus atau keranda yaitu peti batu besar bentuknya seperti palung/lesung dan diberi
tutup. Fungsinya sebagai kuburan atau peti mayat. Di dalamnya ditemukan tulangtulang
manusia bersama bekal kuburnya. Bekal kubur ini berupa periuk-periuk, beliung persegi
dan perhiasan dan juga benda-benda perunggu dan besi. Daerah temuan yang paling banyak ialah Bali. Hampir di setiap desa
ditemukan Sarkofagus. Di Bali, sampai sekarang Sarkofagus masih dianggap
keramat dan dianggap mengandung suatu kekuatan magis.

d. Kubur Batu, yaitu kuburan dalam tanah dimana sisi samping, alas, dan
tutupnya diberi semacam papan-papan dari batu. Fungsinya untuk
mengubur mayat. Hanya bentuknya berbeda dengan dolmen dan
Sarkofagus. Dolmen dan Sarkofagus dibuat dari batu utuh yang kemudian
dibuat peti. Sedangkan kubur batu dibuat dari lempengan batu, yang disusun
menjadi peti. Kubur batu ini banyak ditemukan di daerah Kuningan, Jawa
Barat.

e. Punden Berundak-undak, yaitu bangunan dari batu yang disusun bertingkat.
Fungsinya sebagai pemujaan roh nenek moyang. Bangunan ini merupakan
prototype (bentuk pendahuluan) dari candi. Punden Berundak antara lain
ditemukan di Lebak Sibedug daerah Banten Selatan.
f. Arca, yaitu bangunan dari batu.
Ada yang berbentuk manusia
dan yang berbentuk binatang
(merupakan perwujudan dari
roh nenek moyang). Arca dari
megalitik bentuknya sangat
sederhana dan kasar. Arca yang
berbentuk manusia umumnya
digambarkan manusia secara
utuh atau setengah badan.
Sedangkan arca-arca yang berbentuk binatang yang digambarkan seperti
gajah, kerbau, harimau dan monyet. Untuk membuat arca dipilih batu yang
bentuknya mirip dengan arca yang akan
dibuat. Jadi, tidak banyak dari bagian
batu itu yang dibuang dan bentuk aslinya
sering-sering masih jelas. Arca itu
banyak ditemukan di daerah Sumatra
Selatan, Lampung, Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Salah satu yang terkenal
ialah Batu Gajah, yaitu sebuah patung
batu besar dengan gambaran seorang
yang sedang menunggang binatang.

Demikianlah berkaitan dengan latar belakang kepercayaan akan
kehidupan di akhirat dan alam pikiran yang mendasarkan pemujaan nenek
moyang, terwujudlah berbagai macam bangunan yang kita sebut hasil-hasil
kebudayaan Megalitikum.
Berkaitan dengan perkembangan
teknologi, dalam kehidupan
masyarakat juga telah
mengenal teknik-teknik pengolahan
logam (perunggu dan
besi). Tempat untuk mengolah
logam dikenal dengan nama perundagian,
dan orang yang ahli
mengerjakannya dikenal dengan
sebutan undagi (tukang). Itulah
sebabnya zaman perundagian
biasa disebut juga zaman kemahiran
teknologi.
Adapun cara pembuatannya ada dua teknik, yaitu :
a. Teknik bivolve, yaitu cetakan yang terdiri
dari dua bagian, kemudian diikat dan ke
dalam rongga dalam cetakan itu dituangkan
perunggu cair. Cetakan tersebut kemudian
dilepas dan jadilah barang yang dicetak.
b. Teknik a cire perdue (membuat model
benda dari lilin). Benda yang akan dicetak
dibuat dari lilin atau sejenisnya, kemudian
dibungkus dengan tanah liat yang diberi
lubang. Setelah itu dibakar, maka lilin akan
meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi
dengan cairan perunggu; sesudah dingin perunggu membeku dan tanah
liat dibuang maka jadilah barang yang dicetak.
Zaman logam dibagi menjadi tiga zaman, yakni:
a. Zaman Tembaga
Pada masa ini manusia sudah mampu mengolah logam tembaga yang
sesuai dengan bentuk-bentuk peralatan yang dibutuhkannya, seperti periuk,
belanga dan sebagainya.
b. Zaman Perunggu
Pada masa ini manusia sudah mampu membuat peralatan dari
perunggu. Perunggu merupakan logam campuran antara tembaga dengan
timah.

c. Zaman Besi
Pada masa ini, alat-alat kehidupan manusia sudah meningkat lagi, disamping
dibuat dari tembaga dan perunggu banyak sudah yang terbuat
dari besi. Manusia telah dapat melebur biji-biji besi dalam bentuk alat-alat
yang sesuai dengan kebutuhannya, seperti mata kapak, mata pisau, tombak,
cangkul dan sebagainya.
Hasil-hasil kebudayaan perunggu di antaranya:
1) Nekara Perunggu
Nekara adalah semacam genderang dari perunggu yang berpinggang
di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup, jadi kira-kira sama dengan
dandang yang ditelungkupkan. Nekara yang ditemukan di Indonesia ada
yang mempunyai ukuran besar dan ukuran kecil. Nekara yang ditemukan
di Pejeng, Bali adalah nekara dalam ukuran besar. Nekara ini bergaris tengah
160 cm dan tinggi 186 cm. Benda ini sekarang disimpan di pura Panataransasih,
Gianyar, Bali. Nekara ini sangat dipuja oleh masyarakat. Tidak semua
orang dan setiap waktu orang bisa melihatnya karena nekara ini dianggap
barang suci, yang hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, yaitu
dengan cara ditabuh untuk memanggil arwah atau roh nenek moyang.
Nekara perunggu banyak ditemukan
di Sumatera, Jawa, Bali, Pulau Sangean
dekat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar, dan
Kepulauan Kei. Di Alor banyak pula
terdapat nekara, tetapi lebih kecil dan ramping
daripada yang ditemukan di lain
tempat. Nekara yang demikian itu, biasa
disebut moko, dan sangat dihargai penduduk
sebagai barang pusaka atau mas
kawin.
Hiasan-hiasan pada nekara itu sangat
indah berupa garis-garis lurus dan
bengkok, pilin-pilin dan gambar
geometris lainnya, binatangbinatang
(burung, gajah, merak,
kuda, rusa), rumah, perahu, orangorang
berburu, tari-tarian, dan
lain-lain. Dari berbagai lukisan
kita mendapat gambaran tentang
penghidupan dan kebudayaan
yang ada pada masa itu.

Pada Nekara dari Sangean ada gambar orang menunggang kuda beserta
pengiringnya, keduanya memakai pakaian Tartar. Gambar-gambar orang
Tartar ini memberi petunjuk akan adanya hubungan dengan daerah
Tiongkok. Pengaruh-pengaruh dari zaman itu kini masih nyata pada seni
hias suku bangsa Dayak dan Ngada (Flores).
Dengan ditemukannya cetakan Nekara yang terbuat dari batu di desa
Manuaba (Bali), maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua Nekara itu
berasal dari luar Indonesia.
2) Kapak Corong
Kapak Corong bentuk bagian tajamnya seperti kapak batu, hanya bagian
tangkainya berbentuk corong. Maka, kapak ini disebut juga Kapak Corong
atau Kapak Sepatu. Kapak corong ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa,
Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, Pulau Selayar dan di Irian dekat Danau
Sentani. Bentuk kapak ini sangat banyak, jenisnya ada yang kecil, ada yang
besar disertai hiasan, ada yang pendek lebar, ada yang bulat, dan ada pula
yang panjang satu sisinya.
Kapak Corong yang memiliki panjang
satu sisi disebut candrasa, bentuknya
sagat indah dan penuh hiasan. Fungsinya
sebagai tanda kebesaran dan alat
upacara keagamaan. Kadang-kadang
kapak tersebut dihiasi gambar-gambar
mata yang oval atau juga dengan ragam
hias garis-garis geometris dan pilin
berganda (double spiral).
3) Bejana Perunggu
Bejana ditemukan di tepi Danau Kerinci dan di Madura bentuknya
seperti periuk, tetapi langsung dan gepeng. Keduanya mempunyai hiasan
yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilinpilin
yang mirif huruf J. Pada Bejana di Madura dihiasi dengan gambar
burung merak dan rusa dalam kotak-kotak segitiga. Selain di Madura dan
Kerinci, Bejana seperti ini juga ditemukan di Pnom Penh (Kamboja), maka
tidak dapat disanksikan lagi bahwa kebudayaan logam di Indonesia memang
termasuk satu golongan dengan kebudayaan logam Asia yang berpusat di
Dongson itu. Itulah sebabnya, zaman perunggu di Indonesia ini lebih dikenal
dengan nama Kebudayaan Dongson.

4) Arca-arca Perunggu
Arca Perunggu yang ditemukan
berupa arca yang menggambarkan
orang yang sedang
menari, berdiri, naik kuda, dan
ada yang sedang memegang
panah. Ada juga yang menggambarkan
binatang antara kuda
dan kerbau, tetapi semua arca
bentuknya kecil-kecil, yaitu
berukuran 5 – 15 cm. Arca tersebut
ditemukan di Bangkinang
(Riau), Lumajang, Bogor, dan
Palembang.
5) Perhiasan Perunggu
Selain Kapak Corong dan
Nekara banyak pula bendabenda
lainnya dari zaman
perunggu yang didapatkan,
sebagian besar berupa barangbarang
perhiasan, seperti
gelang, binggel (gelang kaki),
anting-anting, kalung, dan
cincin. Benda-benda itu ditemukan
di Bogor, Bali, dan
Malang. Banyak perhiasan yang
ditemukan sebagai bekal kubur.
Di samping benda-benda
perunggu, zaman logam juga menghasilkan barang-barang dari besi
meskipun jumlahnya tidak banyak. Jenis barang-barang besi yang dibuat
pada zaman logam antara lain kapak, sabit, pisau, tembilang, pedang,
cangkul dan tongkat.
2. Sistem Kepercayaan
Sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia, maka masyarakat
Indonesia sebelum adanya pengaruh Hindu-Buddha juga telah mempercayai
adanya kekuatan di luar diri mereka. Hal ini juga tidak terlepas dari kehidupan
mereka.
Mereka hidup dari berladang dan bersawah. Dalam mengolah/mengerjakan
ladang atau terutama sawah harus ada kerjasama diantara mereka, seperti gotong
royong membuat parit, membuat pintu air, bahkan mendirikan rumah. Kehidupan

ini hanya dapat berjalan dalam masyarakat yang sudah teratur, yang telah mengetahui
hak dan kewajibannya. Ini berarti telah ada organisasi dan yang menjadi pusat
organisasi ialah desa dan ada aturan-aturan yang harus dipatuhi bersama. Kepentingan
desa berarti kepentingan bersama. Dalam suasana untuk saling memahami,
saling menghargai, tolong menolong dan bertanggung jawab, maka muncullah
faktor baru, yakni pemimpin (ketua desa/datuk). Yang memegang pimpinan adalah
ketua adat, yang dianggap memiliki kelebihan dari yang lain. Ia harus melindungi
anggotanya dari serangan kelompok lain, atau ancaman binatang buas sehingga
tercipta kemakmuran, kesejahteraan dan ketentraman. Pemimpin bekerja untuk
kepentingan seluruh desa, maka masyarakat berhutang budi kepada pemimpinnya.
Sifat kerja sama antara rakyat dan pemimpinnya membentuk persatuan yang kuat,
memunculkan kepercayaan, yakni memuja roh nenek moyang, memuja roh jahat
dan roh baik bahkan mereka percaya bahwa tiap-tiap benda memiliki roh. Dengan
demikian muncullah Animisme, Dinamisme, dan Totemisme.
a. Animisme
Setiap benda baik hidup maupun mati mempunyai roh atau jiwa. Roh
itu mempunyai kekuatan gaib yang disebut mana. Roh atau jiwa itu pada
manusia disebut nyawa. Nyawa itu dapat berpindah-pindah dan mempunyai
kekuatan gaib. Oleh karena itu, nyawa dapat hidup di luar badan manusia.
Nyawa dapat meninggalkan badan manusia pada waktu tidur dan dapat
berjalan kemana-mana (itulah merupakan mimpi). Akan tetapi apabila
manusia itu mati, maka roh tersebut meninggalkan badan untuk selamalamanya.
Roh yang meninggalkan badan manusia untuk selama-lamanya itu
disebut arwah. Menurut kepercayaan, arwah tersebut hidup terus di negeri
arwah serupa dengan hidup manusia. Mereka dianggap pula dapat berdiam
di dalam kubur, sehingga mereka ditakuti. Bagi arwah orang-orang terkemuka
seperti kepala suku, kyai, pendeta, dukun, dan sebagainya itu dianggap
suci. Oleh karena itu, mereka dihormati; demikian pula nenek
moyang kita. Dengan demikian timbullah kepercayaan yang memuja arwah
dari nenek moyang yang disebut Animisme.
Karena arwah itu tinggal di dunia arwah (kahyangan) yang letaknya di
atas gunung, maka tempat pemujaan arwah pada zaman Megalitikum, juga
dibangun di atas gunung/bukit. Demikian pula pada zaman pengaruh
Hindu/Buddha, candi sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang atau
dewa dibangun diatas gunung/bukit. Sebab menurut kepercayaan Hindu
bahwa tempat yang tinggi adalah tempat bersemayamnya para dewa,
sehingga gambaran gunung di Indonesia (Jawa khususnya) merupakan
gambaran gunung Mahameru di India. Pengaruh ini masih berlanjut juga
pada masa kerajaan Islam, di mana para raja jika meninggal di makamkan
di tempat-tempat yang tinggi, seperti raja-raja Yogyakarta di Imogiri dan
raja-raja Surakarta di Mengadek. Hubungannya dengan arwah tersebut tidak

diputuskan melainkan justru dipelihara sebaik-baiknya dengan mengadakan
upacara-upacara selamatan tertentu. Oleh karena itu, agar hubungannya
dengan arwah nenek moyang terpelihara dengan baik, maka dibuatlah
patung-patung nenek moyang untuk pemujaan.
b. Dinamisme
Istilah dinamisme berasal dari kata dinamo artinya kekuatan. Dinamisme
adalah paham/kepercayaan bahwa pada benda-benda tertentu baik benda
hidup atau mati bahkan juga benda-benda ciptaan (seperti tombak dan keris)
mempunyai kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci. Benda suci itu mempunyai
sifat yang luar biasa (karena kebaikan atau keburukannya) sehingga
dapat memancarkan pengaruh baik atau buruk kepada manusia dan dunia
sekitarnya. Dengan demikian, di dalam masyarakat terdapat orang, binatang,
tumbuh-tumbuhan, benda-benda, dan sebagainya yang dianggap mempunyai
pengaruh baik dan buruk dan ada pula yang tidak.
Benda-benda yang berisi mana disebut fetisyen yang berarti benda sihir.
Benda-benda yang dinggap suci ini, misalnya pusaka, lambang kerajaan,
tombak, keris, gamelan, dan sebagainya akan membawa pengaruh baik
bagi masyarakat; misalnya suburnya tanah, hilangnya wabah penyakit, menolak
malapetaka, dan sebagainya. Antara fetisyen dan jimat tidak terdapat
perbedaan yang tegas. Keduanya dapat berpengaruh baik dan buruk tergantung
kepada siapa pengaruh itu hendak ditujukan. Perbedaannya, jika
jimat pada umumnya dipergunakan/dipakai di badan dan bentuknya lebih
kecil dari pada fetisyen. Contohnya, fetisyen panji Kiai Tunggul Wulung
dan Tobak Kiai Plered dari Keraton Yogyakarta.
c. Totemisme
Adanya anggapan bahwa binatang-binatang juga mempunyai roh, itu
disebabkan di antara binatang-binatang itu ada yang lebih kuat dari manusia,
misalnya gajah , harimau, buaya, dan ada pula yang larinya lebih cepat dari
manusia. Pendeknya, banyak yang mempunyai kelebihan-kelebihan dibandingkan
dengan manusia sehingga ada perasaan takut atau juga menghargai
binatang-binatang tersebut. Sebaliknya, banyak pula binatang yang
bermanfaat bagi manusia, seperti kerbau, sapi, kambing, dan sebagainya.
Dengan demikian, hubungan antara manusia dengan hewan dapat berupa
hubungan permusuhan berdasarkan takut-menakuti dan ada pula hubungan
baik, hubungan persahabatan bahkan hubungan keturunan (totemisme). Itulah
sebabnya pada bangsa-bangsa di dunia terdapat kebiasaan menghormati
binatang-binatang tertentu untuk dipuja dan dianggapnya seketurunan.

 

Tentang yulfiarwinto

cool
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s